Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Arsip

Pemikiran dr. Soetomo: Partai, Pers, Perpustakaan, Perempuan, dan Pelajar

Redaksi oleh Redaksi
14 April 2022
A A
dr Soetomo, partai perpustakaan, perempuan, pelajar

dr soetomo

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Dalam sejarah pergerakan Indonesia, literatur—dalam hal ini koran dan buku—memiliki keterkaitan erat dengan partai. Tiada literatur tanpa partai, tiada partai tanpa literatur. Karena, para pemanggul partai adalah kaum pembawa obor, penerang, yang berjalan paling depan. 

Nukilan dari esai panjang pendiri Boedi Oetomo dan pegiat Jong Java, dr. Soetomo yang ditulis tahun 1937 ini memvalidasi betapa penting arti perpustakaan, betapa penting arti surat kabar, bagi eksistensi sebuah partai. Paling tidak, partai yang turut serta ia dirikan, Partai Indonesia Raya (Parindra). 

Iklan

Partai, Pers, Perpustakaan, Perempuan, dan Pelajar

Oleh dr. Soetomo

 

 

Pers-Perpustakaan

Pergerakan rakyat seluruhnya, segala perkumpulan kebangsaan dan tiap orang Indonesia yang insyaf harus semuanya berdiri di belakang surat kabar kita dan membangkitkan perpustakaan kita.

Kaum terpelajar kita pada waktu ini oleh karena didikannya, kebiasaannya, dan lambatnya jasmani (malas) amat memar pada kabar-kabar dalam surat kabar dan pembacaan Belanda dengan menyampingkan pers dan bahasanya sendiri.

Dalam hal ini kita harus bercermin kepada Cekoslovakia dan Turki, kita harus mengambil contoh dari bangsa Yahudi, yang menghidupkan kembali bahasa Hibrani, Hebreeusch. Sedangkan bangsa Turki dan Ceko kembali menghormat bahasanya sendiri. 

Tetapi mujur juga bahasa kita ini masih tetap bahasa yang hidup dengan kuat dan suburnya. Hanya kaum terpelajarlah semata-mata yang harus menaruh perhatian kepada bahasa kita, agar supaya surat-surat kabar kita dan majalah-majalah kita dengan sendirinya akan menjadi alat yang biasa (normal) untuk menyampingkan pendapatan umum (publieke opinie) di Indonesia.

Direktur-direktur surat-surat kabar dan journalisten (wartawan) kita dapat menyatakan keadaan yang diharapkan itu dengan jalan menyempurnakan perusahaannya, teristimewa dengan bantu-membantu dan timbang-menimbang, sehingga dengan begitu perusahaan surat kabar itu bukan saja menguntungkan, akan tetapi juga dapat menjadi contoh untuk perusahaan-perusahaan Indonesia lainnya yang modern. 

Keadaan semacam itu harus dicapai supaya surat kabar kita lebih berhak untuk memintakan dan menganjurkan keadaan yang lebih baik dalam perusahaan dan pabrik-pabrik. 

Dengan sungguh-sungguh harus pula diusahakan supaya bahasa interinsulair, bahasa perantaraan antara bangsa-bangsa di kepulauan Indonesia ini, ialah bangsa Indonesia, diakui sebagai bahasa officieel (resmi). Jikalau demikian sudah tentu dengan sendirinya orang-orang asing yang tinggal di sini akan lantas lebih memperhatikan dan lebih suka mempelajarinya dengan rajin bahasa-bahasa kita umumnya. 

Sudah tentu yang demikian itu akan dapat menambah pengertian dan mempelajari perhubungan antara golongan-golongan penduduk yang berada di Indonesia sini. Dan dengan begitu akan terdapatlah suatu perhubungan dalam mana bisa diadakan samenwerking (kerjasama) dengan supel, kerja bersama-sama dengan bagus.

Perempuan

Juga, terhadap pergerakan perempuan harus dipertunjukkan perhatian penuh agar supaya pergerakan itu dihubungkan dengan pekerjaan kita membangun sehingga padanya dapat diserahkan pula beberapa macam pekerjaan sosial seperti: pendirian dan penyelengaraan rumah-rumah piatu, penjagaan pada perempuan-perempuan yang bersalin dan kepada gadis-gadis dan sekolah perawatan rumah tangga.

Iklan

Baca Juga: Perempuan Berdaya dengan Cara yang Tak Selalu Sama Seperti Isi Kepalamu

Sedang dalam lapangan politik, maka pergerakan perempuan itu baiklah menjadi satu bagian dari pergerakan yang ditetapkan dasar-dasarnya dan keterangannya menurut Rencana Persatuan itu.

Dengan bekerja bersama-sama secara lebih rapat dan perhubungan satu dan lainnya yang baik, hingga bisalah diadakan pembagian pekerjaan akan bias tercegahlah terbuangnya kekuatan dan waktu untuk mempertinggi “efisiensi” dalam pekerjaan kita.

