MOJOK– Tiga orang pengendara motor Honda Astrea hitam, Astrea 800, dan skuter matic Yamaha Aerox mengalami teror, dua meninggal, satu orang wajah rusak kena air keras.
Dalam sejarah Republik, terutama sekali pada seperempat awal abad XXI ini, saya mencatat terdapat tiga penunggang motor legendaris yang dengan segala kisah di baliknya, menjadi karbu mengalirkan tungku energi untuk berkata “TIDAK!” kepada tiga setan jahat.
Ketiga penunggang motor ini, dengan nyali yang dilatih oleh tiap hari percikan api busi menjaga publik agar tetap berisik tanpa mesti gaya-gayaan pakai knalpot blombongan. Berisik tidak harus custom knalpot. Sebab, buzzer dan spion kekuasaan pun tahu knalpot blombongan adalah siasat mereka menguasai layar kaca dan linimasa media sosial dan algoritma video-video semenit.
Penunggang Honda Astrea hitam: Munir Said Thalib
Sejatinya, namanya pendek saja: Munir. Atau, jurnalis semasa menuliskannya dengan “Munir SH”. Yang khas dari Munir adalah kendaraannya saat ia bekerja menjadi pengacara publik probono; menjadi advokat pembela manusia dari segala lapisan tanpa pembatas suku, agama, dan ras yang dijahati setan berseragam ksatria.
Pasangan helm full face seperti ini umumnya motor-motor bermesin besar, seperti Binter atau Honda GL Pro. Tapi, Munir “agak laen”. Ia memasangkan helm “balap” itu dengan Astrea dengan speed “malas lari” yang kalau dipaksa ngegas pol, si motor berontak.
Dalam sebuah wawancara khusus dengan koran ibu kota beroplah paling besar se-Indonesia pada pekan pertama Januari 1999, Munir ditanya perkara “godaan ekonomi”.
Pertanyaan itu tidak biasa karena faktanya, Munir adalah superstar. Majalah berita mingguan Ummat menobatkannya sebagai Man of The Year 1998 mengalahkan sejumlah nama beken seperti Amien Rais dan Abdurrahman Wahid.
Munir tidak datang sebagai pemimpin dari organisasi dengan pengikut besar. Ia hanya pemimpin firma hukum kecil dengan kantor yang (masih) gitu-gitu aja saat esai ini dipublikasikan.
Sudah pemimpin lembaga kecil berstatus nirlaba dengan kantor yang gitu-gitu aja di Ibu Kota, Munir yang menjadi pemimpinnya sehari-harinya menjadi penunggang motor Honda Astrea hitam tua dengan helm yang tidak match.
Tetapi, Munir penunggang motor berkarbu halus dengan jaket kulit tua yang menjadi kerikil dalam sepatu pasukan khusus terbaik Republik. Tidak sekadar kerikil kecil, Munir adalah kerikil tajam dalam sepatu pemimpin tertinggi pasukan elite Angkatan Darat bernama Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Munir adalah mimpi buruk karier sang rising star Prabowo Subianto yang sudah hampir dipastikan menjadi pemimpin tertinggi institusi militer di tahun-tahun ketika Munir menjelajahi aspal Jakarta dengan motor bebek tua.
Baca saja profil Prabowo: selepas komandan Kopassus, ia langsung ditunjuk memimpin Kostrad di bulan Maret 1998. Persis di bulan dan tahun yang sama Munir, sosok lelaki kurus cungkring, pendek, berambut dan berkumis kemerahan, mendirikan lembaga kecil dengan nama KontraS yang berarti pembeda.
Munir seperti mengirim pesan bahwa ia berbeda dengan Prabowo Subianto. Munir mengirim pesan kontras antara sipil dan militer itu harus diperjelas; wewenang dan gugus tugasnya pun harus hitam-putih, nggak boleh abu-abu, gak boleh dwifungsi, nggak boleh multifungsi.
Tidak seperti anak motor vintage yang biasa atau geng motor bebek yang pada malam tertentu berkumpul dan menjejerkan motor mereka bermesin yang sama dengan standar ganda.
Motor Munir diparkir dengan “standar satu”. Sejarah hidup yang dipilihnya dengan sadar membuatnya mencopot dan membuang “standar ganda”. Ia tidak mau hidup di dua alam yang saling memunggungi. Menjadikan profesi advokasinya sebagai jalan memperkaya diri.
