MOJOK.CO – Seumur-umur Fanshuri salat subuh pakai qunut, baru kali ini ada orang yang berani nyamperin dan langsung menyebut kalau doa qunutnya itu bid’ah.

Sadar kalau waktu subuh sudah datang, Fanshuri mampir di sebuah masjid di pinggir jalan. Ketika datang, suara iqomat sudah berkumandang. Fanshuri pun buru-buru mengambil wudu.

Namun karena salat subuh hanya dua rakaat, wajar kalau kemudian Fanshuri jadi ketinggalan dan harus masbuk. Kebetulan Fanshuri cuma dapat tahiyat akhir saja, alhasil Fanshuri melanjutkan dua rakaat salat subuh.

Jamaah sebagian sudah keluar masjid, sebagian lagi masih di dalam. Ketika rakaat kedua setelah rukuk, Fanshuri membaca doa qunut. Dari sudut masjid, seorang jamaah mengawasi dengan mata tajam aktivitas Fanshuri. Begitu Fanshuri selesai salat, zikir, lalu hendak pergi melanjutkan perjalanan, orang yang tadi mengawasi Fanshuri ini mendekat.

“Dari mana, Mas?” tanya orang ini sambil menyalami Fanshuri. Posisi Fanshuri masih belum benar-benar berdiri jadi langsung duduk lagi karena orang ini duduk bersila di hadapan Fanshuri.

“Oh, dari ziarah, Mas. Saya ketinggalan rombongan. Jadi mampir salat dulu. Ada apa ya, Pak Kiai?” kata Fanshuri.

Disebut Pak Kiai, orang ini lalu menegur, “Jangan panggil kiai. Ustaz saja,” kata orang ini.

Fanshuri sedikit heran mendengarnya, meski begitu fanshuri mencoba bersikap normal.

“Barusan sampeyan salat subuh pakai qunut ya?” tanya ustaz ini.

“Iya. Kenapa ya?” tanya Fanshuri bingung.

“Kalau subuh, memang rutin baca qunut?” tanya ustaz ini lagi.

“Iya. Sudah kebiasaan sih,” kata Fanshuri.

Seumur-umur Fanshuri salat subuh pakai qunut, baru kali ini ada orang yang berani nyamperin dia dan langsung bertanya seperti itu.

“Sampeyan tahu kalau itu bid’ah?” tanya ustaz ini lagi.

“Yang mana, Taz? Yang qunut tadi?” tanya Fanshuri benar-benar bingung.

“Iya. Sampeyan tahu tidak kalau Nabi tidak pernah mencontohkan itu?” tanya ustaz ini.

“Nggak tahu, Taz,” kata Fanshuri.

“Nah, makanya itu saya sampaikan ke sampeyan. Sebagai orang yang lebih ngerti, jadi kewajiban bagi saya sebagai muslim untuk mengingatkan muslim yang lain. Apalagi yang sampeyan lakukan itu termasuk bid’ah,” kata ustaz ini.

Baca juga:  Bid’ah pun Punya Motif Politik

Mendengar tersebut, hati Fanshuri terasa panas, meski lebih banyak bertanya-tanya. Dasar nasib apes, niat salah subuh jamaah di masjid malah ketemu ustaz model begini.

“Memangnya Nabi tak pernah ya sekali saja melakukan qunut, Taz?” tanya Fanshuri.

“Pernah,” kata si ustaz.

“Lantas, apa masalahnya?” tanya Fanshuri.

“Nabi cuma membaca qunut dalam sebulan. Itu pun karena suatu hal penting untuk mendoakan suatu kaum yang sudah membunuh 70 sahabat hafal Al-Quran. Artinya, tidak dibenarkan kalau sampeyan rutin melakukan itu. Itu bukan amalan yang ada dasarnya untuk dilakukan terus-menerus,” kata si ustaz.

Fanshuri terdiam, sejenak berpikir. Dalam bayangannya, dia merasa pernah dengar riwayat itu dari Gus Mut, guru ngajinya di kampung.

“Sampeyan tahu tidak riwayat itu?” tanya si ustaz.

“Ya tahu dari guru saya, Taz. Cuma rada-rada lupa,” kata Fanshuri.

“Coba gimana?” tanya si ustaz seperti memberi tes.

