_atrk_opts = { atrk_acct:"3c3Os1rcy520uW", domain:"mojok.co",dynamic: true}; (function() { var as = document.createElement('script'); as.type = 'text/javascript'; as.async = true; as.src = "https://certify-js.alexametrics.com/atrk.js"; var s = document.getElementsByTagName('script')[0];s.parentNode.insertBefore(as, s); })();
Rubrik: Konter

Poco M3 Katanya Entry Level Killer tapi Jeroannya Serba Tanggung, Menyedihkan

/cec/ulasan/konter/poco-m3-katanya-entry-level-killer-tapi-jeroannya-serba-tanggung-menyedihkan/amp/

MOJOK.COPoco M3 katanya entri level killer tapi jeroannya serba tanggung, menyedihkan. Saya sarankan untuk pertimbangkan merek lain.

Menjadi killer sepertinya memang hobi Poco. Flagship killer ada di seri F, midrange killer ada di seri X, dan entry-level killer ada di seri M. Sejatinya, saudaranya, yaitu Xiaomi dan Redmi sudah sukses merusak pasar dengan harganya yang terjangkau.

Di atas kertas, harga Poco M3 memang gila. Ketika varian 4GB/64GB di luar dijual seharga Rp2,1 juta, dia datang ke Tanah Air dengan harga 1,8 juta. Ketika varian 4GB/128GB di luar negeri dijual seharga Rp2,4 juta, dia datang ke Tanah Air dengan harga Rp2,2 juta dan mendapatkan bonus RAM sebesar 2GB.

Tunggu dulu! Ini adalah harga perkenalan. Harganya akan naik Rp100 ribu saat penjualan massal.

Memori UFS Poco M3

Ponsel entry-level dan midranger umumnya dibekali memori eMMC. Jika tidak salah mengingat, ponsel resmi dengan memori UFS termurah di Indonesia saat ini adalah Realme C17 (Rp2,6 juta).

Sekarang, takhta ini berhasil direbut Poco M3! Penggunaan UFS 2.2 dengan fitur write booster membuatnya unggul dari ponsel midranger dan flagship yang masih mengandalkan UFS 2.1, apalagi sesama entry-level yang masih mengandalkan eMMC.

Qualcomm Snapdragon seri 6 rasa midranger?

Seingat saya, terakhir kali ponsel resmi seharga Rp1-2 jutaan dengan prosesor Qualcomm Snapdragon seri 6 di Indonesia adalah Realme 5. Jika melihat ke pasar saat ini, bahkan Vivo masih percaya diri menjual Y20S (seharga Rp3,1 juta) dengan prosesor Snapdragon 460. Dengan Snapdragon 662 di Poco M3, dia akan berhadapan dengan Realme 7i yang berprosesor sama di harga Rp3,2 juta alias sepantaran dengan Poco X3 NFC.

Meskipun terlihat prestisius, hal yang perlu diperhatikan adalah sebenarnya Snapdragon 460, 662, dan 665 mengusung teknologi yang hampir sama. Perbedaan performa lebih dikarenakan clock speed dan tingkat optimalisasi.

Skor AnTuTu versi 8 Poco M3 ada di sekitar 180.000-an. WiFi 6 memang sudah didukung, tetapi pengguna paket data seluler mentok dengan jaringan LTE. Untuk aspek ini, Realme C17 dengan Snapdragon 460 masih menarik karena performa nyata tidak berbeda jauh. Bagaimana dengan Redmi 9, Redmi Note 9, dan Tecno Pova? Lebih keren lagi performanya, HD-High atau Smooth-Ultra untuk grafis ketika main PUBG dan skor AnTuTu di atas 200.000.

Speaker atas-bawah yang terasa kurang

Memiliki ponsel dengan dua lubang speaker menciptakan konfigurasi stereo. Penempatan satu lubang di bagian atas dan satu di bagian bawah membuat transmisi suara lebih baik dan menciptakan efek surround, dibandingkan terhadap ponsel lain yang menempatkan kedua lubangnya di bagian bawah.

Hal ini tentu juga lebih baik dibandingkan ponsel yang menempatkan speaker di bagian belakang. Suara tetap terdengar jelas sekalipun ponsel diletakkan di atas meja.

Bagaimana jika dipegang dalam posisi landscape? Jelas tergantung preferensi pengguna. Jika yang dipegang adalah bagian tengah, suara aman-aman saja. Jika yang dipegang adalah bagian bawah, speaker atas tidak terhalang. Jika yang dipegang adalah bagian atas, speaker bawah yang terhalang. Kesimpulannya, agak kurang maksimal, sih.

Konektivitas juga masih terasa kurang

USB Poco M3 sudah menggunakan konektor Type-C dan mendukung OTG, serta IR blaster tetap tersedia terkait fitur remote control. Jack 3.5 mm juga masih tersedia sehingga headset lama kesayangan bisa digunakan tanpa harus merogoh kocek untuk membeli wireless headset.

