ADVERTISEMENT

Hoki Bukan Mukjizat yang Tiba-Tiba Jatuh dari Langit! Ternyata Hoki Ada Rumusnya

Hoki Bukan Mukjizat yang Tiba-Tiba Jatuh dari Langit! Ternyata Hoki Ada Rumusnya

Ketika bicara soal keberuntungan atau hoki, kita kerap mengaitkannya ke masalah keajaiban. Mau itu dalam ranah karier, kehidupan pribadi, bahkan masalah perjudian sekalipun. Kita bahkan memercayai bahwa hoki itu adalah sesuatu yang turun dari langit, semacam berkah, mukjizat, atau wahyu. Kenyataannya tidak seperti itu. Hoki ternyata ada rumusnya yang sangat bisa kita pelajari dan kita terapkan.

Rumus hidup hoki sebenarnya sederhana saja. Kuncinya sederhana, yaitu persiapan, kesempatan, serta aksi dan risiko. Selama kita punya persiapan yang cukup matang untuk berada di setiap situasi, selama kita terus membuka kesempatan, dan selama kita berani beraksi dan tahu risikonya, maka keberuntungan atau hoki akan mengiringi. Peluang untuk beruntung akan semakin besar.

Seorang profesor psikologi asal Inggris, Richard Wiseman, pernah melakukan penelitian bertahun-tahun tentang orang-orang yang menganggap dirinya beruntung dan tidak beruntung. Hasil penelitiannya terdapat dalam buku “The Luck Factor” yang terbit pada 2003. Menurut Wiseman, keberuntungan atau hoki itu ada polanya. Wiseman merangkumnya menjadi 4 cara untuk bisa hoki dalam hal apapun.

1. Selalu Membuka Mata untuk Peluang dan Kesempatan

Seseorang yang menganggap dirinya beruntung cenderung tidak terlalu terpaku pada satu rencana saja. Mereka lebih terbuka terhadap orang baru, informasi baru, dan situasi baru yang mungkin saja tidak sesuai rencana. Ini artinya, seseorang harus selalu membuka mata, harus jeli terhadap peluang dan kesempatan baru.

Implementasi dari terbuka akan peluang dan kesempatan ini ada banyak. Beberapa di antaranya adalah dengan membuka diri kepada banyak orang, membangun jaringan-jaringan dengan orang baru. Sederhananya, keluar rumah, ngobrol dengan orang, cari teman baru. Dengan ini, orang lain akan tahu siapa kita, apa keahlian kita, dan kita bisa punya koneksi baru. Ini bisa jadi pintu masuk dari peluang-peluang baru yang akan datang.

Intinya, jadilah orang yang lebih fleksibel, jangan terlalu terpaku pada textbook. Jangan terlalu saklek. Kesempatan bisa saja lewat begitu saja kalau terlalu sibuk dan saklek dengan tujuan awal.

2. Tidak Mengabaikan Intuisi untuk Meraih Hoki

Salah satu ciri orang yang selalu hoki adalah mereka tidak pernah mengabaikan intuisi atau kata hati. Orang yang hoki adalah orang yang merasa beruntung cenderung memperhatikan intuisi mereka ketika mengambil keputusan. Dengan memperhatikan intuisi, kita juga melatih pikiran menjadi lebih peka. Jadi, ketika kita dihadapkan dengan pilihan, kita bisa menentukan sesuatu dengan tepat, dan peluang berhasilnya lebih tinggi.

Namun, tidak mengabaikan intuisi bukan berarti kita harus mentah-mentah setiap firasat atau kata hati yang muncul. Kita tetap perlu menempatkan intuisi dalam konteks. Pengalaman, informasi, dan pertimbangan rasional tetap penting, terutama ketika kita mengambil keputusan yang punya risiko besar. Intinya, jangan sampai terlalu sibuk menganalisis sampai akhirnya kesempatan yang ada di depan mata malah lewat.

