MOJOK – Sosok Bobby dalam buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans ternyata banyak di sekitar kita. Orang-orang seperti ini menganggap dirinya tidak bersalah, bahkan merasa berhak atau bangga melakukan tindakan kriminal.
Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans bikin media sosial ramai. Setelah membacanya, banyak yang menghujat tokoh Bobby. Wajar. Namun, di balik hujatan itu, saya menangkap ada kebingungan memahami perilaku Bobby.
Ada satu lontaran yang sangat berkesan, sampai saya skrinsyut:
“Please para psikolog tolong bantu jelasin ke kami-kami, kelakuan si Bobby yang di luar nurul itu kira-kira karena dia kenapa? Apa yang membentuk dia sehingga jadi iblis begitu?” – @ayud.ya
Dalam literatur religius, iblis mengandung dua makna: makhluk dunia lain dan crème de la crème kejahatan. Menyandingkan iblis dengan Bobby berarti, di mata banyak orang, kelakuannya sudah tidak lagi berada di ranah manusia.
Justru di situlah masalahnya.
Bobby bukan iblis. Dia manusia seperti kita, yang mungkin sayang ibu dan suka main tebak-tebakan juga.
Ini yang bikin ngeri. Manusia memang bisa setega itu memanipulasi dan mengeksploitasi anak underage, tanpa merasa dirinya monster.
Dalam kehidupan nyata, sosok Bobby di buku Broken Strings Aurelie Moeremans ada banyak di sekitar kita
Realitasnya, Bobby bukan satu-satunya. Sepanjang sejarah, ada banyak kejahatan yang kekejamannya amat mengguncang rasa kemanusiaan publik. Lalu orang buru-buru menyebut pelakunya “monster” atau “iblis”. Barangkali demi merasa aman, bahwa pelaku memang dari dunia lain, bukan dari dunia kita.
Kebetulan, saya dari dulu penasaran dengan cara pikir pelaku kejahatan. Hobi saya baca novel detektif dan kisah para pembunuh berantai. Maka, ketika kuliah S1 di fakultas hukum, saya pilih mendalami kriminologi. Waktu skripsi, saya ambil bidang viktimologi—ilmu tentang korban kejahatan.
Membaca polah Bobby rasanya malah familier. Mirip. Ada benang merahnya dengan banyak pelaku kejahatan lain.
Kriminalitas = hasil pola pikir, bukan penyakit
Dalam teori klasik psikologi forensik dari Samuel Yochelson dan Stanton Samenow, benang merah itu diberi nama criminal personality atau criminal mind.
Di masa mereka, jika ada orang berbuat jahat, publik sering berkomentar, “Dasar orang sakit!” Seolah pelaku kriminal pasti pengidap sakit jiwa. Di sisi lain, psikoanalis tradisional menekankan trauma pengasuhan sebagai penyebab perilaku jahat, sementara sosiolog tradisional menunjuk lingkungan buruk dan kemiskinan sebagai biang kerok.
Setelah ribuan jam meneliti para kriminal, Yochelson menemukan hal mengejutkan: mereka itu waras. Dalam arti, bisa berpikir kalkulatif, rasional, dan strategis. Mereka paham aturan, tahu mana yang benar dan salah secara normatif.
Ketika wawancara diperluas ke keluarga pelaku, ditemukan fakta bahwa banyak kriminal berasal dari keluarga baik-baik. Sebagian memiliki saudara kandung yang tumbuh menjadi warga negara bertanggung jawab.
Kontribusi penting Yochelson & Samenow adalah menunjukkan bahwa perilaku kriminal terutama merupakan hasil dari cara berpikir yang dipenuhi thinking errors. Akalnya berfungsi, tetapi asumsi dan keyakinannya keliru. Alhasil, mereka bisa merasa tidak bersalah melanggar moral dan hukum, bahkan merasa berhak atau bangga melakukannya.
Baca halaman selanjutnya: Orang dengan pola pikir kriminal bisa terlihat baik-baik saja
Orang dengan pola pikir kriminal bisa terlihat baik-baik saja
Thinking errors ini bisa muncul di segala golongan: kaya atau miskin, berpendidikan tinggi atau rendah, religius maupun sekuler. Orang dengan pola pikir kriminal bisa terlihat baik-baik saja di permukaan. Namun, di benaknya mengalir ide-ide antisosial serta hasrat untuk memanipulasi, mengeksploitasi, dan mengontrol orang lain demi kepuasan pribadi.
Dan karena akalnya bekerja, criminal mind mampu merencanakan aksinya agar tidak ketahuan. Tak heran, banyak yang bertahun-tahun lolos dari sanksi sosial atau hukum, bahkan sempat dijadikan figur panutan masyarakat.
