MOJOK.CO – Persaingan ketat hingga warung berdekatan nggak menghalangi warmindo di Jogja untuk meraup cuan puluhan juta setiap bulannya.
Tahukah kamu kalau di Jogja ini sudah ada 1.871 pengusaha atau mitra warmindo beserta keluarganya? Antara mencatat data tersebut dan saya terpukau. Apa ya tetap laku kalau semakin banyak yang buka di sini? Begitu batin saya.
Kadang saya berpikir kalau keberadaan warmindo yang saling berdekatan itu seperti persaingan antara Alfamart dan Indomaret. Kalau melihat wilayah seperti Seturan-Babarsari, Condongcatur, dan Jalan Kaliurang (Jakal), semuanya sudah sangat padat dengan warmindo.
Logikanya saja, banyaknya pesaing dengan produk yang sama seharusnya membuat para pengusaha ini merasa khawatir. Namun kenyataannya justru berbanding terbalik. Saya lihat, usaha ini malah semakin berkembang di Jogja.
Setelah melakukan riset dan wawancara, berikut beberapa data yang berhasil saya kumpulkan.
Modal awal warmindo itu terjangkau
Ternyata, untuk membuka usaha warmindo, kamu tidak butuh modal yang terlalu besar. Adalah Fajar Fery Ferdiansyah, penulis Terminal Mojok pernah merangkum modal awal yang kamu butuhkan. Artikelnya berjudul Panduan Memulai Bisnis Warmindo: Modal Dikit, Cuan Selangit!.
Untuk awal, tentu saja kita butuh meja, kursi, dan peralatan makan. Dua meja dengan 4 kursi panjang atau 8 kursi plastik biasanya sudah cukup. Saya estimasi, butuh dana Rp1,5 juta rupiah untuk beli barang-barang tersebut.
Setelah itu, baru kalian beli mie instan, telur, sayuran, kopi, dan bahan-bahan yang sekiranya bisa kalian temukan di warmindo. Saya estimasi untuk awal Rp3,5 juta aja cukup ini. Setelah itu, biaya listrik, air, perawatan, kira-kira Rp500 ribu. Kan burjo kecil, belum gede-gede amat.
Maka, untuk membuka warmindo, modal awalnya sebesar Rp5.500.000 saja. Dan untuk bulan-bulan berikutnya, kita cukup menyiapkan biaya sekitar Rp4.000.000 untuk membeli kembali bahan baku yang sudah habis serta bayar biaya listrik, air, dan lainnya.
Dengan total modal awal sebesar Rp5.500.000, kita sudah bisa dapat keuntungan yang lumayan. Bila kita jual harga Indomie per porsinya Rp10.000, dengan asumsi dalam sehari terjual 40 porsi, maka total pendapatan harian Rp400.000.
Bila 1 bulan, maka 30 x Rp400.000 = Rp12.000.000. Dari laba kotor tersebut, berarti dikurangi modal awal, maka pada bulan pertama sudah bisa dapat keuntungan bersih senilai Rp6.500.000
Yah, di atas memang perhitungan kasar dan dalam kondisi ideal. Namun, setidaknya sudah menggambarkan potensi dari sebuah warmindo kecil di Jogja.
Bahan baku awet, warmindo minim risiko rugi
Usaha warmindo ini tetap mencetak profit meskipun memiliki banyak pesaing. Kunci utama keawetan usaha ini ada di bahan baku produk. Mie instan dan minuman sasetan pada dasarnya memang tahan lama.
Bahan baku yang awet ini membuat para pengusaha warmindo bisa merasa tenang. Mereka tidak perlu memiliki rasa takut akan kerugian akibat bahan baku yang membusuk.
Hal inilah yang menjadi salah satu faktor usaha ini bertahan lama di Jogja. Serta aman dari risiko kerugian besar.
Pasar mahasiswa Jogja yang tidak pernah habis
Warmindo merupakan salah satu tempat makan dan nongkrong favorit mahasiswa. Apalagi Jogja adalah kota yang memiliki banyak perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta.
Terdapat beberapa kampus besar di Jogja, seperti UGM, UNY, dan UII. Bahkan, menurut dari data BPS DIY, jumlah mahasiswa di Jogja mencapai ratusan ribu orang.
