• 586
    Shares

MOJOK.CO – Jika diibaratkan seperti sepeda onthel: rangkanya NU, setang dan sedelnya Muhammadiyah, sedangkan kami yang LDII ini cuma stiker buat nutupin cat yang ngelupas aja.

Kemarin, seorang oknum kader Muhammadiyah mengeluhkan ketidakmampuan untuk melucu seperti kebanyakan warga Nahdliyin. Saya cuma mau bilang, “Mending situ cuma dianggap tidak lucu, lah kami ini dianggap nggak lucu, kaku, garis keras, sesat pula. Mantep toh?”

Saya sejak orok udah sah menjadi bagian dari warga LDII. Itu tuh, yang ketika sampeyan coba ngetik empat huruf tersebut di Google, rekomendasi yang kebanyakan muncul adalah bukti kesesatan, mantan yang insaf, alasan untuk menjauhi LDII, dan stereotip negatif lainnya.

Coba bandingkan dengan teman-teman dari Muhammadiyah. Kalau sampeyan di Muhammadiyah masih enak meskipun memiliki jargon “Yang penting Al-Quran Al-Hadis” tapi nggak pernah digosipkan sesat seperti kami. Bisa dibilang, organisasi keagamaan kalian cenderung berkonotasi jauh lebih positif ketimbang kami yang LDII.

Saya yakin, meskipun sampeyan nggak baca doa qunut sampai mengharamkan rokok, sampeyan nggak pernah kan merasa khawatir untuk mengaku sebagai warga Muhammadiyah?

Sedangkan kami yang LDII ini, sejak puluhan tahun silam, sebelum banyak artis hijrah, kami yang umumnya bercelana cingkrang sering mendapat lirikan nyinyir atau senyum sinis dari orang lain.

Dalam hati kecil ini, entah kenapa muncul saja perasaan lebih baik mengaku sebagai nonmuslim sekalian saja daripada ngaku sebagai warga LDII. Bahkan asal sampeyan tahu saja, waktu saya menulis ini pun saya ingin sekali menjadi anonim, karena sampai sekarang pun tidak banyak yang tahu saya warga LDII. Tuh lihat inlander sekali bukan kami ini?

Kami yang menjaga jarak karena bukan muhrim diartikan sebagai sok alim atau sombong. Kami yang dikatakan punya Imam, dianggap punya “Kerajaan Islam” sendiri.

Lah itu, di luar sana bukannya ada juga yang mendaku sebagai Imam Besar. Nggak ada masalah tuh sampai sekarang? Didukung banyak banget orang lagi dan iklaim sampai jutaan.

Baca juga:  Para Perawat Itu

Hal itulah yang bikin saya masih heran, kenapa predikat sebagai umat muslim yang terlalu fanatik cuma dilekatkan pada kening kami doang ya?

Padahal bicara tentang kefanatikan tentu tergantung pada individu masing-masing. Nyatanya saya punya saudara warga Nahdliyin, beliau mewanti-wanti anaknya, menantu yang diterima hanyalah menantu dari kalangan Nahdliyin.

See...? Di luar sana gosip yang beredar, warga LDII dilarang menikah dengan orang di luar LDII, padahal istri saya, keluarga besar istri saya, nyel… orisinil warga NU semua-semuanya bahkan sampai yang belum brojol alias masih dalam kandungan. Dan saya? Enjoy aja tuh nggak ada masalah.

Oke balik lagi, mengenai keluhan nggak bisa melucu sebagai warga Muhammadiyah, mbok ya nggak usah maksa bisa lucu, Mas. Di luar sampean ada kami warga LDII yang jangankan untuk melucu, bisa merasa yakin untuk tidak dirasani saja kami sudah mengucap syukur Alhamdulillah.

Saya sadar bahwa kami terlampau serius, satu sampai dua strip di atas keseriusan warga Muhammadiyah. Kami dinilai cenderung eksklusif, bahkan untuk melucu pun kami eksklusif. Tokoh-tokoh kami tak ada yang muncul ke permukaan untuk menaanggapi isu nasional, kalaupun ada saya yakin tidak ada yang tahu kalau beliau tokoh LDII. Ya maklum, masyarakat kelas dua gitu.

Sampeyan masih beruntung punya Muhammadiyah Garis Lucu meski harus disentil Mas Iqbal Aji Daryono. Walau menurut sampeyan gerakan itu nggak ada lucu-lucunya sama sekali, lah kami? Jangankan garis lucu, yang ada ketika ngetik di Google dengam kata awal LDII, pilihan yang muncul adalah “keras”, “sesat”. Ngaaa~

Muhammadiyah sebagai ormas besar bahkan memberi tanggapan dan seruan kepada warganya terkait “bendera tauhid yang dibakar”.

Sedangkan kami? Boro-boro memberi tanggapan di media, lha wong kami ini dibandingkan NU dan Muhammadiyah jika diibaratkan seperti sepeda onthel, rangkanya NU, setang dan sedelnya Muhammadiyah, sedangkan kami ya cuma stiker untuk nutupin lecet cat yang mengelupas aja kok. Mau ada tanggapan atau nggak ada, Nggak ada efeknya, Bung. Ya maklum, namanya juga minoritas.

Baca juga:  Abah Hasyim dan Kelakarnya

Tapi ada baiknya sampeyan menyimak apa yang pernah disampaikan oleh penulis Gaspar, Mas Dio pas ngisi materi di acara Jambore Mojok beberapa waktu silam. Entah mengutip dari siapa, kira-kira begini, “Membuat orang tertawa adalah serendah-rendahnya komedi.”

Mas Dio juga menceritakan pula bahwa ada seorang yang tampil di atas panggung, kemudian membaca buku di hadapan orang yang menunggu dan berharap akan menyaksikan sebuah acara komedi. Sekali lagi, dia membaca buku di atas panggung di mana penontonnya sedang nunggu buat dibikin ketama. Buset dah, itu di mana letak lucunya coba?

Pola pikir ini yang kemudian saya tangkap sebagai alasan kenapa di organisasi kami cenderung tidak ada kelucuan. Humor cerdas, apalagi menjadi pendengar humor tersebut, itu mudah kok. Asal definisi humor tersebut tidak selalu berarti lucu. Kritikan yang terlampau kritis bisa juga berubah seperti humor. Dalam titik tertentu humor tidak melulu harus berakhir dengan ketawa bahagia, ketawa getir kan juga ada ya kan?

Jadi begini. Bagi kami orang LDII ini, rasan-rasan orang di sekitar kami, kesaksian-kesaksian yang diungkap di media, komentar-komentar ustaz-ustaz di Youtube mengenai kami, dan semua celotehan yang menyudutkan kami itulah komedi yang sesungguhnya. Mereka membuat kami benar-benar tertawa. Alih-alih bersedih karena stereotip tersebut lalu dicurigai sedemikian rupa.

Saya menyaring, mengambil inti sebuah makna dari tulisan almarhum Cak Rusdi Mathari yang sangat saya rindukan, “Anjingkan daku, kau kumonyetkan.”

Maafkan saya Cak Rusdi, saya kok sempat mengartikannya seperti ini…

“Sesatkan aku, kau kukafirkan.”

  • 586
    Shares


Loading...



No more articles