Thinking Errors dalam pola pikir kriminal
Dalam tiga jilid buku The Criminal Personality, Yochelson & Samenow menguraikan 52 thinking errors yang konsisten muncul di benak para kriminal. Di sini saya sederhanakan menjadi tujuh.
#1 Good Person Self-Image
Si criminal mind betul-betul percaya dirinya orang baik. Dia selalu mencatat kebaikannya. “Aku ini penyayang hewan.” “Aku tekun beragama.” “Aku berbakti pada orang tua.” Semua ini menguatkan citra diri internalnya sebagai orang baik.
#2 Moral Licensing
Karena merasa telah melakukan banyak “kebaikan”, criminal mind merasa berhak melakukan pelanggaran. Perbuatan baik menjadi lisensi untuk berbuat jahat. Baginya, kebaikan-kebaikan kecil bisa membasuh kejahatannya.
#3 Fragmented Morality (Compartmentalization)
Dunia batin criminal mind seperti lemari dengan banyak laci yang terpisah. Moralitas dan kejahatan bisa ko-eksis di lacinya masing-masing. Itu sebabnya dia bisa rajin berdoa atau membaca kitab suci, sekaligus sangat keji pada korbannya. Baginya, itu tidak kontradiktif. Dia bisa tetap tidur nyenyak setelah berbuat jahat. Tidak ada konflik batin, karena ia mampu memutus diri (cutoff) dari empati dan hati nurani.
#4 Grandiose Self-Concept
Criminal mind menganggap dirinya unik, superior, nomor satu. Dari sini muncul keyakinan, dia berhak mengontrol orang lain. Ibarat catur, orang lain harusnya mau jadi bidak sebab dia lebih tahu, lebih pintar, lebih berpengalaman. Yang tidak mau menuruti dianggap membangkang, sok, atau kurang ajar.
#5 Rules Are for the Weak
Sebagai orang istimewa, criminal mind menganggap dirinya tidak perlu ikut aturan seperti orang biasa. Baginya, orang yang taat aturan itu bodoh, lemah, kuno, atau penakut. Aturan diikuti hanya jika menguntungkan. Jika merugikan, langgar dan siasati saja. Banyak kriminal merupakan pembohong kronis (pathological liar). Berbohong terasa biasa saja, bahkan membanggakan. Ketahuan pun bukan aib, melainkan bahan evaluasi strategi: bagaimana agar lain kali lolos.
#6 Victim Stance
Dalam narasi criminal mind, ia tidak pernah melihat dirinya sebagai pelaku. Dialah korban yang disakiti, dikhianati, atau diprovokasi. Penderitaan korban justru terasa pantas dan adil. Korban dianggap cari gara-gara, tidak kooperatif, menggoda, atau minta dikerasi. Bahkan, korbanlah yang seharusnya minta maaf.
#7 Zero State
Yang paling ditakuti criminal mind adalah menjadi “nol”, tidak istimewa, bukan siapa-siapa.
Dia hipersensitif terhadap kritik sekecil apa pun. Kritik dipersepsikan sebagai serangan yang bisa memicunya meledak agresif. Mengaku salah berarti seluruh jati diri sebagai orang hebat akan runtuh. Jika bukti terlalu kuat, ia akan membela diri dengan berkilah khilaf, atau melemparkan kesalahan ke lingkungan maupun korban.
Agar tidak lahir ‘iblis-iblis’ baru seperti Bobby dan korban seperti Aurelie Moeremans
Pola pikir kriminal memang sulit dipahami oleh logika orang nonkriminal. Para kriminal hidup dalam gelembung realitas sendiri. Bagi mereka, thinking errors itulah kebenaran. Orang lainlah yang keliru.
Meyakinkan mereka “kamu salah” sering kali sia-sia. Untuk publik, lebih strategis mengarahkan energi untuk mendukung para korban, seperti Aurelie Mooremans, agar bisa memutus jerat manipulasi dan eksploitasi, serta merebut kembali kendali hidup mereka.
PR lain yang tak kalah penting adalah mendeteksi thinking errors pada anak. Menurut Yochelson & Samenow, tanda-tanda pola pikir antisosial dapat muncul bahkan sejak masa prasekolah dan perlu sedini mungkin dikoreksi.
Rumah dan sekolah menjadi garda terdepan, agar kita berhenti melahirkan “iblis-iblis” baru, yang sebetulnya manusia-manusia biasa seperti kita tapi punya cara pikir antisosial yang terbentuk, diperkuat, dan dibiarkan menetap sejak dini.
Penulis: Ellen Kristi
Editor : Agung Purwandono
BACA JUGA Sisi Gelap Sebuah Pesantren di Tasikmalaya: Mulai dari Pelecehan Seksual Sesama Jenis, Senioritas, Kekerasan, Hingga Senior Memaksa Junior Jadi Kriminal dan catatan menyedihkan lainnya di rubrik ESAI.