Intuisi memang bukan jadi yang utama, tapi tetap tidak boleh kita abaikan. Melibatkan kata hati dalam setiap keputusan akan membawa kita ke banyak keberuntungan.

3. Selalu berkeyakinan positif dan manifesting hal-hal baik

Orang beruntung itu hampir semuanya adalah orang yang yakin, orang yang optimis. Mereka cenderung memiliki harapan bahwa sesuatu yang baik bisa terjadi. Sikap optimistis atau berkeyakinan positif bisa membuat seseorang lebih terbuka untuk mencoba, bertemu orang baru, dan mengambil kesempatan-kesempatan yang ada.

Orang yang optimis, orang yang berkeyakinan positif, pasti akan manifesting hal-hal yang baik.

Richard Wiseman mengaitkannya dengan konsep self-fulfilling prophecy. Ini adalah konsep di mana keyakinan atau sikap optimisme kita akan memengaruhi perilaku atau sikap kita. Sehingga apa yang kita inginkan akan menjadi kenyataan. Sebaliknya, kalau dari awal sudah yakin bakal gagal, kita mungkin justru menghindari kesempatan sebelum benar-benar mencobanya.

Intinya, kita harus punya keyakinan atau ekspektasi positif terhadap apa-apa yang ingin kita tuju. Jalannya mungkin tidak akan mudah, tapi jika kita yakin bahwa kita akan berhasil, maka peluang keberhasilannya akan terbuka lebar.

4.Jangan Berhenti ketika Gagal agar Hoki Tidak Berakhir

Kegagalan kerap terasosiasikan dengan kesialan. Bagi orang yang merasa sial, mungkin memang begitu. Tapi bagi orang yang merasa beruntung, kegagalan hanyalah batu sandungan biasa. Orang yang beruntung cenderung melihat kesialan atau kegagalan sebagai sesuatu yang sementara. Mereka memilih untuk mencari kemungkinan lain dari situasi tersebut dan mengubah kesialan menjadi keberuntungan.

Contoh kasus yang paling sederhana adalah ketika kita gagal mendapatkan pekerjaan. Bagi banyak orang, kegagalan ini mereka artikan sebagai kesialan yang membuat mereka terpuruk. Tapi akan lebih baik jika kegagalan itu kita ubah jadi peluang keberuntungan. Pengalaman kegagalan wawancara atau tes kerja bisa menjadi latihan untuk kesempatan berikutnya, sekaligus membuka kemungkinan bertemu orang atau informasi baru.

Intinya, jangan berhenti ketika sedang apes atau mengalami kegagalan. Ini bukan berarti kegagalan harus selalu dianggap sebagai hal positif, lho, ya. Tapi kalau mau hidup hoki, kita harus bisa segera bangkit dan belajar dari kegagalan sebelumnya. Jangan malah menyerah begitu saja.

Keempat prinsip atau rumus hoki ala Richard Wiseman di atas bisa kita terapkan di banyak aspek kehidupan. Perlu kita ketahui juga bahwa rumus hoki ini bukan hal yang saklek. Tidak ada jaminan yang pasti. Rumus ini hanya sekadar memperluas kesempatan dan memperbanyak peluang kita untuk lebih beruntung dalam hidup.

Apa yang Richard Wiseman paparkan bukan semacam juga lebih dekat dengan perilaku dan cara berpikir. Orang yang merasa dirinya beruntung cenderung lebih terbuka terhadap pengalaman, lebih memperhatikan lingkungan sekitar, punya jaringan sosial yang lebih luas, dan lebih siap memanfaatkan kesempatan yang muncul secara tidak terduga.

Jadi, kalau selama ini kita merasa hidup kurang hoki, jangan buru-buru berharap ada keajaiban jatuh dari langit. Kita hanya perlu sedikit lebih sering membuka pintu agar kesempatan demi kesempatan itu mau mampir, dan agar segala kesialan bisa segera menguap ke udara.

Iqbal AR

Penulis dan reporter lepas. Tinggal di Malang.