Arti Sukses di Mata Pak Karjin, Petani Cabai Rawit dengan Lahan 1 Hektare: Cuan Puluhan Juta, Modalnya Bikin Jantung Copot

Arti Sukses dan Cuan di Mata Petani Cabai Rawit MOJOK.CO

Ilustrasi Arti Sukses dan Cuan di Mata Petani Cabai Rawit. (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.COBagi petani cabai rawit, sukses bukan semata cuan dengan nominal besar. Asal cukup untuk keluarga, mereka sudah bersyukur.

Sebagai mahasiswa agribisnis, dulu saya percaya satu hal, yaitu semua usaha tani bisa dihitung rapi. Selama ada angka biaya, produksi, dan harga jual, maka kita bisa memprediksi untung dan rugi petani. Di kelas, kami belajar menghitung pendapatan dengan rumus yang jelas. Tinggal masukkan angka, tekan kalkulator, hasil keluar.

Tapi, keyakinan itu goyah saat saya datang langsung ke Desa Daya Utama, Kecamatan Muara Padang, Banyuasin, pada Agustus sampai September 2024. Saya datang membawa kuesioner penelitian dan bekal teori dari kampus. Niatnya ingin melihat berapa sebenarnya “cuan” petani cabai rawit di lapangan.

Yang saya temukan bukan sekadar angka. Saya menemukan bahwa cabai rawit tumbuh bukan hanya dari pupuk dan air, tapi juga dari harapan yang sering bikin petani deg-degan.

Dari jauh, kebun cabai rawit di desa itu terlihat cantik. Buahnya merah menyala, rapi berbaris. Kalau difoto, hasilnya pasti indah seperti latar belakang konten “pulang kampung” di media sosial. Tapi, begitu saya masuk ke dalam kebun, gambarnya berubah total.

BACA JUGA: Susahnya Jadi Petani di Indonesia: Refleksi dari Seorang Sarjana Pertanian yang Kini Jadi Petani Muda

Cuan cabai rawit berasal dari kerja yang begitu berat

Saya melihat petani mengikat batang cabai rawit satu-satu supaya tidak roboh tertiup angin. Mereka rutin memeriksa daun karena hama bisa datang kapan saja. Ember panen di sudut kebun warnanya merah pekat bukan karena cat, tapi karena getah cabai yang menempel bertahun-tahun.

Getah itu pedih. Kalau kena kulit terasa panas. Kalau tanpa sengaja kena mata, rasanya seperti tersiram api. Di situ saya sadar. Bumbu dapur yang kita anggap biasa ternyata lahir dari kerja yang tidak ringan.

Menyelidik rahasia cuan petani cabai rawit

Dari 12 petani yang saya wawancarai, satu nama paling sering muncul, yaitu Pak Karjin. Beliau bukan sarjana pertanian. Tidak pernah ikut pelatihan resmi. Tapi, lahan Pak Karjin paling luas di desa. Lahan cabai rawit miliknya mencapai satu hektar milik sendiri.

Bagi orang kota, satu hektar mungkin terdengar kecil. Tapi bagi petani cabai rawit, itu luas sekali. 

Kebanyakan petani di Desa Daya Utama hanya menggarap seperempat sampai setengah hektar. Bukan karena tidak mau lebih, tapi karena merawat cabai itu sangat menyita tenaga dan waktu.

Pak Karjin orangnya pendiam. Waktu saya tanya rahasia cuan dari cabai rawit, beliau tidak memberi penjelasan panjang. Beliau hanya mengajak saya berjalan di kebun, menunjuk buah cabai yang lebat, lalu tersenyum.

Namun di rumahnya, beliau punya catatan biaya dan hasil panen yang rapi. Dari catatan itu saya tahu, dalam satu musim tanam, lahannya menghasilkan sekitar 1.890 kilogram cabai rawit. Itu produksi tertinggi di antara responden penelitian saya.

Tapi Pak Karjin langsung mengingatkan:

“Jangan cuma lihat banyaknya cabai rawit, Nak. Lihat juga uang yang masuk ke tanah dulu.”

Jebakan biaya yang tidak terlihat

Banyak orang kota kaget saat harga cabai rawit di pasar sering tembus Rp100.000 per kilo. Mereka membayangkan petani langsung cuan dan kaya mendadak. Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Saat penelitian saya berlangsung, harga cabai rawit di tingkat petani sekitar Rp40.000 per kilogram. Bagi petani di desa, harga ini sudah bagus dan aman. Mereka tidak terlalu berharap harga sangat tinggi tapi hanya sebentar. Mereka lebih butuh harga yang stabil supaya tidak stres.