Jadi, konektivitas sekarang dan masa depan sudah dicakup oleh ponsel ini. Sayang, ponsel ini belum memiliki NFC. Lagi-lagi, memang jarang ponsel entry-level memiliki NFC. Nokia 3.1 Plus dengan harga di bawah Rp2 juta sudah punya NFC, tetapi spesifikasinya bukan lawan dari ponsel ini. Kurang sedikit lagi.

Baterai besar, pengecasan wajar

Poco M3 dibekali baterai 6000mAh dan dicas dengan dukungan daya sampai 18W. Istimewa? Tidak.

Realme C12, Realme C15, dan Tecno Pova juga menawarkan hal yang sama. Hal yang patut disyukuri adalah keberadaan kepala charger berdaya 22.5 W. Meskipun entry-level, ini paket lengkap dan bukan seperti keluarga Samsung Galaxy S21, iPhone 12, atau Xiaomi Mi 11.

Tonjolan kamera yang unik

Tonjolan kamera Poco M3 berbentuk rounded rectangle yang tebal di Poco M3 ini mengingatkan kita pada Nokia PureView 808, tetapi sebenarnya malah lebih mirip dengan OnePlus 8T edisi CyberPunk 2077.

Lampu flash kecil menemani lensa utama beresolusi 48MP (akan mengalami pixel binning sehingga hasil akhir berukuran 12MP), lensa makro berukuran 2MP, dan depth sensor berukuran 2MP. Lagi-lagi dua lensa terakhir itu.

Maaf, saya sudah terlalu sering berkomentar. Redmi Note 9 dengan harga berdekatan punya lensa ultrawide dan sisa lensanya berkualitas sama, sedangkan Realme C17 dan Redmi 9 memiliki lensa utama beresolusi lebih rendah (13MP) dengan detail 47 persen lebih rendah pula.

Lensa utama di Realme C12 dan Realme C15 serta Tecno Pova? Resolusinya juga 13MP, tetapi tidak tahu pasti ukuran per pikselnya berapa. Nah, Realme C15 masalahnya punya lensa ultrawide beresolusi 8MP. Apalagi Poco M3 nggak punya perekaman video dengan kamera belakang yang memiliki resolusi maksimum di 2K (1440p) dan juga dua lampu LED flash untuk mendukung selfie dalam kondisi low-light.

Layar bagus, tetapi tidak istimewa juga

Poco M3 menggunakan layar IPS LCD beresolusi Full HD+. Punya sertifikat perlindungan cahaya biru dari TUV Rheinland. Perlindungan Gorilla Glass 3 diberikan, tetapi cuma bisa melindungi layar dari goresan. 

Screen protector sudah dipasang dari pabrik, jadi tidak perlu pusing mencarinya aftermarket. Refresh rate-nya yang masih 60 Hz memang kalah dengan Realme C17 di 90 Hz, tetapi setidaknya resolusi masih menang dari Realme C12, Realme C15, dan Tecno Pova di HD+.

Oh iya, layar ini bisa digunakan untuk menonton konten digital dengan DRM Widevine L1 ya. Soal penempatan kamera selfie, Poco M3, Redmi 9, Realme C12, dan Realme C15 masih mengandalkan waterdrop display. Pesaingnya, Tecno Pova, Realme C17, dan Redmi Note 9, sudah lebih maju sedikit dengan punch hole.

Kesimpulannya? Beli jika dan hanya jika butuh baterai besar

Jika Anda benar-benar perlu ponsel dengan baterai 6000mAh, silakan beli Poco M3. Jika kapasitas baterai masih bisa sedikit dikompromikan dengan budget yang bisa sedikit dimelarkan, saya akan lebih memilih Realme C17.

Jika budget  mentok untuk varian 6GB/128GB, tidak peduli mikir brand, dan fokus soal performa saja, Tecno Pova bisa menjadi saingan berat Poco M3. Jika budget  mentok untuk varian 4GB/64GB, tidak peduli kapasitas baterai dan kamera, serta ingin mencari performa yang lebih baik, Redmi 9 varian 4GB/64GB bisa jadi pilihan.

Kesimpulannya, Poco M3 belum bisa benar-benar mewujudkan posisinya sebagai entry-level killer. Jika harganya bisa diturunkan Rp100 ribu saja dari harga perkenalan, dia akan mewujudkan kemenangan yang telak.

Sayang, setelah masa perkenalan habis, harga produk malah naik dan tidak menawarkan keunggulan yang signifikan. Saya salut ketika Poco F2 Pro dan Poco X3 NFC diluncurkan, tetapi tidak dengan Poco M3. Menyedihkan.

BACA JUGA Poco X3 NFC, Hape Kelas Menengah Paling Recommended di Desember 2020, Kualitasnya Nggak Jauh dari Hape Flagship dan ulasan hape baru lainnya di rubrik KONTER.

Christian Evan Chandra

Pecinta ilmu aktuaria dengan hobi seputar menulis, kuliner, dan gadget.

Leave a Comment