Ratusan ribu mahasiswa inilah yang menjadi faktor pendukung dari terus berkembangnya usaha warmindo. Selama kampus-kampus di Jogja masih terus mencetak dan menerima beribu mahasiswa baru setiap tahun, kondisi konsumen warmindo dipastikan tidak akan putus.
Fasilitas memadai dan pelayanan ramah
Warmindo tidak hanya sekedar menjual makanan murah, tetapi juga menyediakan fasilitas tempat yang cukup memadai. Cukup dengan membeli segelas es dan seporsi mie, para pembeli sudah mendapat fasilitas yang mendukung berbagai aktivitas.
Aktivitas yang dimaksud seperti nongkrong, mabar game online, hingga nugas perkuliahan. Fasilitas pendukungnya seperti Wi-Fi gratis dan colokan listrik di berbagai sudut meja di warung.
Nilai plusnya adalah fleksibilitas durasi waktu nongkrong. Tanpa harus merasa takut diusir atau disindir oleh penjaga warung yang biasanya ramah. Warmindo ini juga bisa menyelamatkan rasa lapar para mahasiswa Jogja di tengah malam. Serta setia menemani para mahasiswa hingga pagi hari.
Perjalanan sukses usaha Bu Meli
Beberapa hari yang lalu, saya sempat menemui dan ngobrol cukup lama dengan Bu Meli (49 tahun). Beliau adalah pemilik warmindo Pamungkas asal Kuningan, Jawa Barat.
Jadi, Bu Meli adalah generasi kedua dari usaha warmindo yang buka di Jogja pada 2004. Usaha keluarganya ini bertahan dan berkembang dengan pesat. Kata Bu Meli, mahasiswa di Jogja memungkinkan usaha warung makan yang terpadu dengan tempat berkumpul menjadi cukup awet. Syaratnya sangat mudah, yaitu mencari lokasi yang strategis.
Di tangan Bu Meli, usaha keluarganya berkembang dengan baik. Kini, dia sudah punya 3 cabang di lokasi-lokasi strategis. Misalnya, cabang warmindo Bu Meli ada di kawasan UII, Jalan Kaliurang KM 12, dan di Pogung dekat UGM.
Lokasi yang Bu Meli incar adalah yang dekat dengan area kampus, permukiman warga atau kos-kosan, serta memiliki akses jalan ramai.
Sewa lokasi dan omzet warmindo di Jogja
Bu Meli memilih sistem sewa tempat karena memang di Jogja sangat sulit mencari lahan kosong. Serta membutuhkan modal yang besar jika harus membeli tanah.
Harga sewa tempat usahanya berbeda-beda. Jika cabang yang berlokasi di dekat UII (area dalam gang) harga sewa sekitar Rp15 juta per tahun. Cabang yang berlokasi di jalan besar area Jalan Kaliurang dan Pogung UGM mencapai sekitar Rp30 juta per tahunnya.
Meski harus membayar sewa tempat, omzet kotor dari usaha warmindo Bu Meli ini tetap mencapai belasan juta rupiah. Sementara itu, omzet bersih yang di dapatkan antara Rp3 sampai Rp5 juta seperti perhitungan di atas.
Tantangan liburan semester dan prospek ke depan
Saat masa liburan semester kampus, cabang warmindo yang berlokasi di dalam area kos mahasiswa atau kampus mengalami penurunan omzet cukup drastis. Namun, kondisi sepi ini tidak sampai membuat usaha ini gulung tikar dan bahkan masih tetap menguntungkan.
“Kalau naik turunnya itu mungkin tergantung mahasiswa libur ya. Kalau yang di sini alhamdulillah tetap ramai, tapi kalau yang di dalam lebih sepi,” ungkap Bu Meli.
“Tapi tetap masih untung, nggak sampai rugi,” tambah Bu Meli santai.
Pada akhirnya, membuka usaha warmindo di Jogja ini sangat cocok bagi kalian yang ingin mulai usaha dengan modal kecil. Tetapi memiliki peluang keuntungan yang besar.
Yah, selama kampus-kampus di Jogja terus dipadati oleh mahasiswa, usaha ini akan terus tetap bertahan dan berkembang pesat. Asal dapat tempat yang strategis aja, sih.
BACA JUGA Bisnis rumahan mie ayam di pinggiran Jogja, untung 24 juta per bulan bikin ekonomi keluarga jadi stabil dan artikel inspiratif lainnya di rubrik CUAN.
