ADVERTISEMENT

Sepotong Hikayat Yamaha Alfa Mbah Modin, Suara Knalpotnya dari Alfa sampai Alfatiha

yamaha alfa legendaris

Ada satu satu suara yang, entah mengapa, selalu berhasil menembus keramaian sore di kampung saya. Bukan azan atau suara speaker toa masjid yang biasa mengumumkan warga meninggal atau kerja bakti. Ia datang dari knalpot tua Yamaha Alfa milik Mbah Modin. Sebuah bunyi yang terasa seperti detak jam dari zaman yang sudah lama berlalu, tapi masih setia berdenting hingga hari ini.

Sudah puluhan tahun motor itu menemani Mbah Modin berkeliling kampung. Warnanya sudah pudar dimakan matahari, catnya mengelupas di beberapa sudut bodi, dan percayalah mesinnya tetap menyala setiap kali distarter. Ada yang bilang, motor itu lebih tua dari sebagian warga yang tinggal di kampung ini.

“Kenapa nggak ganti motor baru saja, Mbah?” tanya saya dalam satu kesempatan.

Mbah Modin hanya tersenyum sambil membetulkan sarungnya. “Motor ini masih jalan. Masih bisa dipakai. Kalau diganti, nanti orang-orang malah bingung, dikira siapa yang lewat,” jawabnya sambil tersenyum.

Suara yang Menjadi Penanda Waktu

Bagi saya, ada sesuatu yang magis dari cara warga kampung merespons suara Yamaha Alfa itu. Begitu deru mesinnya terdengar dari ujung gang, ibu-ibu yang sedang menjemur pakaian akan menoleh sebentar, lalu bergumam pelan, “Oh, Mbah Modin lewat. Berarti sebentar lagi ada tahlilan.” Tidak ada pengumuman resmi, tidak ada pesan berantai di grup WhatsApp RT. Cukup suara motor itu, dan kampung seakan tahu harus bersiap.

Fenomena kecil semacam ini yang membuat saya percaya, benda-benda tua kadang menyimpan fungsi yang jauh melampaui wujud fisiknya. Yamaha Alfa, bagi Mbah Modin, tidak sekadar alat transportasi. Kuda besi itu adalah penanda waktu, semacam jam weker berjalan yang kebetulan berwujud motor bebek 2 tak keluaran akhir 80-an.

Menelusuri Jejak Sang Legenda Yamaha Alfa

Yamaha Alfa sendiri lahir pada 1988, hadir sebagai penerus dari Yamaha V-series yang sebelumnya sudah lebih dulu mengaspal sejak dekade 70-an. Kelahirannya membawa satu gebrakan yang, di masanya, terbilang cukup berani. Mulai rangka pipa besi yang dibalut bodi plastik secara menyeluruh, sebuah konsep yang kemudian menjadi cetak biru bagi hampir seluruh motor bebek yang lahir setelahnya.

Di jalanan, Yamaha Alfa tidak sendirian. Ada Suzuki RC100 yang menjadi rival sepadan, sama-sama mengandalkan mesin 2 tak berkapasitas 100 cc. Persaingan keduanya turut mewarnai riuhnya pasar motor bebek Indonesia pada masa itu.

Dapur pacunya, jika ditelusuri lebih jauh, mengandalkan mesin 2 tak satu silinder berkapasitas 102,1 cc, dengan diameter dan langkah 50,0 x 52,0 mm, ditopang karburator sebagai sistem bahan bakarnya, serta transmisi manual 4 percepatan. Di beberapa varian setelahnya, kapasitas ini sempat naik ke kisaran 105 cc, sebuah upaya kecil mengejar performa dan efisiensi yang lebih baik.

