Di tengah kehidupan yang berjalan semakin cepat, gaya hidup lambat atau slow movement hadir sebagai sebuah perlawanan. Dalam spektrum gaya hidup lambat, orang-orang mengenal salah satunya dengan sebutan Slow Living. Slow living bertujuan untuk melawan ketergesaan, sekaligus mengajak manusia untuk menikmati tiap detik kehidupannya.
Namun, slow living bukanlah satu-satunya bagian dari gaya hidup lambat. Ada yang namanya slow food, slow fashion, slow travel, dan slow parenting. Sama seperti tujuan besar slow living, keempat gaya hidup lambat ini juga ingin mengajak manusia untuk lebih sadar dalam menjalani kehidupan, menikmati proses, dan mempertimbangkan dampak dari setiap pilihan. Tentu dalam bagiannya masing-masing.
1. Slow food, ajakan untuk lebih menikmati dan menghargai sebuah makanan
Slow food menjadi embrio lahirnya gaya hidup lambat yang kita ketahui sekarang. Gerakan ini bermula sebagai sebuah perlawanan terhadap restoran cepat saji McDonald’s di Italia. Selain sebagai bentuk perlawanan, Carlo Petrini menginisiasi gerakan ini dengan tujuan untuk melestarikan pangan lokal, memberdayakan hasil pertanian lokal, sekaligus mempromosikan pola makan yang berkelanjutan.
Gerakan slow food mampu memantik kesadaran kita akan makanan yang kita konsumsi. Soal dari mana makanan itu berasal, bagaimana proses pengolahannya, serta siapa saja yang berperan dalam proses tersebut. Jadi, gerakan ini bukan tentang ajakan untuk makan lebih pelan, tentang enak-tidaknya makanan atau tentang kenyang-tidaknya kita. Ini tentang bagaimana kita menghargai sebuah makanan.
Jadi, abaikan saja makanan-makanan viral atau promo-promo di restoran cepat saji. Akan lebih baik jika kita masak sendiri, atau minimal beli makanan di warung sekitar kita. Itu adalah contoh penerapan slow food paling mudah.
2. Slow fashion, upaya “melawan” tren menumbuhkan kesadaran akan sebuah pakaian
Sama seperti industri pangan, industri fashion juga bergerak sangat cepat. Tren baru bermunculan tiap harinya, seakan memaksa kita para konsumen untuk ikut bergerak mengikuti tren tersebut. Di sinilah gerakan slow fashion hadir sebagai antitesis dari cepatnya pergerakan tren fashion.
Gerakan ini bukan mengajak kita untuk stop membeli pakaian. Gerakan ini malah mengajak kita untuk membeli pakaian dengan lebih sadar. Tentang kualitas, daya tahan, proses produksi, hingga dampak lingkungan bisa menjadi pertimbangan sebelum membeli. Termasuk untuk lebih mengutamakan produk-produk lokal.
Sederhananya, gerakan ini mengajak kita untuk membeli pakaian sesuai kebutuhan, bukan sesuai tren. Tidak apa-apa kalau baju kita itu-itu saja, asalkan tidak ada yang terbuang atau tergeletak sia-sia.
3. Slow travel, mengutamakan pengalaman dan kedekatan emosional saat liburan
Liburan nyatanya juga tidak lepas dari aspek ketergesaan. Manusia kerap memposisikan liburan sebagai sebuah perlombaan. Datang ke sebuah kota, mengunjungi sebanyak mungkin tempat, mengambil foto sebanyak-banyaknya, lalu pindah ke destinasi berikutnya. Elemen liburan yang harusnya jadi melepas penat, malah menjadi sumber kepenatan baru.
Gerakan slow travel hadir untuk melawan itu semua. Gerakan ini mengajak kita untuk lebih menikmati tempat liburan lebih dalam. Waktu yang habis untuk berpindah-pindah tempat, akan lebih baik jika kita gunakan untuk mengeksplorasi satu tempat dengan maksimal. Kita lebih bisa menikmati budaya lokal, mencicipi makanan setempat, nongkrong sama masyarakat, atau sekadar menikmati suasana tanpa harus merasa dikejar waktu.
Toh, tidak ada salahnya juga kalau misalnya kita liburan 3 hari di satu tempat/kota saja. Pengalamannya akan lebih berharga ketimbang liburan 1 minggu tapi pindah kota 3-4 kali.
4. Slow parenting, memberikan ruang bertumbuh kepada anak
Gerakan ini sekilas seperti gerakan untuk membiarkan atau mengumbar anak tumbuh tanpa pengawasan dan didikan. Maksudnya bukan seperti itu. Gerakan slow parenting bertujuan untuk memberikan ruang lebih kepada anak untuk tumbuh. Gerakan ini mengajak orang tua untuk tidak memberikan tekanan yang berlebih kepada anak. Biarkan anak-anak berkembang sesuai ritmenya.
Sebagai contoh, anak tidak harus ikut les piano, les renang, les bahasa inggris, dan les matematika secara bersamaan. Biarkan anak memilih apa yang ingin mereka lakukan, tentu dengan bimbingan para orang tua. Biarkan pula anak memiliki waktu bermain dan beristirahat yang cukup. Biarkan anak punya waktu untuk berkumpul dengan keluarga dan bergaul dengan lingkungan sekitar.
Gerakan ini juga bukan berarti orang tua menjadi pasif. Sebaliknya, orang tua perlu lebih hadir dan memperhatikan kebutuhan anak, bukan sekadar mengejar target perkembangan tertentu. Dengan begitu, hubungan antara anak dan orang tua, anak dan lingkungan sekitar bisa terasa lebih natural dan tidak selalu dipenuhi tuntutan.
Benang merah keempat gerakan slow movement
Gerakan slow food, slow fashion, slow travel, dan slow parenting memang mempunyai bidang yang berbeda. Namun, sebagai sebuah kesatuan gerakan slow movement, keempatnya punya benang merah bahwa kita tidak perlu melakukan semua hal di dunia ini dengan terburu-buru. Mulai dari soal makanan, pakaian, liburan, hingga soal parenting.
Jadi, gaya hidup lambat bukan berarti menolak kehidupan modern atau sengaja melakukan semuanya dengan pelan. Slow movement malah mengajak kita memilih mana yang memang perlu dikejar dan mana yang sebenarnya bisa dinikmati dengan lebih santai. Dengan begitu, kita justru mulai menemukan kembali waktu yang selama ini hilang karena terlalu sibuk mengejar semuanya.