Pelajar

Pemuda-pemuda kita yang sedang belajar ialah mereka yang pada kemudian hari akan memegang pimpinan dan pergaulan hidup kita seharusnya pula mendapat tunjangan kita yang bulat.

Mengingat, keadaan-keadaan yang ada sekarang ini dan kekuatan/kelemahan keuangan kita, pun menilik kewajiban yang akan dipikulkan kepada anak-anak dan pemuda-pemuda itu di kemudian hari Nusa dan Bangsa kita, maka adalah suatu kewajiban nasional juga untuk membantu dalam beberapa hal mereka itu selama menempuh pelajaran. 

Istimewa pula mereka yang meneruskan pelajaran di luar negeri. Oleh karena itu, maka fonds (dana-dana) nasional harus pula diperkuatkan agar supaya dapat memberi sokongan kepada pemimpin-pemimpin masyarakat kita di kemudian hari itu selama masih dalam studietijd (masa belajar) mereka yang sukar bagi mereka itu. Agar supaya, mereka di luar tembok sekolah bisalah melihat serta mempelajari pula apa-apa yang besar kepentingannya bagi hari kemudian kita. 

Mereka itu baik di dalam maupun di luar negeri, tetapi di luar negeri istimewa, seolah-olah menjadi wakil-wakil kita. Mereka acapkali diundang untuk berpidato atau mengikuti kursus-kursus dan kongres-kongres akan tetapi sayang benar, meskipun mereka telah melakukan penghematan sebanyak-banyaknya kerapkali mereka kekurangan uang untuk dapat memenuhi kewajiban bagi tanah air mereka itu. 

Maka oleh pemuda-pemuda, pengganti kita di kemudian hari itu, terlebih-lebih karena mereka sudah berjanji dengan sungguh-sungguh, bahwa yang diinginkan oleh mereka itu tidak lain daripada menjadi tempat tanah air kita di negeri-negeri asing itu.

Di negeri-negeri seperti Jepang, Mesir, Turki saya lihat banyak student (pelajar) asing yang dibimbing dan dipimpin oleh guru-guru dan orang-orang yang ternama pula. Oleh karena mereka, ketika datang di negeri asing itu membawa surat-surat perkenalan dan keterangan-keterangan dan pemerintah negeri masing-masing, maka mereka itu disambut dengan baik sekali sebagai tamu-tamu terhormat. 

Akan tetapi tidak demikian keadaan student-studen (pelajar) kita. Mereka itu datang dengan tidak membawa keterangan, sehingga mereka acapkali dipandang dan diperlakukan dengan curiga antara mereka dengan pemerintah di negeri mereka boleh dikatakan tidak ada hubungannya. 

Maka karena itu pula persatuan kita harus memperlihatkan nasib student-studen kita, baik yang belajar di dalam negeri, maupun yang di luar negeri, yang harus hidup dalam keadaan yang lebih sukar. Dan lebih jauh supaya senantiasa berhubungan dengan mereka. 

Dalam pada itu dengan cara begini kita lantas juga dapat mengharap akan mendapat kekuatan-kekuatan yang baik untuk kemudian hari. Maka dari itu adalah juga suatu kesalahan nasional yang besar sekali, apabila anak-anak muda kita itu tidak mendapat penilikan dan perhatian dari pergerakan kebangsaan kita sebagaimana yang saya terangkan tadi secara pendek.

***

Esai ini disampaikan pertama kali dr. Soetomo pada Openbare Receptie Pembukaan Congres Parindra ke-1, 15—16 Mei 1937, Jakarta. Dipublikasikan pertama kali oleh edisi khusus “Congres Nummer” Soera Parindra, Mei 1937, No. 5. Dimuat kembali dengan titel “Pidato pada Kongres Parindra 1” pada Permata Terbenam (tt, 311—335)

 

Penulis : dr. Soetomo

Editor : Agung Purwandono

BACA JUGA Mohammad Yamin: Menggali dan Menafsir Masa Lalu untuk Renaisans Indonesia di rubrik ESAI.

 

Terakhir diperbarui pada 14 April 2022 oleh

Tags: arsipdr.Soetomopartaipelajarperempuanperpustakaanpers
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO
Esai

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan MOJOK.CO
Esai

Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan

14 Juli 2026
Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal MOJOK.CO
Esai

Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal

24 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro MOJOK.CO

Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro

22 Juli 2026
Akhiri Kemitraan Semu, Saatnya Lindungi Hak Ojol melalui Kategori Pekerja Ketiga MOJOK.CO

Akhiri Kemitraan Semu, Saatnya Lindungi Hak Ojol melalui Kategori Pekerja Ketiga

25 Juli 2026
Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026
Pilih jadi tukang cukur rambut rumahan dan barbershop saat teman sebaya kerja di luar negeri. Dicap pemalas tetangga, hidup berkecukupan malam dicurigai MOJOK.CO

Pilih Jadi Tukang Cukur Rumahan saat Teman Kerja di Luar Negeri: Dicap Pemalas Tetangga, Terlihat Berkecukupan Malah Dicurigai

22 Juli 2026
Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.