Munir dan godaan ekonomi
Ia bukan perisai hukum bagi firma-firma maupun maatschappij. Munir dan lembaganya adalah selimut hangat bagi keluarga yang terluka luar-dalam oleh setan-setan yang tiap hari memanggul “toys” mematikan bernama bedil.
Pilihan jenis guardian hukum seperti inilah yang membuat frase “godaan ekonomi” menjadi pertanyaan paling eksistensial. Seorang superstar dengan outfit tak ubahnya pencari rosok yang hilir mudik di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, adalah ironi yang bikin ngilu hati.
Jiwa yang tipis pastilah meronta-ronta; paling tidak segera membuang jaket kulit hitam tua yang salah sandang itu, motor tua najis bagi aspal bunderan HI yang high class itu, dan bersegera mencampakkan helm full face yang kaca mikanya sudah blur itu ke Pasar Hitam Jatinegara.
Tapi, dengarkan jawaban Munir yang saya kutipkan secara verbatim dalam dua paragraf:
“Godaan ekonomi itu saya melihatnya ada simpati masyarakat yang melihatnya secara tidak tepat. Misalnya, orang melihat saya ini kok tidak pantas menggunakan sepeda motor.
Sebetulnya kalau saya terima juga bisa, tanpa konsesi apa-apa. tetapi justru lebih banyak orang yang menunggu untuk memaki-mami, kalau saya menerima itu. Saya sadar benar tentang itu.
Setiap perubahan diri kita akan diamati orang sangat besar. Jadi, sensitif, meskipun banyak orang bersimpati, ada yang menawari rumah gratis, ada dealer mobil yang menawari mobilnya dengan harga yang terserah saya menentukan, seribu rupiah pun tidak apa-apa asal ada syarat jual beli.
“Saya tidak mau menerima karena itu nanti menjadikan bias terhadap saya dan tim. Saya merasa harus menjaga moralitas tim. Kalau moralitas timnya kacau, disorientasi menguber yang begitu-begituan, hancur organisasi ini.
Termasuk penghargaan-penghargaan ini, sama mewahnya dengan hal yang bersifat materiil itu. Makanya, saya lebih senang kalau yang dihadiahi itu KontraS daripada saya sendiri”. (Kompas, Minggu, 3 Januari 1999, hlm. 2)
Garis bawahi istilah yang dipakai Munir ini: “bias”. Dari atas sadel motor bebeknya yang barangkali memalukan bagi para advokat Jakarta, Munir dan KontraS mengajarkan sikap hidup dengan “standar tunggal”.
Dari puncak mercusuar paling sunyi di pulau terpencil dengan lampu kecil berkedip-kedip seperti laron, Munir memberitahu garis tebal integritas yang tak boleh digeser-geser.
Di atas sadel motor tua Honda Astrea di jalanan Ibu Kota, Munir men-declare kepada semua jenis setan dengan uniform bernama macam-macam: semua orang bisa semau-maumu kamu suap dan beli, tapi tidak dengan “saya” dan “tim saya” (KontraS).
Karakter-karakter seperti Prabowo Subianto, jenderal yang terkenal royal memelihara loyalitas dengan uang dan bea (siswa), menempatkan sosok seperti Munir ini adalah kerikil yang berubah menjadi batu sandungan.
Mal Cijantung yang masih beroperasi sampai hari ini di muka markas besar Kopassus adalah monumen Prabowo Subianto sebagai seorang komandan. Menyekolahkan aktivis-aktivis radikal yang kanan maupun kiri dengan beasiswa adalah gaya Prabowo Subianto dan segera menemukan kontrasnya pada diri Munir dan KontraS.
Munir bukan aktivis biasa. Motor bebeknya bukan simbol kemiskinannya, tetapi caranya menilai apa itu “bias” dan bagaimana menakar kemampuan diri dengan ketakutan atas ketaklukan pada “gaya hidup” yang didesakkan dari dunia eksternal.