Kalau menghitung dari produksi Pak Karjin, nilai penjualan cabai cabai rawit miliknya dalam satu musim sekitar Rp61 juta per hektar. Angka ini memang terlihat besar. Tapi sebelum panen, petani sudah lebih dulu mengeluarkan biaya besar. 

Jauh sebelum bisa panen, petani harus membeli benih, pupuk kandang, pupuk kimia, pestisida, plastik mulsa, dan tali penyangga tanaman. Mereka membayarnya di awal.

Dari hasil perhitungan 12 petani responden, rata-rata biaya produksi mencapai sekitar Rp24,26 juta per hektar. Artinya, setelah penjualan dikurangi biaya, sisa pendapatan sekitar Rp36 jutaan per musim. 

Musim cabai berlangsung sekitar delapan bulan. Jika membaginya per bulan, pendapatan itu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan gaji pekerja biasa di kota. Bedanya, petani bekerja di bawah panas matahari, hujan, lumpur, dan risiko gagal panen.

Jangan mengejar kaya mendadak

Hal yang paling saya ingat dari Pak Karjin adalah cara beliau menyebut keuntungan. Beliau tidak pernah bilang “untung besar” atau “cuan”. Kalimat yang sering keluar justru sederhana yaitu “Yang penting lebihnya ada.”

Artinya begini. Setelah biaya dibayar dan utang lunas, masih ada sisa untuk makan keluarga dan biaya sekolah anak. Itu sudah mereka anggap berhasil.

Petani cabai rawit tidak mengejar kaya mendadak. Mereka mengejar hidup yang terus berjalan. Selama masih ada sisa, musim depan mereka akan menanam lagi.

Logika menjual cabai rawit

Cara mereka menjual hasil panen cabai rawit juga punya logika sendiri. Banyak teori mengatakan petani harus menjual langsung ke pasar supaya untung lebih besar. Tapi di desa, petani lebih memilih menjual ke pengepul. Alasannya sederhana, yaitu pasti laku dan langsung dibayar.

Cabai adalah barang yang cepat rusak. Telat menjualnya sehari saja, beratnya bisa susut dan kualitas turun. Bagi petani, uang tunai hari ini jauh lebih berharga daripada menunggu harga tinggi yang belum tentu terjadi.

Angka pendapatan Rp36 juta per musim memang terlihat lumayan di atas kertas. Tapi bagi petani, angka itu tidak pernah pasti. 

Selain itu, cabai rawit juga sangat bergantung kepada cuaca. Kalau hujan terlalu sering, bunga rontok dan penyakit datang. Kalau panas terlalu panjang, tanaman layu. 

Hama juga bisa menyerang tiba-tiba dan merusak satu kebun dalam waktu singkat. Ada musim ketika petani tidak mendapat sisa sama sekali. Modal habis, tenaga habis, panen gagal, tidak mungkin cuan.

BACA JUGA: Indonesia Juga Krisis Petani Muda!

Perspektif cuan dari mata petani cabai rawit

Musim saat saya meneliti termasuk musim yang cukup baik. Tapi bagi petani, musim baik itu bonus, bukan jaminan. 

Meski begitu, mereka tetap menanam cabai rawit. Semata karena kalau menanam pagi, panennya lama sementara cabai rawit memberi uang bertahap. Petani bisa panen berkali-kali, biasanya dua minggu sekali. Cuan yang masuk sedikit-sedikit itulah yang menjaga dapur tetap hidup.

Perjalanan penelitian di Muara Padang membuat saya sadar. Menghitung usaha tani di kertas ternyata jauh lebih mudah daripada menjalaninya.

Di kampus, pendapatan petani terlihat jelas lewat angka. Di lapangan, pendapatan petani adalah hasil dari kerja keras, risiko, dan harapan yang terus diuji. 

Bagi Pak Karjin, keberhasilan bukan berarti cuan besar. Keberhasilan adalah ketika setelah semua biaya dibayar, masih ada sisa untuk keluarga. Selama sisa itu masih ada, beliau akan terus menanam cabai rawit di lahan satu hektarnya. Karena di balik rasa pedas cabai rawit, selalu ada harapan yang ditanam bersama benihnya.

Penulis: Winda Noviyanti

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Curahan Hati Petani Cabai dan perspektif menarik lainnya di rubrik CUAN.

Exit mobile version