Laut Bercerita adalah film yang diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori. Film garapan Yosep Anggi Noen ini mengikuti kisah Biru Laut, mahasiswa di Yogyakarta pada akhir 1990-an yang menghilang setelah aktif dalam gerakan mahasiswa. Reza Rahadian memerankan tokoh utama tersebut. Film berdurasi 135 menit ini mulai tayang di bioskop pada 29 Oktober 2026. Meski mengangkat kisah fiksi, ceritanya mengambil akar pada penculikan aktivis 1997–1998 yang hingga kini belum sepenuhnya terungkap.
Biasanya, orang masuk bioskop dengan persiapan berupa popcorn, minuman bersoda, dan keinginan untuk bisa terhibur setelahnya. Namun, menonton Laut Bercerita mungkin membutuhkan persiapan sedikit berbeda. Popcorn tetap boleh dibawa, tetapi tisu sebaiknya jangan sampai tertinggal. Ponsel juga perlu diatur dalam mode senyap. Bukan karena film ini penuh adegan mengejutkan, melainkan karena ada bagian-bagian yang mungkin membuat perasaanmu tiba-tiba hening.
Film Laut Bercerita berada di antara fiksi dan sejarah. Tokoh-tokohnya merupakan rekaan, tetapi latar peristiwanya merupakan fakta yang merujuk pada runtuhnya Orde Baru. Pada periode 1997–1998, sejumlah aktivis prodemokrasi mengalami penculikan dan penghilangan paksa. Sebagian berhasil kembali, sementara yang lain masih belum diketahui nasibnya hingga sekarang.
Mengenal Novel Laut Bercerita
Leila S. Chudori menulis novel Laut Bercerita berdasarkan pengalamannya sebagai wartawan. Riset sejarah dan penggambaran suasana politik masa itu terasa kuat sepanjang cerita.
Novel yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) pada 2017 ini menggunakan dua sudut pandang untuk membangun kisahnya. Bagian pertama dituturkan oleh Biru Laut, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada (UGM) yang aktif dalam kelompok diskusi Winatra. Sementara itu, bagian kedua mengambil sudut pandang Asmara Jati, adik Laut, yang menceritakan kehidupan keluarga setelah kehilangan sang kakak.
Melalui dua sudut pandang tersebut, pembaca tidak hanya mengikuti perjuangan para aktivis. Kita juga diajak melihat dampak penghilangan paksa terhadap orang-orang yang mereka tinggalkan.
Laut dan kawan-kawannya menghabiskan waktu dengan membaca buku, berdiskusi, serta memperdebatkan berbagai gagasan politik. Mereka membentuk kelompok dan organisasi untuk melawan ketidakadilan. Aktivitas yang sekarang mungkin terlihat seperti kegiatan diskusi mahasiswa biasa itu ternyata dianggap sebagai ancaman oleh penguasa pada masa tersebut.
Novel ini mendapat sambutan luas dari pembaca. Menurut sutradara filmnya, Yosep Anggi Noen, buku tersebut telah mengalami 125 kali cetak ulang dan terjual lebih dari satu juta eksemplar. Terjemahan bahasa Inggrisnya, The Sea Speaks His Name, diterbitkan Penguin Southeast Asia pada Februari 2020.
Sinopsis Film Laut Bercerita
Biru Laut tumbuh dalam keluarga yang hangat. Ia memiliki hubungan dekat dengan adiknya, Asmara Jati, serta sejumlah sahabat yang sama-sama memiliki kepedulian terhadap kondisi politik Indonesia.
Bersama Daniel Tumbuan, Alex Perazon, dan Sunu Dyantoro, Laut aktif mengikuti diskusi dan gerakan mahasiswa. Mereka juga berupaya membangun organisasi politik yang dilarang pemerintah saat itu. Aktivitas tersebut membuat mereka menjadi target pengawasan aparat.
Situasi kemudian berubah menjadi semakin berbahaya. Laut dan sejumlah rekannya ditangkap, diculik, serta mengalami penyiksaan. Sebagian aktivis akhirnya dibebaskan, tetapi Laut tidak pernah kembali ke rumah.
Di sisi lain, Bapak, Ibu, dan Asmara harus menghadapi kenyataan bahwa kehilangan seseorang tanpa kepastian jauh lebih menyakitkan daripada sekadar perpisahan. Mereka tidak tahu apakah Laut masih hidup, di mana ia berada, atau siapa yang bertanggung jawab atas kehilangannya.
Asmara kemudian ikut memperjuangkan keadilan bagi para korban penghilangan paksa. Bersama keluarga korban lainnya, ia terus mencari jawaban dan menuntut negara mengungkap kebenaran.
Sutradara dan Pemeran
Yosep Anggi Noen bertindak sebagai sutradara sekaligus penulis skenario bersama Leila S. Chudori. Film ini diproduksi Pal8 Pictures, rumah produksi di bawah Tempo Media Group. Proyek tersebut juga menjadi film panjang pertama bagi rumah produksi itu.
