ADVERTISEMENT

Erupsi Krakatau Bisa Menghasilkan Dentuman Hingga Ratusan Kilometer? Begini Penjelasan Ilmiahnya

gunung anak krakatau 2016

Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali meningkat pada awal September 2026. Pada tanggal 4 September malam, gunung yang berada di Selat Sunda ini mengalami erupsi terus menerus yang berlangsung sekitar 25 jam. Badan Geologi juga melaporkan dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran tentang adanya suara gemuruh. Tidak hanya gemuruh, erupsi ini bahkan menghasilkan dentuman keras yang terdengar hingga Bandung.

Fenomena ini kembali mengingatkan kita tentang salah satu erupsi yang paling dahsyat dalam sejarah peradaban umat manusia. Pada 1883, Gunung Krakatau mengalami erupsi hebat yang memengaruhi banyak aspek dalam peradaban manusia. Perubahan geografi, iklim, hingga atmosfer terjadi akibat peristiwa ini. Satu hal yang pasti, erupsi itu juga menghasilkan suara dentuman hebat, yang bahkan terdengar hingga radius ribuan kilometer.

Melihat bagaimana dampak dari erupsi Krakatau, kita mungkin menyimpan satu pertanyaan. Mengapa erupsi gunung tersebut bisa menghasilkan suara dentuman yang hebat dengan jangkauan sejauh itu? Bagaimana penjelasan ilmiahnya?

 

Erupsi Krakatau Menghasilkan Ledakan yang Sangat Besar

Ketika sebuah gunung mengalami erupsi, magma yang naik dari dalam bumi melepaskan energi besar-besaran ke atmosfer. Material vulkanik, gas panas, hingga udara terdorong tiba-tiba dari sumber letusan. Pergerakan massa yang sangat cepat itu kemudian menghasilkan perubahan tekanan yang menjalar ke atmosfer. Semakin besar ledakannya, semakin besar pula energi yang masuk ke atmosfer.

Itulah gambaran yang terjadi pada Gunung Krakatau pada Agustus 1883. Tahap akhir letusan Krakatau saat itu sampai menghancurkan sebagian besar pulau di sekitarnya hingga membentuk kaldera. Para peneliti memaparkan bahwa ledakan terbesar Krakatau menghasilkan gelombang udara yang sangat kuat. Gelombang tersebut juga muncul bersamaan dengan gelombang laut besar yang kemudian menimbulkan tsunami.

 

Ini adalah gelombang tekanan, bukan sekadar suara

Apa yang kita sebut sebagai dentuman atau suara erupsi sebenarnya adalah gelombang tekanan di udara. Teori dasarnya, gelombang suara bisa muncul ketika suatu sumber memberikan gangguan pada medium. Dalam konteks erupsi, ledakan memberikan dorongan kuat terhadap atmosfer. Udara lalu mengalami kompresi dan bergerak sebagai gelombang tekanan.

Erupsi vulkanik juga menghasilkan infrasonik. Infrasonik merupakan gelombang suara yang frekuensinya berada di bawah 20 Hz. Artinya, manusia tidak bisa mendengar suara ini sebab gelombang suaranya berada di bawah batas pendengaran kita. Itulah mengapa para ilmuwan menggunakan sensor infrasonik untuk mendeteksi aktivitas vulkanik dari jarak yang jauh.

 

Mengapa suara dentuman Krakatau bisa terdengar sampai jauh?

Sederhananya karena besarnya energi ledakan atau erupsi, serta kondisi atmosfer. Ledakan atau erupsi yang besar tentunya menghasilkan gelombang dengan energi yang besar. Gelombang tersebut bergerak melalui atmosfer. Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa erupsi menghasilkan gelombang berfrekuensi rendah (infrasonik) yang punya daya tahan lebih baik di atmosfer. Gelombang inilah yang mampu merambat dan menempuh jarak lebih jauh.

Terkait dentuman dari Krakatau yang terdengar jauh, vulkanologi Institut Teknologi Bandung, Mirzam Abdurrachman memberikan paparannya. Melansir Kompas, Mirzam mengatakan bahwa perbedaan temperatur antara permukaan bumi dan atmosfer serta kondisi angin dapat membuat gelombang suara membelok dan merambat hingga jarak yang lebih jauh. Dengan kondisi atmosfer tertentu, gelombang suara dari aktivitas erupsi dapat merambat menjauhi sumber letusan dan terdengar di wilayah yang cukup jauh.

Selain itu, adanya pelepasan energi akustik yang besar juga berpengaruh terhadap besarnya dentuman yang terdengar. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Rita Susilawati, juga menjelaskan mengenai suara dentuman Krakatau ini. “Ketika ini (erupsi) terjadi, pelepasan energi akustiknya itu bisa sangat besar, dan energi akustik inilah yang bisa merambat hingga ratusan kilometer,” ujarnya seperti dilansir Kompas.

 

Krakatau 1883 dan Anak Krakatau 2026

Aktivitas Gunung Anak Krakatau pada September 2026 memang menghasilkan suara gemuruh dan dentuman yang mengkhawatirkan. Suara gemuruh dan dentumannya bahka terdengar sampai Bandung yang berjarak ratusan kilometer. Aktivitas Anak Krakatau tidak hanya mengingatkan kita untuk tetap waspada. Ini juga mengingatkan kita akan peran atmosfer.

Erupsi dapat menghasilkan gelombang tekanan yang bergerak jauh dari sumbernya. Pada letusan ekstrem seperti Krakatau di tahun 1883, gelombang tersebut bahkan dapat mengelilingi Bumi dan tercatat oleh instrumen di berbagai wilayah. Bayangkan, satu gunung meletus di Selat Sunda, tapi satu dunia bisa mendengarnya. Ngeri, kan?

Rahasia dentuman Krakatau bukan berada pada keras atau tidaknya erupsinya. Mau keras atau tidak, erupsi vulkanik tetap saja memberikan energi yang besar kepada atmosfer. Energi itu lalu bergerak merambat di atmosfer. Letusan Krakatau tahun 1883 sudah menunjukkan batas ekstrem fenomena tersebut. Lalu erupsi Anak Krakatau pada September 2026 mengingatkan kita bahwa gunung api ini masih sangat aktif. Bapak dan anak masih sama bahayanya.

Memahami fenomena dentuman Krakatau secara ilmiah memang menarik. Namun, lebih menarik dan lebih penting lagi adalah bagaimana kita mempersiapkan mitigasi bencananya. Apalagi kalau tinggalnya nggak jauh dari sana. Jangan sampai terlalu asyik mengulik soal dentuman Krakatau, tapi lupa soal mitigasi. Bisa bahaya nanti.

Iqbal AR

Penulis dan reporter lepas. Tinggal di Malang.