Ketakutan ada dua. Pertama, takut dengan setan ber-toys bedil kalau-kalau bedil itu diarahkan moncongnya tepat di titik sasaran mematikan. Kedua, takut dengan anggapan dan predikat “aktivis faqir” yang karena itu mengambil dan melahap apa saja yang disodorkan di atas benepaw stainless steel dengan satu semangat: raup mumpung ada kesempatan.
Dari kerikil kecil, Munir berubah menjadi batu sandungan. Bukan saja menjadi mimpi buruk buat perwira tinggi berkepribadian seperti Prabowo Subianto yang menyandung bintang kecemerlangannya pada suatu masa, Munir juga menjadi kerikil jumrah yang membiak banyak untuk para jenderal korup, kaya raya, dan psikopat.
Penunggang Honda Astrea 800: Lambang Babar Purnomo
Mungkin, nama ini, “Lambang Babar Purnomo”, terasa asing dalam algoritma informasi kita. Tapi, tidak dengan setan-setan dunia kepurbakalaan. Lambang adalah Munir-nya di dunia arkeologi. Serupa dengan Munir, ia terbunuh secara tragis tiga purnama jelang satu abad Hari Kebangkitan Nasional.
Salah satu institusi media yang paling serius memperhatikan Lambang dan ganjilnya cerita kematiannya adalah Tempo. Majalah bertitimangsa 5 Oktober 2008 atau 8 purnama setelah hari kematian dengan judul cover story “Sufi Kota Mencari Tuhan”, cerita Lambang mengambil jatah 13 halaman; dari halaman 55 sampai 69.
Bandingkan dengan institusi di mana Lambang Babar Purnomo menjadi anggota resmi akademianya, Universitas Gadjah Mada (UGM). Di media atau portal resmi UGM, https://ugm.ac.id/, bahkan nama “Lambang Babar Purnomo” tidak terinput satu pun. Dengan cara yang sama, saya mengetik dengan frase “Hashim Djojohadikusumo”. Hasilnya, media ofisial UGM itu merekamnya. Bukan hanya satu, tetapi beberapa.
Jika Lambang adalah bagian dari keluarga UGM, betapa minor dan sungsangnya hubungan keduanya. Tak ada profil akademis Lambang Babar Purnama.
Begitulah, bila Lambang adalah bagian dari kampus Bulaksumur. Nasibnya seperti apa yang terjadi di portal kampus itu. Suatu institusi pendidikan arkeologi bergengsi di mana Lambang Babar Purnomo menghikmati diri menerima lungsuran pengetahuan dari masa lalu yang sangat jauh. Melalui semesta arkeologi, Lambang menyerap pengetahuan tentang dunia arkaik dan kuno.
Bayangkan saja, judul skripsi Lambang di UGM yang bertarikh 1984 justru saya temukan dari blog partikelir; jauh dari rumah informasi yang sifatnya officially. Sepotong informasi skripsi “Kasine, Situs Kubur dan Situs Pemujaan Masa Perundagian” menunjukkan keahlian Lambang Babar dalam jagad purbakala di periode seperti apa.
Masa perundagian yang dimaksud di judul skripsinya itu adalah masa di mana logam memasuki alam peradaban kita.
Di dunia arkeologi, Lambang Babar adalah mata laser benda purbakala. Retina mata Lambang adalah mesin pemindai yang sangat diandalkan. Hanya dengan mata telanjangnya yang terlatih puluhan tahun, ia tahu identitas dari benda yang tergeletak di depannya berstatus apa. Asli apa palsu. Kalau asli, dari mana asal, berapa usia, dan tersimpan di museum mana.
Saat kepolisian sedang giat-giatnya mengungkap pencurian dan pemalsuan benda purbakala di Solo, Lambang diminta sebagai mata pemindai operasi. Di rumah Hashim Djojohadikusumo ditemukan separuh arca-arca yang hilang dari Museum Radya Pustaka itu.
Ternyata, arca-arca itu datang dari makelar Hugo E. Kreijger dari balai lelang Christie di Amsterdam. Arca yang dibeli Hugo itu dipasok bangsawan Surakarta bernama Kanjeng Raden Tumenggung Heru Suryanto.
Nah, saat mengambil arca abad 4 sampai 10 itulah, mata pemindai Lambang menangkap fosil gading purba dan 21 arca yang tidak ada dokumennya di salah satu sudut ruangan rumah Hashim.