“Seingat saya, Nabi pernah ditipu suatu kaum yang minta belajar Islam. Lalu oleh Nabi dikirim itu 70 sahabat yang hafal Al-Quran untuk menjadi pengajar di sana. Sampai di sana, para sahabat malah dibunuhi satu demi satu. Mendengar kabar itu, Nabi murka. Lalu dimulailah doa untuk meminta Allah agar menimpakan azab kepada kaum itu sampai sebulan. Sampai akhirnya Nabi diberi didatangi Jibril agar membaca doa yang baik-baik saja. Yang akhirnya doa itu jadi doa bacaan qunut itu,” kata Fanshuri.

Mendengar Fanshuri masih sedikit ingat dengan riwayat itu, si ustaz bukannya tersenyum tapi malah sedikit senewen.

“Namun, jangan lupa, Mas. Setelah itu, Nabi tak pernah membacanya saat salat subuh beliau,” kata si ustaz.

“Memang ada riwayatnya, Taz?” tanya Fanshuri.

Mendengar itu, si ustaz merasa diremehkan ilmunya.

“Loh, sampeyan jangan meremehkan saya. Saya ini haji berkali-kali. Dulu waktu saya muda, bahkan saya bisa haji satu tahun sekali,” kata si ustaz.

Fanshuri terkejut kena semprot seperti itu. Lalu memilih manggut-manggut saja.

“Ada riwayat dari Abu Malik Al-Asyja’i. Ketika dirinya bertanya ke bapaknya yang pernah melihat Nabi dan sahabat-sahabat salat di kota Kufah selama lima tahun. Kata bapak dari Abu Malik ini, mereka semua tak ada yang membaca doa qunut. Lalu bapak dari Abu Malik ini bilang, itu perbuatan bid’ah,” kata si ustaz dengan lantang.

Baca juga:  Jarang Salat di Masjid tapi Protes Masjid Anti-Bidah Makin Banyak

“Tapi kan itu durasi cuma lima tahun, Taz,” tanya Fanshuri.

“Di riwayat lain juga disebutkan dari Anas bin Malik, kalau Nabi tidak pernah qunut kecuali mendoakan kebaikan dan kehancuran suatu kaum,” kata si ustaz.

Fanshuri manggut-manggut. Mau membantah sudah tak berani.

“Artinya, yang sampeyan lakukan itu kurang kuat dasarnya, Mas. Kalau Nabi melakukan cuma sekali dua kali kok sampeyan melakukan rutin tiap hari sampai seumur hidup. Itu kan amalan yang berbeda karena situasi Nabi saat itu berbeda dengan situasi sampeyan. Ada baiknya ditinggalkan saja lah, karena itu perbuatan bid’ah. Dan sampeyan pasti tahu sendiri, kalau setiap bid’ah itu sesat. Apalagi yang masuk dalam ibadah salat wajib kayak sampeyan itu,” kata si ustaz.

Mulut Fanshuri terkunci, terdiam. Hampir tak bisa bicara apa-apa lagi.

“Anu, Taz. Boleh nanya satu lagi?” kata Fanshuri takut-takut.

“Monggo,” kata si ustaz yang sudah mulai percaya diri karena merasa sudah menyadarkan saudara seimannya.

“Pak Ustaz itu beneran udah haji berkali-kali nih?” tanya Fanshuri.

“Iya. Tapi itu dulu ketika saya masih muda. Sekarang karena sudah berumur gini, yah paling banter 3 tahun sekali lah, pakai yang ONH plus itu,” kata si ustaz.

“Gini, Taz. Kalau bener yang dilakukan Nabi cuma sekali dua kali tak boleh dirutinkan oleh umatnya karena amalan itu terjadi pada peristiwa khusus, lah sampeyan haji berkali-kali itu dasarnya apa ya? Bukannya Nabi itu haji cuma sekali doang? Dan itu pun peristiwa khusus Haji Wada. Soalnya sehabis itu Nabi wafat kan? Jadi nggak ada itu riwayat haji yang dilakukan Nabi berkali-kali. Itu gimana ya, Taz?” tanya Fanshuri penasaran.

Si ustaz agak kaget mendengar itu.

“Eee, kalau itu mah… eh, gini… eee.”

 

*) Diolah dari pengajian Gus Baha’ dan penjelasan Ustaz Adi Hidayat.

BACA JUGA Kenapa Enggan Doakan Umat yang Mau Berangkat Haji? atau tulisan rubrik KHOTBAH lainnya.