ADVERTISEMENT

Beras Fortifikasi Itu Apa? Ini Alasan Ramai Dibicarakan dan Bedanya dari Beras Biasa

Beras Fortifikasi Itu Beras Apa Kok Sampai Jadi Perbincangan? Ini Pengertian dan Bedanya dengan Beras Biasa

Bagi orang yang nggak pernah turun tangan dalam urusan dapur dan rumah tangga, mungkin nggak akan pernah beras fortifikasi. Orang-orang yang nggak mengikuti berita, mungkin nggak akan tahu juga tentang beras ini. Tapi bagi orang yang mengurusi urusan dapur, rumah tangga, dan mengikuti berita, pasti tahu beras jenis ini, dan pasti sedang marah.

Bagaimana nggak marah? Pada Selasa, 15 September 2026 kemarin, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengungkap temuan adanya 25 merek beras fortifikasi palsu. Beras-beras tersebut belum memenuhi standar fortifikasi dan sayangnya sudah beredar di pasaran, dan harga jualnya juga sangat tinggi. Beras yang seharusnya dijual dengan harga 13 ribu per kilo, malah ada yang dijual dengan harga 57 ribu per kilo. Ngawur banget, kan?

Kejadian ini tentu memicu kemarahan publik. Kita berhak marah. Tapi sebelum marah lebih lanjut, kita perlu paham dulu apa itu beras fortifikasi dan apa bedanya dengan beras biasa.

Apa itu beras fortifikasi?

Kalau mengacu pada panduan teknis Badan Pangan Nasional (Bapanas), produk ini adalah beras sosoh yang ditambahkan dengan kernel (butiran) beras fortifikan untuk mendapatkan komposisi zat gizi tertentu. Kernel beras fortifikan merupakan butiran beras yang sebelumnya sudah diperkaya dengan zat gizi tertentu. Sementara itu, fortifikasi sendiri berarti menambahkan satu atau lebih zat gizi ke dalam pangan untuk membantu meningkatkan status gizi masyarakat.

Pengertian sederhananya, beras fortifikasi adalah beras yang sudah ditambahkan zat gizi tertentu melalui teknologi pangan untuk meningkatkan kandungan nutrisinya. Jadi, beras jenis ini bukan berarti beras yang dari awal memiliki kandungan vitamin dan mineral lebih tinggi secara alami.

Kandungan tambahannya pun nggak asal-asalan. Dalam beras jenis ini, kandungan nutrisi tambahannya berupa vitamin B1, asam folat, vitamin B12, zat besi, dan zinc dengan komposisi yang sudah ditentukan. Komposisinya  Semua kandungan ini harus ada dalam setiap 100 gram beras.

Penambahan zat gizi tersebut membuat beras varian ini memiliki nilai tambah dari sisi kandungan mikronutrien. Bapanas menjelaskan bahwa mereka memilih beras sebagai salah satu media fortifikasi karena merupakan pangan pokok yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Dengan begitu, mereka berharap bahwa kehadiran beras ini dapat membantu meningkatkan asupan zat gizi mikro tanpa mengharuskan masyarakat mengubah kebiasaan makan secara drastis.

Beras fortifikasi dan beras biasa, apa bedanya?

Perbedaan antara beras fortifikasi dan beras biasa terletak pada proses dan kandungan gizinya. Beras biasa nggak mendapatkan tambahan vitamin dan mineral melalui proses fortifikasi. Kandungan gizinya utamanya berasal dari karakteristik alami beras dan proses penggilingannya. Sementara itu, beras versi yang diperkaya gizi ini melewati proses fortifikasi khusus. Akibat proses fortifikasi ini, beras menjadi punya zat gizi tambahan yang lebih dari beras biasa.

Perbedaan kandungan gizi ini membuat beras jenis ini punya value lebih ketimbang beras biasa. Beras ini punya kandungan mikronutrien yang mampu meningkatkan asupan vitamin dan mineral melalui makanan pokok yang sudah biasa dikonsumsi. Bukan berarti lebih sehat, tapi dengan mengonsumsi beras ini, sudah banyak asupan gizi kita yang tercukupi. Kalau beras biasa ya belum bisa seperti ini.

Selain perkara proses dan kandungan gizi, perbedaan keduanya ada pada pelabelan atau penyebutan informasi di kemasan. Beras jenis ini wajib hukumnya mencantumkan informasi nilai gizi yang sesuai dengan kandungan produknya. Pencantumannya juga nggak boleh ngasal, harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Secara harga, baik beras fortifikasi dan beras biasa sebenarnya mirip. Selisihnya pun hanya seribu atau dua ribu. Hanya saja, banyak merek di pasaran yang harganya jauh di atas harga yang seharusnya. Makanya, banyak yang menganggap bahwa beras versi bergizi ini lebih mahal ketimbang beras biasa. Sialnya, harga mahal itu belum tentu dapat beras yang asli. Bisa saja dapat versi palsu yang kandungan zat gizinya nggak sesuai.

Harus teliti membeli beras agar nggak dapat yang palsu

Maka dari itu, perlu ketelitian dalam mencari atau membeli beras fortifikasi. Sebagai konsumen, kita perlu punya pemahaman mengenai seluk-beluk beras tersebut. Mulai dari merek, bentuk kernel fortifikan, hingga pemahaman membaca label kemasan. Jangan sampai kita tertipu beli beras dengan harga mahal, tapi kandungan gizinya nggak sesuai alias dapat yang palsu.

Kalau mau beli beras jenis. ini, mending beli dari merek yang memang mainnya di fortifikasi. Kalau masih ragu, baca informasi nilai gizinya di belakang kemasan. Baca juga label dan izin edarnya. Jangan hanya terpaku pada klaim di depan saja. Sekalian lihat butiran berasnya, apakah ada kernel beras fortifikasinya. Bisa kita bedakan, kok.

Itulah gambaran tentang beras fortifikasi. Pada dasarnya, ini bukan jenis beras yang sama sekali berbeda dari beras biasa. Keduanya sama-sama berasal dari beras, tetapi versi bernutrisi ini mendapatkan tambahan zat gizi tertentu melalui proses yang terstandar. Beras fortifikasi juga merupakan bagian dari agenda fortifikasi pangan yang bertujuan untuk membantu mengatasi kekurangan zat gizi mikro di masyarakat.

Iqbal AR

Penulis dan reporter lepas. Tinggal di Malang.

Exit mobile version