Dengan mata yang demikian itu Lambang boleh kita sebut sebagai kamus dan katalog yang beroperasi di kawasan dengan peninggalan benda masa silamnya terbanyak di seluruh Indonesia: Jawa bagian tengah dan timur.
Mestinya, dengan keahlian dan talenta seperti ini, Lambang adalah hero insitusi pendidikan semacam UGM. Tapi, fakta berbicara lain.
Lambang justru adalah aib bagi pihak-pihak yang terbiasa menyelesaikan segala soal dengan uang. Karena aib, menyebut namanya sekali pun adalah perbuatan laknat dan terkutuk.
Lambang, Honda Astrea 800, dan helm cakil di selokan
Sepulang dari rumah Hashim di Jakarta itulah teror terus membututi Lambang. Sepurnama kemudian, terjadilah malapetaka subuh, seperti paragraf ketiga laporan investigasi pertama berjudul “Lambang dalam Pusaran Mafia Purbakala” di majalah mingguan Tempo:
“Dua jam kemudian, orang berkerumun di depan rumah sekaligus kantor agen perjalanan PT Dewata Lintas Nusantara itu. Polisi tampak sibuk. Beberapa orang mengangkat sepeda motor Honda Astrea 800 dari selokan. Juga seonggok tubuh lelaki separuh baya dengan darah membanjir dari balik helm cakil di kepalanya. Polisi memastikan si mati adalah Lambang Babar Purnomo”.
Lambang, motor bebek Honda Astrea 800, dan helm cakil yang bersatu dalam selokan di Ring Road Utara Yogyakarta itu menggambarkan satu hal; mestinya itu semua tidak terjadi bila Lambang Babar tidak memilih hidup zuhud di atas sadel motor tuanya.
Dunia purbakala itu merupakan dunia bisnis dengan perputaran uang yang luar biasa besarnya. Bagi mereka yang mengikuti secara saksama dunia yang dicintai hidup mati Lambang Babar ini, ini semesta di mana Anda bisa memiliki segala kemewahan hidup. Sebuah dunia dari mana metafora “harta karun” dikenal.
Karun adalah nama pralambang sosok masa silam yang kitab suci menabalkannya sebagai manusia kaya dari masa Nabi Musa dan Israel, “Qarun”. Tapi, karun juga, saat dilekatkan kata “harta” di depannya menjadi benda-benda purbakala bervaluasi luar biasa tingginya.
Lambang Babar berada pada dua pilihan: menjadi ilmuwan sekaligus guardian (baca: aktivis purbakala) bagi “harta karun” negara atau runner/makelar “harta karun” yang melayani rasa haus yang tak habis-habis para baron kaya raya atas segala benda kuno yang bernilai tinggi yang datang dari masa silam berabad-abad lamanya.
Jika Lambang memilih yang kedua, tentu tak ada dua kalimat ini dalam memoar Lambang Babar Purnomo: “Beberapa orang mengangkat sepeda motor Honda Astrea 800 dari selokan. Juga seonggok tubuh lelaki separuh baya dengan darah membanjir dari balik helm cakil di kepalanya”.
Ia memilih yang pertama. Menjadi pengamal garis keras ilmu arkeologi yang diperolehnya dari kampus tercintanya—semoga pernyataan ini benar—sebuah kampus bernama Universitas Gadjah Mada (UGM).
Motor Honda Astrea dan helm cakil adalah definisi material dari informasi ber-kata sifat saat situs berita Kompas mendefinisikan life style Lambang Babar di hari-hari ia terbunuh: “sosok yang sederhana, yang selalu tampil dengan penampilan yang bersahaja”.
Bagi runner, makelar penyuplai benda-benda purbakala, sosok berpenampilan sederhana seperti ini lebih berbahaya dari aparat-aparat penyandang bedil.
Laporan investigasi nomor 4, “Perkenalkan. Indonesia Jones”, tercetak paragraf ini: “Untuk mengangkut barang dari Jember ke Bali, misalnya, sang runner berbekal 15 amplop untuk menyuap polisi di berbagai titik”.
Karena “miskin”, lantaran itu jadi “sosok yang sederhana” dan ber-“penampilan yang bersahaja”, Lambang Babar yang ber-Honda Astrea 800 ini mudah saja diselesaikan dengan cara yang biasa dilakukan runner ketika bekerja.
