Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Curhat

Ibu Suka Marah Membuat Sumpek Tinggal di Rumah

Audian Laili oleh Audian Laili
6 April 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Seorang perempuan menceritakan kekesalannya tentang ibu suka marah dan cukup membuatnya tidak betah tinggal di rumah.

TANYA

Dear Mojok yang tjakep….

Perkenalkan nama saya River, seorang wanita muda yang masih tinggal bersama kedua orangtua.

Jadi gini, sejak saya masih sangat kecil atau yah minimal masuk TK, saya sering mendengar ungkapan, “Surga ada di bawah telapak kaki ibu.” Meskipun realita yang saya temui adalah adanya kutu air di bawah telapak kaki Ibu saya.

Ungkapan di atas seakan menggiring saya untuk selalu hormat kepada Ibu apa pun yang terjadi. Di dalam ajaran agama juga begitu. Ibu disebut tiga kali sedangkan Bapak hanya satu kali.

Pertanyaannya, apakah semua ibu adalah orang yang baik kepada anaknya? Kalau menurut saya sih nggak. Contohnya Ibu saya. Beliau sebenarnya sangat saya sayangi, tapi seringkali beliau melakukan hal-hal yang malah membuat saya memiliki cukup alasan untuk tidak menyukainya.

Misal, sejak kecil saya selaluuuuuuuu saja dibanding-bandingkan dengan anak-anak tetangga. Katanya saya kurang inilah, apalah. Pokoknya saya adalah yang paling buruk dan jelek dibanding lainnya. Ibu suka marah. Ibu juga sering memukul saya, bahkan dulu sampai dicubit kenceng banget sampe saya nangis kejer. Untunglah saat kelas tiga SD, saya udah nggak nangis kalau dicubit. Saya udah terbiasa.

Semakin gede saya malah menunjukkan sikap yang sama seperti Ibu saya. Mudah marah. Tapi, sebenarnya saya selalu menyesal teramat dalam setelah marah kepada seseorang. Tapi sekali lagi, tiap kami ada percekcokan, Ibu selalu bentak keras-keras sampai semua tetangga saya tahu.

“KAMU INI ANAK YANG NGGAK TAU DIUNTUNG. LIAT TUH YANG LAIN!! HARUSNYA KAMU BISA BERSYUKUR!!”

Atau, “MEMANG, YA. KAMU ITU YA EMANG CUMA KAYA GITU AJA. KAMU YA KAMU. ORANG YANG JELEKNYA LUAR BIASA.”

Saya sakit hatiii banget. Padahal saya nggak pernah teriak kalau lagi berantem sama ibu. Saya juga kalau dibentak cuma diem terus nangis. Kalau pun membalas argumen beliau, saya hanya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dengan sejujur-jujurnya. Tapi, Ibu saya bilang saya hanya beralasan.

Gimana nih, Jok, cara mengatasinya? Saya sudah sumpek banget sebenarnya. Tolong di jawab ya, supaya kegalauan saya menghilang.

JAWAB

Hai River….

Membaca ceritamu itu, membuat saya ikut nyeri sendiri. Pasti sulit rasanya diperlakukan seperti itu, oleh seseorang yang seharusnya bisa membuat kamu merasa nyaman dan bebas menjadi diri kamu sendiri. Seseorang yang seharusnya bisa menjadi support system bagi kehidupan kamu. Tapi itu kan cuma “seharusnya”, ya. Bagaimanapun, ibu juga manusia biasa seperti kita, anak-anaknya. Maka mengharap beliau dapat menjadi sosok yang sungguh sempurna, adalah sebuah ekspektasi yang nantinya akan menyakiti diri kita sendiri.

Iklan

Saya sangat mengapresiasi sikap kamu meskipun ibu suka marah dengan berteriak dan membanding-bandingkan kamu. Sikap kamu yang tidak balas berteriak saat marah pada beliau, sungguh kece sekali. Pasalnya tidak banyak, manusia yang sanggup mengontrol emosinya dalam kondisi seperti yang kamu alami.

Meski sebetulnya marah adalah emosi wajar. Seperti layaknya sedih, kecewa, ataupun malu. Namun, yang menjadi masalah di sini ketika marah tersebut kemudian dikeluarkan dengan cara menyakiti orang lain. Menurut saya, ada suatu masalah yang sedang dihadapi oleh ibu kamu. Entah apa itu. Hingga akhirnya, kekesalan itu beliau lampiaskan ke kamu. Lantaran, mungkin hanya pada kamulah, beliau bisa merasa lebih superior dan menganggap punya kuasa lebih atas kamu.

