Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Curhat

Bolehkah Menulis Bajingan di Grup WhatsApp Ibu-Ibu?

Arman Dhani oleh Arman Dhani
21 Oktober 2017
A A
curhat
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Curhat

Dear Gus Mul dan Gus Arman,

Iklan

saya ibu rumah tangga penggemar Gus Mul dan seluruh redaksi Mojok. Semua kata mutiara yang saya dapat dari rubrik Curhat saya simpan di buku diari yang ada kunci gemboknya biar nggak diintip sama suami. Jadi, sudah jalannya kalau ketika saya punya masalah, kepada rubrik inilah saya mengadu.

Masalah yang sedang saya alami lumayan pelik, Gus. Dan ini semua gara-gara Gus Mul.

Ceritanya, saya kini tengah ikut grup menulis khusus ibu-ibu. Namun, karena sering membaca tulisan Gus Mul, saya jadi ikut-ikutan mencoba gaya Gus Mul yang kocak, nakal, dan agak bedebah itu.

Namun, rupa-rupanya dan tiada disangka-sangka, tulisan saya mendapat teguran manis, karena mengandung kosa kata yang tidak halus, begitu katanya. Tapi, saya telanjur kecanduan baca curhat di Mojok dan menyukai cara menulis seperti ini.

Menurut hemat Gus Mul dan Gus Arman, apakah saya harus mengubah gaya saya agar menjadi ibu ibu yang seutuhnya?

Salam.

Rian di S.

Jawab

Dear, Mbak Sis, salam pramuka!

Membaca curhatan Mbak, saya jadi ingat betapa kawan-kawan di Mojok selama seminggu terakhir ini diteror perihal bahasa. Gimana nggak, wong terpilihnya Prima sebagai pemred membuat kami mesti jaga mulut, jaga bahasa, apalagi jaga ejaan. Tidak ada lagi itu kami ngomong merubah, harus mengubah. Tidak bisa lagi kami nulis yang sebagai pembuka kalimat, apalagi menulis nama orang pakai huruf kecil. Bisa kena selengkat atau mesti kayang kalau ada Prima.

Soal bahasa ini kadang susah-susah bedebah. Soalnya begini, fungsi bahasa itu kan komunikasi. Kerap kali komunikasi tak patuh ejaan yang disempurnakan apalagi panduan dari Pusat Bahasa. Saat jalan-jalan, ketemu tetangga, ada basa-basi yang sering tidak patuh tata bahasa.

“Lho, Mas, mau ke mana?” kata tetangga saya itu.

Iklan

“Ah, nggak ada, cuma main,” jawab saya.

Nggak ada ini jawaban macam uopo? Kalau ada Ivan Lanin pasti sudah dimarahi. Kamu mau jalan ke ketiadaan? Ke void? Nothingness? Jangan macak filsuf eksistensialis kamu, Arman Dhani!

Nah, kalau begini, jangankan menulis bedebah, menulis bajingan pun jadi salah. Lho ya gimana, orang banyak berpikir bajingan itu umpatan, kata ini pula yang bikin Saut Situmorang dilaporkan ke polisi karena menghina di Facebook. Padahal, kalau mau ditelusuri, bajingan artinya ‘sais pedati’.

Tapi, kayaknya bukan karena soal itu Mbak Sis curhat, ini soal apakah Anda harus mengubah gaya bahasa atau tidak, gitu kan ya?

Jadi gini, bahasa menentukan karakter. Katanya begitu, walau saya sendiri tidak yakin. Soal halusnya bahasa, saya yakin Pak Harto itu presiden yang halus, ngomongnya sopan, tenang, dan santun. Tapi ya gitu, berapa banyak kasus pelanggaran hak asasi manusia yang ia lakukan?

Sementara di sisi lain, Ahok mungkin kurang santun, ia ceplas-ceplos, omongannya kasar. Tapi, 48% pemilih di Jakarta menganggapnya bekerja dengan baik dan bisa dipercaya. Alhasil, bahasa jadi soal perspektif dan gimana kita menempatkan diri.

Mbak Sis saya harap sih tetap menulis bedebah, bajingan, atau apa pun itu. Tapi, mungkin tidak di grup WhatsApp ibu-ibu. Mbak Sis bisa menuliskannya di situs seperti Mojok, dijamin nggak bakal kena sensor.

Mungkin Mbak Sis tidak secara spesifik menulis kata bedebah atau bajingan, bisa jadi variasi hewan-hewan atau bahkan profesi. Tapi tulisan kan yang penting esensinya. Di grup WhatsApp ibu-ibu menulis itu, memang biasanya membahas apa? Tips menyusui? Helicopter parenting? Atau tips menjadi jenglot? Tentu tidak semua bahasan perlu ditulis dengan gaya bedebah bukan? Harus ada kesesuaian dan relevansi.

Solusi untuk tetap bisa menulis bedebah di grup WhatsApp ibu-ibu adalah dengan mengadopsi bahasa lain. Misalnya, jangan tulis bedebah, tapi gunakan jahiliyah, atau ahmaq, atau safiihun, atau waghdun. Bahasa Arab pasti barokah.

Demikian saran dari kami. Ingat, jangan lupa bahagia, dan salam olahraga!

Arman Dhani

Terakhir diperbarui pada 21 Oktober 2017 oleh

Tags: bajingancurhatcurhat mojokgrup whatsappibu-ibukata kasarmenuliswa
Arman Dhani

Arman Dhani

Arman Dhani masih berusaha jadi penulis. Saat ini bisa ditemui di IG @armndhani dan Twitter @arman_dhani. Sesekali, racauan, juga kegelisahannya, bisa ditemukan di https://medium.com/@arman-dhani

Artikel Terkait

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia MOJOK.CO
Esai

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia

15 Juli 2026
Dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum, Najwa Shihab berpesan pada para mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus agar terus menulis (esai) apapun profesinya MOJOK.CO
Eksplor

Pesan untuk Gen Z: Menulislah Apapun Kelak Profesinya, Tak Lupa Akar di Manapun Posisinya

7 Juli 2026
Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO
Sehari-hari

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
Pamer Harta Sudah Ketinggalan Zaman: Tren Terbaru Ibu-Ibu Gang Kampung Adalah Flexing Utang Bank Emok. MOJOK.CO
Esai

Pamer Harta Sudah Ketinggalan Zaman: Tren Terbaru Ibu-Ibu Gang Kampung Adalah Flexing Utang Bank Emok

22 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026
Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026
Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif MOJOK.CO

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif

21 Juli 2026
Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum.MOJOK.CO

Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum

20 Juli 2026
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.