Runner yang dimaksud dalam paragraf investigasi itu—dalam konteks dunia purbakala—adalah “mafia purbakala yang berada di tengah di antara pemilik barang, galeri, kurator, balai lelang, dan kolektor … bertugas membereskan berbagai kendala di lapangan, menjamin benda kuno sampai di tangan penadah dan kolektor dengan bersih, aman, sentosa. Urusannya terentang dari menyiapkan surat keterangan aspal, kuitansi pembelian, sampai ‘membungkam’ siapa pun yang mengganggu”.
Jadi, dalam bahasa runner, sosok seperti Lambang Babar ini masuk kategori “pengganggu”. Sialnya, dia bukan pengganggu biasa yang bersuara lantang lantaran belum dapat pembagian “jatah preman”. Ia pengganggu yang memilih sepenuh hati menjadi iron dome bagi national treasure.
Di selokan Ring Road Utara Jogja, Lambang tersungkur bersama motor bebek tuanya dengan kepala patah akibat—dalam bahasa investigasi—dipuntir orang misterius di subuh hari. Kata seorang reserse “garis lurus”, “Itu urusan lima menit (mengungkap siapa dan apa pembunuhan Lambang), jika mau.”
Tapi, polisi Sleman yang menangani perkara ini, mengeluarkan kalimat sifat yang pendek sekali: “Kami buntu!” Kalimat sifat dari polisi itu terucap jauh sebelum kemudian nama “Hashim Djojohadikusumo”—disebutkan 12 kali dari 7 laporan investigasi Tempo, termasuk 2 artikel wawancara—tercetak dalam besluit Menteri Kebudayaan No. 78/P/2025 sebagai ketua Dewan Penyantun Museum dan Cagar Budaya.
Di portal situsweb UGM, sekali lagi, nama “Hashim” juga muncul, bukan sebagai dosen, tetapi pendonor pembangunan sebuah gedung “untuk keperluan laboratorium arkeologi”.
Dua paragraf dari UGM ini menandai apa arti kedermawanan, kemuliaan, dan kagunan peradaban bangsa.
“Kami dari Yayasan sudah melihat UGM adalah lembaga pendidikan excellent, khususnya di bidang ilmu budaya. Lembaga pendidikan ilmu budaya masih diperlukan supaya generasi muda tidak lupa budaya nusantara. Ikut mencintai budaya sendiri, ikut melestarikan budaya sendiri. UGM memiliki peran besar untuk tugas dan peranan luar biasa penting itu,” katanya. Hashim menambahkan pembangunan sarana gedung dimulai pada 11 September 2008 dan menghabiskan dana sebesar 13,5 miliar rupiah.
“Bangunan terdiri atas empat lantai dengan luas keseluruhan 3.200 meter persegi. Gedung digunakan untuk keperluan laboratorium arkeologi, ruang kuliah, ruang dosen, dan ruang guru besar. Bangunan baru ini diberi nama gedung R.M. Margono Djojohadikusumo, seorang tokoh yang pernah turut menginspirasi pembangunan Indonesia di masa kemerdekaan, juga pendiri Bank BNI 46, dan yang tidak lain adalah kakek dari Hashim Djojohadikusumo”.
Penunggang skuter matik Yamaha Aerox: Andrie Yunus
Saat Andrie Yunus lahir, Munir SH dari KontraS sedang adu nyali mengungkap fakta, mendorong institusi hukum militer, dan menghimpun gelombang opini publik untuk menyelesaikan perkara penculikan aktivis dan penghilangan paksa warga negara yang dilakukan elite tentara.
Saat Andrie Yunus lahir, Markas Besar Angkatan Darat disibukkan oleh air bah cover story media yang mem-bold nama Panglima Kostrad Letjen TNI Prabowo Subianto sebagai sosok yang bertanggung jawab dalam kasus penculikan tatkala ia masih menjabat sebagai Danjen Kopassus.
Saat Andrie Yunus tepat berusia dua bulan, Dewan Kehormatan Perwira (DKP) memberhentikan mantan Danjen Kopassus Letjen TNI Prabowo Subianto dari dinas kemiliteran. Sementara, dua lainnya, mantan Dan Grup IV/Kopassus Mayjen TNI Muchdi dan Kolonel Inf. Chairawan dibebastugaskan dari semua tugas dan jabatan struktural di institusi militer (ABRI, dulu/TNI, sekarang).