Sebelum tayang di bioskop Indonesia, Laut Bercerita lebih dulu melakukan pemutaran perdana di Busan International Film Festival pada 11 Oktober 2026. Menurut laporan Tempo, film ini menjadi film Indonesia pertama yang masuk kompetisi utama festival tersebut.
Kehadiran film ini di festival internasional sekaligus memperkenalkan salah satu bagian penting sejarah Indonesia kepada penonton lintas negara.
Berikut daftar pemeran utama film Laut Bercerita:
- Reza Rahadian sebagai Biru Laut
- Yunita Siregar sebagai Asmara Jati
- Christine Hakim sebagai Ibu Laut
- Arswendy Bening Swara sebagai Bapak Laut
- Dian Sastrowardoyo sebagai Kinan
- Eva Celia sebagai Ratih Anjani, kekasih Laut
- Kevin Julio sebagai Daniel Tumbuan
- Ben Nugraha sebagai Alex Perazon
- Dewa Dayana sebagai Sunu Dyantoro
Belajar sejarah melalui Film Laut Bercerita
Film ini bukan hanya menawarkan cerita yang kuat, tetapi juga mengajak penonton melihat kembali persoalan sejarah dan kehidupan demokrasi Indonesia.
Kamu mungkin masih ingat pelajaran tentang Reformasi 1998. Tanggal 21 Mei 1998, ketika Presiden Soeharto mengundurkan diri, barangkali masih tersimpan di kepala karena pernah muncul dalam soal ujian PPKn.
Namun, bagaimana dengan nasib para aktivis yang diculik menjelang peristiwa tersebut? Siapa yang bertanggung jawab? Mengapa sebagian keluarga masih belum mendapatkan kepastian?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak selalu mendapatkan ruang cukup dalam pembelajaran sejarah di sekolah. Padahal, memahami Reformasi tidak cukup hanya dengan menghafal tanggal dan pergantian kekuasaan.
Film Laut Bercerita bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal sisi lain sejarah tersebut. IKOHI Jawa Timur bahkan menilai film ini relevan bagi generasi muda karena membantu mereka memahami penculikan aktivis menjelang Reformasi.
Akhir Agustus 2025, demonstrasi besar berlangsung di berbagai kota setelah kendaraan taktis Brimob melindas pengemudi ojek daring Affan Kurniawan hingga meninggal dunia.
Peristiwa tersebut memicu gelombang kemarahan publik. Setelahnya, muncul berbagai laporan mengenai penangkapan demonstran dan orang-orang yang dikabarkan hilang. Situasi ini kembali memunculkan pembicaraan tentang kebebasan berpendapat, tindakan aparat, dan perlindungan hak asasi manusia.
Memang, situasi politik sekarang tidak bisa disamakan begitu saja dengan masa Orde Baru. Namun, film ini mengingatkan kita bahwa kebebasan berpendapat dan hak untuk mendapatkan perlindungan hukum bukan sesuatu yang boleh dianggap remeh.
Film ini memang tidak menunjuk secara langsung siapa yang harus disalahkan dalam situasi politik hari ini. Namun, ceritanya memperlihatkan konsekuensi ketika kekuasaan tidak disertai pertanggungjawaban.
Adaptasi novel populer bukan perkara mudah. Apalagi, novel Leila S. Chudori memiliki dua sudut pandang dan lapisan cerita yang cukup kompleks.
Yosep Anggi Noen harus menerjemahkan pengalaman membaca tersebut ke dalam bahasa visual. Ia juga perlu menjaga keseimbangan antara kisah personal keluarga Laut dan konteks sejarah yang melatarbelakanginya.
Musik turut menjadi bagian penting dalam membangun suasana film. Efek Rumah Kaca mengisi soundtrack melalui lagu berjudul “Matilah Kau Mati”. Kehadiran band ini terasa relevan dengan karakter cerita yang dekat dengan kehidupan anak muda, kegelisahan sosial, dan kritik terhadap kekuasaan.
Antusiasme penonton juga terlihat dari angka penjualan tiket. Film ini mencatat 180.292 penonton pada hari pertama penayangan di 514 bioskop.
Penutup
Biru Laut tidak pernah benar-benar mendapatkan kesempatan untuk pulang ke rumahnya. Namun, kisahnya kini sampai ke layar bioskop dan ruang diskusi generasi yang bahkan belum lahir ketika peristiwa tersebut terjadi.
Film Laut Bercerita mengingatkan kita bahwa sejarah tidak berhenti ketika sebuah rezim tumbang atau presiden mengundurkan diri. Ada persoalan yang tetap menggantung, keluarga yang terus menunggu, dan pertanyaan yang belum mendapatkan jawaban.
Setelah lampu bioskop menyala, kamu mungkin akan kembali menjalani rutinitas seperti biasa. Memeriksa ponsel, membalas pesan, mencari makan malam, atau mengeluhkan kemacetan saat perjalanan pulang.
Namun, film ini berusaha membekalimu dengan kesadaran bahwa kebebasan yang kita nikmati hari ini tidak datang begitu saja.