MOJOK – Aksi bunuh diri bisa saja digolongkan sebagai dosa pembunuhan. Masalahnya, ketika dosa dilakukan, di saat yang bersamaan pelaku mati dan nggak sempat lagi untuk bertobat. Itulah mengapa dosa bunuh diri lebih berat dari dosa membunuh orang lain dan ganjarannya neraka.

Aksi teror yang terjadi di tiga gereja di Surabaya, yakni Gereja Santa Maria, GKI Diponegoro, dan GPSS Arjuno pada Minggu pagi (13/5) menunjukkan bagaimana tipikal aksi teror dilakukan. Kita semua paham betul, bom yang meledak merupakan aksi bunuh diri. Bahkan jika merunut pada kesaksian yang terjadi di GKI Jalan Diponegoro, penggambarannya cukup jelas dari saksi mata, yang mana pelaku sempat memeluk satpam gereja sebelum akhirnya meledakkan diri.

Aksi teror dengan menggunakan bom bunuh diri memang jamak dilakukan. Hal ini sebenarnya membuat kita patut bertanya-tanya, bagaimana cara aktor intelektual meyakinkan pelaku bom bunuh diri untuk rela menyerahkan nyawanya dengan cara yang mengerikan?

Ada pertanyaan besar dalam kepala saya ketika menyadari ada logika-logika yang tidak bisa nyambung untuk aksi semacam ini. Misalnya, janji masuk surga bagi pelaku. Kalau memang betul aksi ini diyakini atau diimani mendapatkan balasan surga, kenapa bukan si aktor intelektual teror sendiri yang melakukannya? Kenapa dia memberikan “tiket” surga itu kepada pengikutnya? Bahkan—seperti yang diketahui—sampai melibatkan anak-anak.

Baca juga:  Kenapa Bom Bunuh Diri di Medan Seperti Dilakukan Sembarangan?

Dengan menyerahkan tugas by pass menuju surga kepada orang lain, bukankah itu menunjukkan bahwa bom bunuh diri dibalas surga tidak benar-benar begitu diyakini sama si pemilik ide konyol itu sendiri?

Saya yakin betul orang-orang biadab tersebut paham dengan ayat-ayat agama yang melarang seseorang melakukan bunuh diri. Saya yakin betul cecunguk-cecunguk yang meminta seorang perempuan dan anak-anak untuk jadi martir tidak sepenuhnya percaya akan doktrin mereka sendiri. Kalau mereka sepenuhnya yakin, jelas mereka yang akan berebutan untuk jadi martir—bukan malah menyuruh orang lain.

Hal ini kemudian bermuara pada kesimpulan mengerikan berikutnya, bahwa bedebah-bedebah-sampah-dunia ini memang betul memanfaatkan dan memelintir ayat-ayat Tuhan untuk meyakinkan pengikutnya agar rela menyerahkan nyawa demi kepentingan mereka. Rela menyerahkan nyawa demi tujuan busuk mereka. Percaya pada doktrin-doktrin yang tidak dipercayai sendiri oleh mereka. Dalam bahasa ilmiah namanya: JARKONI.

Saya yakin mereka tahu bahwa bunuh diri dalam agama adalah dosa besar. Dengan nalar sederhana tanpa perlu mengutip ayat-ayat Tuhan saja kita bisa paham kenapa bunuh diri mendapatkan ganjaran pedih di neraka. Alasan sederhananya, karena pelaku pembunuhan harus merenggang nyawa tepat ketika ia melakukan dosa pembunuhan.

Tidak perlu ditarik ke kasus bom bunuh seperti yang terjadi di Gereja Surabaya. Pada peristiwa bunuh diri biasa seperti gantung diri, minum obat serangga, sampai terjun dari gedung tinggi semuanya adalah praktik pembunuhan. Bahkan bisa saja digolongkan sebagai aksi pembunuhan berencana.

Baca juga:  ‘Sapiens’ Karya Yuval Harari adalah Buku Fiksi

Masalahnya, korban dari aksi pembunuhan ini adalah diri pelakunya sendiri. Pada akhirnya bukan soal kematiannya yang membuat seorang pelaku bunuh diri diganjar neraka, melainkan pada dosa pembunuhan. Masalahnya, dosa pembunuhan yang dilakukan bertepatan dengan kematiannya sendiri sehingga mustahil bisa bertaubat setelah melakukannya.

Lebih mengerikannya lagi, para pelaku di bom Surabaya ini memang meniatkan untuk membunuh orang lain, selain dirinya sendiri. Jadi bisa dibayangkan ada berapa dosa pembunuhan yang harus ditanggung oleh yang bersangkutan.

Benar-benar kejahatan yang paripurna. Menggunakan nama Tuhan untuk membantu tugas utama iblis; mempercepat keturunan Adam langsung menuju jurang neraka.

 

Baca juga artikel lain terkait TEROR BOM SURABAYA.