Saat Andrie Yunus berusia nyaris masuk SD, Munir meregang nyawa di langit Rumania yang dalam bahasa dokumen Tim Pencari Fakta (TPF) bentukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, “Pembunuhan Munir dalam Penerbangan GA 974 pada tanggal 7 September 2004 disebabkan oleh permufakatan jahat yang diduga melibatkan pihak-pihak tertentu di lingkungan Garuda dan BIN”.
Kini, Andrie Yunus dari KontraS, di pekan lailatul qadar di bulan suci Ramadan, berhadapan dengan air maut yang dituang ke tubuhnya saat menunggangi motor Yamaha Aerox.
Kamera pengawas merekam kejadian itu secara jelas dan rinci. Andrie Yunus yang membanting skuter matik. Andrie Yunus yang melolong kesakitan yang teramat sangat.
Dengan kamera pengawas publik yang jumlahnya ribuan di banyak titik di jalanan Ibu Kota pula yang kemudian menuntun polisi memberitahu siapa penunggang motor jahat yang membuat Andrie Yunus membanting motornya dan nightmare-nya yang sangat ngilu pada malam itu menerbitkan kemarahan publik yang luar biasa.
Apa yang menimpa Andrie pada 2026, mengingatkan apa yang dialami pendahulunya, Munir, 22 tahun sebelumnya. Nyali Andrie adalah produk dari madrasah KontraS yang diwariskan Munir.
Munir yang menunggang motor untuk mobilisasi tugas pembelaan kemanusiaan, Andrie juga menunggangi motor dalam mobilisasi tugasnya sebagai wakil koordinator Bidang Eksternal di Badan Pekerja KontraS.
Munir mati diracun oleh sebuah operasi permufakatan jahat “yang diduga melibatkan pihak-pihak tertentu di lingkungan Garuda dan BIN”. Andrie disiram air maut yang membakar sepertiga badannya oleh operasi permufakatan jahat yang dilakukan lembaga intelijen tempur Badan Intelijen Strategis (Bais).
Dengan melihat dari mana asal para pelaku yang berencana menghabisi Andrie Yunus itu makin menabalkan satu hal betapa berbahayanya manusia-manusia muda seperti Andrie Yunus, si penunggang Yamaha Aerox yang bernyali. Berbela pati atas nilai-nilai dasar juang yang sudah digariskan Munir dengan cetakan epitaf yang dilukis dengan tinta nyawa sendiri.
Menjadikan Andrie sebagai target operasi jahat oleh lembaga intelijen militer memberitahu publik sesuatu betapa gawatnya isu yang selama ini ditangani KontraS: memperbaiki institusi tentara. KontraS tidak benci tentara, seperti halnya bagaimana Munir memperjuangkan pasal-pasal kemakmuran prajurit di Undang-Undang TNI sejak tapal mula.
Andrie dan KontraS ingin institusi tentara sehat dengan mengawasinya sedemikian rupa agar tidak keluar dari zona yang sangat jauh dari job desk-nya.
Dari atas sadel motor Aerox kuningnya yang terbanting di malam ganjil kedua lailatul qadar, guardian HAM Andrie Yunus ngegas ikhtiar untuk mencegah institusi militer dibawa para jenderal begajulan bermain-main di zona kekuasaan praktis. Andrie dan KontraS tidak pernah surut bersuara, institusi tentara itu alat negara, bukan alat kekuasaan.
Demikianlah hikayat tiga penunggang motor Honda Astrea hitam, Honda Astrea 800, dan Yamaha Aerox. Mati terhormat para penunggang motor yang tahu bagaimana menjalani hidup di aspal hitam kemartabatan. Sembuh serta tegaklah para guardian seperti Andrie Yunus dalam barisan dan “touring” nyali di marka jalan putus-putus. Itu.
Penulis: Muhidin M Dahlan
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA 3 Cara Mendapatkan Uang Banyak untuk Negara: Sebuah Proposal Kontroversial yang Harus Didengarkan Presiden Prabowo dan catatan menarik lainnya di rubrik ESAI.
