Cak Nun Salah, Jokowi Bukan Firaun karena Firaun Tidak Setuju UU Cipta Kerja

Cak Nun, membandingkan Firaun dengan Jokowi itu salah. Firaun kok kayaknya masih lebih baik, ya?

Cak Nun Salah, Jokowi Bukan Firaun karena Firaun Tidak Setuju UU Cipta Kerja MOJOK.CO

Ilustrasi Cak Nun Salah, Jokowi Bukan Firaun karena Firaun Tidak Setuju UU Cipta Kerja. (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.CO Meski bengis, Firaun tidak jahat kepada buruh yang membangun piramida. Jadi, Cak Nun salah kalau menyebut Jokowi, yang mengesahkan UU Cipta Kerja, sebagai Firaun.

Emha Ainun Najib, atau yang akrab disapa Cak Nun, menjadi perbincangan publik. Beliau membandingkan Presiden Joko Widodo dengan Firaun, pemimpin yang dalam kitab suci berseberangan dengan Nabi Musa dan menjadi simbol pemimpin jahat. Karena perbandingan ini Cak Nun dikecam, diejek, dan jadi pesakitan karena dianggap berlebihan. Tapi benarkah Jokowi seperti Firaun?

Saya kira Cak Nun salah. Firaun, jika hal ini merujuk pada penguasa Mesir Kuno dalam sejarah yang membangun tiga piramida, maka Jokowi jauh dari sosok seperti itu. Mengapa? Karena berbeda dengan Jokowi yang mengesahkan UU Cipta Kerja yang memberangus banyak hak pekerja.

UU Cipta Kerja sebabkan outsourcing makin meluas

Misalnya, di UU Cipta Kerja, Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) tidak dibatasi periode dan batas waktu kontrak. UU Cipta Kerja tidak mengatur batasan kriteria pekerjaan yang dapat dipekerjakan secara alih daya atau outsourcing.

Dalam UU Cipta Kerja, istirahat bagi pekerja bisa jadi hanya sekali dalam sepekan. Pengusaha tidak mempunyai kewajiban untuk memberikan waktu istirahat selama dua hari kepada pekerja yang telah bekerja selama lima hari dalam sepekan.

Berdasarkan UU Ketenagakerjaan, outsourcing hanya dapat dilakukan jika suatu pekerjaan terlepas dari kegiatan utama atau terlepas dari kegiatan produksi. Sementara itu, UU Cipta Kerja tidak memberikan batasan demikian. Akibatnya, praktik outsourcing diprediksi makin meluas. 

Dalam UU Cipta Kerja, batasan maksimal jam lembur dari tiga jam dalam sehari dan 14 jam dalam sepekan, menjadi empat jam dalam sehari dan 18 jam dalam seminggu. Selain akan berakibat pada kesehatan buruh, besaran upah lembur yang diterima juga tidak akan sebanding. 

Baca halaman selanjutnya….

Firaun tidak jahat kepada pekerja

Firaun, meski dikenal keji dan bengis, tidak sejahat ini pada pekerja. Bahkan kepada mereka yang membangun piramida untuk keluarga kerajaan Mesir Kuno. Lho kok bisa? Bukankah piramid dibangun oleh para budak? Dalam hal ini Jokowi lebih baik dong dalam memperlakukan para pekerja? Sayangnya hal itu adalah mitos. Banyak bukti arkeologis yang menunjukkan pembangunan mega proyek piramida tidak dilakukan oleh budak, melainkan pekerja merdeka.

Pada 1888, teori bahwa piramida dibangun oleh pekerja Mesir yang merdeka dikonfirmasi. Hal ini dibuktikan oleh arkeolog Inggris bernama Flinders Petrie dalam penyelidikannya di kompleks piramida Kerajaan Senwosert II di Ilahun. Petrie menemukan permukiman yang dikelilingi oleh tembok di Kahu. 

Di sana, dia menemukan kota yang direncanakan dengan baik. Lengkap dengan berbagai fasilitas dan barisan rapi rumah bertingkat bata lumpur menyediakan banyak papirus, tembikar, perkakas, pakaian, dan mainan anak-anak. Semua puing-puing kehidupan sehari-hari yang biasanya hilang dari situs Mesir.

Nah, dari sini saja Cak Nun sudah salah kalau menyebut Jokowi itu Firaun. Seharusnya sudah paham, dong.