Kita mungkin, mengharap ibu—yang usianya lebih tua—bisa bersikap mengalah pada kita. Sayangnya, usia dan kedewasaan adalah sesuatu yang berbeda. Oleh karenanya, tidak ada salahnya, jika kita mau mencoba mengalah dalam menghadapi sikap ibu suka marah.

Jika ibu sedang marah, mungkin kamu bisa terdiam sebentar, mengatur nafas sambil memejamkan mata untuk menenangkan diri. Jika memungkinkan, pergilah sebentar ke ruangan lain. Setelah omelan ibumu tersebut mereda, mungkin kamu bisa katakan yang kamu rasakan.

Seperti, “Aku sangat sedih kalau ibu suka marah sambil teriak-teriak begitu. Apalagi kalau ibu membanding-bandingkan aku dengan orang lain. Ini membuatku merasa tidak diterima sebagai anak.” Jika perlu tambahkan kalimat, “Aku harus bagaimana, supaya bisa membuat ibu senang dan tidak marah ke aku?” Saya tahu, mengungkapkan kalimat semacam ini saat diri kita sedang emosi, bukanlah hal mudah. Tapi, saya harap, kamu berkenan untuk mencobanya.

River, cerita yang kamu sampaikan ini, sebenarnya belum cukup lengkap. Yang kemudian memunculkan pertanyaan dalam otak saya, apakah ayahmu juga berbuat kasar dan keras kepada ibu kamu? Atau, bagaimana reaksi ayah, saat melihat ibumu mengeluarkan kata-kata kasar pada kamu? Ya, siapa tahu, ayahmu justru berpotensi untuk diajak bekerja sama menghadapi kemarahan ibu.

Jika kamu ingin mencoba untuk membantu ibu, tidak ada salahnya untuk mengidentifikasi. Biasanya, ibu suka marah dalam kondisi seperti apa, sih? Meskipun, kemarahannya muncul secara random, tapi pasti ada stimulus yang membuatnya marah, kan? Nah, coba kamu cari benang merah untuk memahaminya.

Namun, jika kamu betul-betul sudah tidak tahan berada di rumah. Bahkan karena suasana yang tidak cukup kondusif tersebut justru menghambat aktivitas dan kariermu, tidak aada salahnya mencari ketenangan di luar rumah. Jika perlu, tinggalah di luar kota. Terkadang, dengan adanya jarak, justru dapat memberikan pemahaman, bahwa kamu sebegitu berharganya. Keberadaanmu yang seolah selalu serba salah di matanya, ternyata tetap ia butuhkan. Tetapi bukan untuk dimarah-marahi, disalahkan, dikasari, ataupun dibanding-bandingkan, sih.

Meski begitu, saya tetap meyakini, kalau setiap ibu tentu menyayangi anaknya. Mereka pasti selalu menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Hanya saja, terkadang mereka tidak tahu cara mengungkapkannya. Beliau tidak paham, bagaimana men-transfer rasa sayang tersebut, supaya dapat dipahami oleh anaknya—yang memang sudah berbeda generasi.

Terakhir diperbarui pada 6 April 2019 oleh

Tags: ibu suka marahorang tua
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Berkaca dari Kasus Yurizal, Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya punya empati MOJOK.CO
Esai

Berkaca dari Kasus Yurizal: Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya Berempati

7 Agustus 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO
Urban

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia MOJOK.CO
Esai

Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia

8 Juni 2026
Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare? MOJOK.CO
Esai

Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?

29 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
Kampung Menari Hasta Budaya, Wadah Gratis Warga Gowongan Lestarikan Tari Klasik Jogja.MOJOK.CO

Kampung Menari Hasta Budaya, Wadah Gratis Warga Gowongan Lestarikan Tari Klasik Jogja

6 Agustus 2026
KAFEIN Gelar Workshop Kritik Film di DIY, Sasar Pelajar hingga Komunitas MOJOK.CO

KAFEIN Gelar Workshop Kritik Film di DIY, Sasar Pelajar hingga Komunitas

3 Agustus 2026
Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman MOJOK.CO

Konsultasi Publik di Bandung Hasilkan Masukan Strategis Konservasi Elang Jawa 2026-2036

3 Agustus 2026
Berkaca dari Kasus Yurizal, Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya punya empati MOJOK.CO

Berkaca dari Kasus Yurizal: Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya Berempati

7 Agustus 2026
Olive Chicken di Jogja sama saja dengan Karen Chicken di Surabaya. MOJOK.CO

Olive Chicken Menyelamatkan Lidah Orang Surabaya dari Kuliner Khas Jogja yang Overrated

6 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.