Dimensinya pun tergolong ringkas untuk ukuran motor pria dewasa. Panjang 1.860 mm, lebar 635 mm, dan tinggi 1.015 mm, dengan jarak sumbu roda 1.190 mm. Suspensi depannya teleskopik, suspensi belakang mengandalkan lengan ayun dengan shockbreaker, sementara rem depan dan belakangnya masih setia dengan sistem tromol. Sangat sederhana, tapi cukup bisa diandalkan untuk medan kampung yang tak selalu mulus.

Mesin Kecil dengan Tenaga yang Tak Terduga

Ada yang menarik dari karakter mesin 2 tak semacam ini. Meski kapasitasnya kecil, tenaganya terasa jauh lebih galak dibanding bayangan orang pada umumnya. Barangkali inilah salah satu alasan mengapa Mbah Modin tak pernah terpikir untuk berganti motor, meski jarak antar rumah yang beliau kunjungi kadang tak dekat, dan jalannya tak selalu rata.

Soal boros bahan bakar, memang benar adanya. Mesin 2 tak dikenal kurang irit dibanding saudaranya yang 4 tak. Namun bagi generasi yang tumbuh bersama Yamaha Alfa, hal ini tak pernah jadi soal besar. Harga bensin dulu belum setinggi sekarang, dan orang-orang lebih peduli pada ketangguhan mesin ketimbang hitung-hitungan liter per kilometer. Karakter “boros tapi galak” itu pula yang hingga kini masih membuat Alfa memiliki penggemar fanatiknya sendiri.

Mengapa Suara Yamaha Alfa Itu Begitu Berwibawa

Saya sering bertanya-tanya, dari mana datangnya wibawa yang melekat pada suara motor setua itu. Mungkin karena Yamaha Alfa adalah motor lawas, yang tetap tangguh diajak ngaspal, dari yang mulus sampai berlubang.

Ada pula soal asap dan suara yang berperan sebagai sinyal sebelum wujud orangnya terlihat, kehadirannya sudah lebih dulu terdengar. Efek semacam ini sukar ditiru motor keluaran terbaru, sehalus apa pun suara mesinnya.

Faktor kelangkaan turut menambah bobot itu. Yamaha Alfa kini jarang terlihat melintas di jalan raya, sehingga siapa pun yang masih setia menungganginya secara rutin, otomatis dianggap menyimpan sesuatu yang tak dimiliki kebanyakan orang. Merawat motor 2 tak pun bukan perkara mudah. Mulai dari mencampur oli samping dengan takaran yang pas, hingga menjinakkan karburator yang kadang rewel. Semua itu menuntut jam terbang, dan jam terbanglah yang pada akhirnya menempa wibawa itu sendiri.

Dari Kendaraan Harian Menjelma Ruang Kenangan

Kini, posisi Yamaha Alfa telah bergeser jauh dari fungsi awalnya. Yang dulu menjadi kendaraan harian biasa, kini lebih sering dipandang sebagai barang antik yang layak dijaga baik-baik, sebagaimana yang dilakukan Mbah Modin selama ini.

Di berbagai forum otomotif klasik, komunitas pemilik motor 2 tak kian rajin memburu unit-unit Alfa yang masih orisinal. Semakin lengkap komponen bawaannya, semakin tinggi pula nilainya di mata para kolektor. Fenomena ini rasanya wajar, mengingat motor 2 tak semacam ini memang sudah lama berhenti diproduksi. Regulasi emisi yang kian ketat perlahan menyingkirkannya dari pasar, dan yang tersisa kini menjelma catatan sejarah dari perjalanan panjang industri otomotif Tanah Air.

Namun bagi Mbah Modin, urusannya barangkali tak serumit itu. Motornya bukan barang pajangan yang disimpan rapi di garasi, melainkan kendaraan yang tetap berjalan setiap hari. Mengantarnya dari satu rumah ke rumah lain. Pokoknya, selama knalpotnya masih setia bersuara nyaring dari ujung gang, warga kampung tahu persis. Sebentar lagi tahlil akan segera dimulai.

Ibil S Widodo

Kontributor aktif media opini dan satir.

Exit mobile version