Pemerintah Indonesia nggak sanggup sediakan rumah layak untuk pekerja

Artinya, berbeda dengan Pemerintah Indonesia, yang kesulitan memberikan rumah layak bagi pekerja, Firaun dalam proses pembangunan piramida menjamin hak pekerjanya dengan sangat layak. Rumah bertembok, kebutuhan rumah tangga, layanan untuk keluarga dan anak-anak, sesuatu yang mungkin bisa jadi lebih baik daripada Indonesia modern.

Dalam ekspedisi arkeologis lain yang dikembangkan pada tahun 2000-an ditemukan ada stempel-stempel nama kuno. Hal ini adalah bukti birokrasi pemerintah Mesir Kuno dalam melacak distribusi makan dan rumah para pekerja dalam skala besar. Tulang hewan yang ditemukan di desa tersebut menunjukkan bahwa para pekerja mendapatkan potongan daging terbaik. 

Lebih dari itu, tim arkeolog juga menemukan adanya toples roti, ratusan dan ribuan jumlahnya. Cukup untuk memberi makan semua pekerja, yang tidur di asrama lebar yang dibangun khusus. Para pekerja ini direkrut dari lahan pertanian, mungkin dari daerah yang jauh di bawah Sungai Nil, dekat Luxor. Budak tidak akan pernah diperlakukan sebaik ini, bahkan lebih baik daripada pekerja sawit atau proyek jalan tol yang ada di Indonesia.

Di sekitar permukiman para pekerja ini juga ditemukan berbagai sisa tulang hewan, gentong makanan, dan grafiti yang menunjukkan mereka diperlakukan layak. Tidak hanya itu, ada pula tablet yang menunjukkan bahwa para pekerja ini dibayar dengan roti dan lima liter bir setiap harinya. Cukup untuk ditukar dengan makanan lain atau memenuhi kebutuhan keluarganya.

Semakin jelas kalau Cak Nun sudah salah kalau menyebut Jokowi itu Firaun. Cak, Firaun saja sangat peduli kepada pekerja, lho.

Pekerja pembangunan piramid dihormati 

Kepala arkeolog Mesir, Zahi Hawass, mengatakan para kuli dan pekerja pembangun piramida diduga juga berasal dari keluarga miskin dari utara dan selatan. Para pekerja ini dihormati karena pekerjaan mereka yang dianggap memuliakan Firaun. Sehingga, saat pekerja ini meninggal saat proses konstruksi, dianugerahi kehormatan untuk dimakamkan di makam dekat piramida suci Firaun mereka. 

Kedekatannya dengan piramida dan cara penguburan yang mulia menunjukkan bahwa pekerja ini nyaris mustahil adalah budak. “Tidak mungkin mereka dikubur dengan begitu terhormat jika mereka adalah budak,” kata Hawas. Meski demikian, makam para pekerja tidak mengandung emas atau barang berharga, yang melindungi mereka dari penjarah makam.

Firaun berikan jaminan yang layak untuk pekerjanya

Perlu kamu ketahui, kehidupan para pekerja ini tidak murah. Bukti-bukti tulang para pekerja menunjukkan mereka memiliki kondisi kerja yang berat. Meski demikian, ada perlindungan hak bagi pekerja, mengingat proses pembangunan satu piramida membutuhkan 30 tahun dengan rata-rata 10.000 orang per harinya.

Jika mereka bekerja tanpa kontrak seperti UU Cipta Kerja yang disahkan Jokowi, dihapus hak cutinya seperti UU Cipta Kerja, di-out source seperti UU Cipta Kerja, membangun piramida tanpa AMDAL UU Cipta Kerja, pasti akan ada protes besar. Saya yakin banget.

Oleh sebab itu, saya tidak setuju dengan Cak Nun yang mengatakan Jokowi itu seperti Firaun. Firaun itu, dengan segala kekejiannya, masih memberikan jaminan hak makan, upah layak, hunian, dan perlindungan lainnya pada para pekerja pembangun piramida. Sesuatu yang dalam UU Cipta Kerja belum bisa dijamin.

BACA JUGA Klarifikasi Cak Nun, Mengaku Kesambet Sebut Jokowi Firaun dan artikel menarik lainnya di rubrik ESAI.

Penulis: Arman Dhani
Editor: Agung Purwandono

Exit mobile version