Pendidikan Montessori populer di Indonesia sebagai salah satu metode pembelajaran terbaik untuk anak usia dini. Padahal metode pembelajaran tidak cuma Montessori saja, orang tua bisa mempertimbangkan empat model pendidikan anak usia dini lain yang tidak kalah bagusnya.
Ada Waldorf yang menekankan imajinasi dan seni, Reggio Emilia yang menjadikan anak sebagai peneliti aktif, HighScope yang berbasis rencana-lakukan-ulas, serta BCCT (Beyond Centers and Circle Time) yang lahir dari konteks Indonesia dan memakai sistem sentra.
Banyak orang tua mendengar kata Montessori sekali, lalu menganggapnya satu-satunya pilihan terbaik. Padahal empat model lain sudah teruji lama, bahkan sebagian lahir dari riset puluhan tahun di negara berbeda.
Waldorf, Reggio Emilia, HighScope, dan BCCT punya cara masing-masing mendekati anak, dan salah satunya mungkin lebih cocok untuk buah hati kamu dibanding pendidikan Montessori.
Kenapa Perlu Tahu Selain Pendidikan Montessori
Metode pendidikan Montessori memang populer. Anak belajar mandiri lewat alat peraga khusus, di lingkungan yang tertata rapi. Tapi tidak semua anak cocok dengan pendekatan semacam itu. Anak yang senang berlari, berimajinasi jadi tokoh dongeng, atau mengobrak-abrik mainan tanpa aturan main akan merasa terkekang di kelas Montessori. Anak yang senang menyusun benda sesuai ukuran atau mengulang satu kegiatan sampai tuntas justru berkembang pesat dengan metode ini.
Karakter anak menentukan metode mana yang cocok, bukan sekolah mana yang ramai dibicarakan tetangga atau sedang viral di media sosial. Anak introvert yang butuh waktu sendiri untuk mengamati sebelum ikut kegiatan lebih nyaman di Reggio Emilia, karena guru memberi ruang eksplorasi tanpa target. Anak yang mudah bosan dengan rutinitas kaku cocok di Waldorf, yang mengutamakan cerita dan permainan imajinatif. Anak yang senang membuat rencana sendiri lalu menceritakan hasilnya tumbuh baik di HighScope.
Amati dulu bagaimana anak bermain di rumah, baru pilih metode pembelajaran yang sesuai.
1. Waldorf: Dunia Imajinasi Jadi Kelas Utama
Rudolf Steiner mengembangkan Waldorf pada awal abad ke-20. Model ini menekankan imajinasi, seni, dan ritme keseharian anak. Guru Waldorf sengaja menjauhkan anak dari layar gawai dan mainan elektronik selama tahun-tahun awal sekolah. Anak bermain dengan boneka kain sederhana, kayu, dan bahan alami lain yang merangsang daya khayal.
Beberapa sekolah Waldorf berdiri di Bandung dan Jakarta. Setiap pagi, guru mengajak anak menyanyi, menari, dan mendongeng sebelum masuk materi pelajaran.
Guru juga mengulang cerita yang sama selama beberapa hari berturut-turut agar anak meresapi makna di baliknya. Pendekatan ini cocok untuk orang tua yang ingin anak tumbuh perlahan tanpa membebani mereka dengan target akademik.
2. Reggio Emilia: Anak Sebagai Peneliti Kecil
Reggio Emilia lahir di Italia pasca Perang Dunia Kedua. Model ini memandang anak sebagai individu yang mampu berpikir kritis sejak usia dini. Guru tidak menyusun kurikulum kaku di awal tahun ajaran. Mereka mengamati rasa penasaran anak, lalu merancang proyek belajar dari minat itu.
Sebagai contoh, misalnya siswa menemukan sarang semut di halaman sekolah. Guru Reggio Emilia akan mengembangkan proyek mengamati semut selama berminggu-minggu, lengkap dengan menggambar, mendiskusikan, dan mendokumentasikan temuan mereka.
Guru memajang karya anak rapi di ruang kelas, karena Reggio Emilia menganggap lingkungan sebagai guru ketiga setelah orang tua dan pengajar. Model ini melatih anak berpikir mandiri sejak dini, sekaligus bekerja sama dengan teman sebaya.
Reggio Emilia dan pendidikan Montessori sama-sama menghargai kemandirian anak, tapi berjalan di jalur berbeda. Montessori memakai alat peraga khusus dengan urutan penggunaan yang jelas. Reggio Emilia membiarkan proyek berkembang sesuai arah rasa ingin tahu anak tanpa alat baku. Guru Montessori berperan sebagai pemandu individual. Guru Reggio Emilia mendorong diskusi kelompok secara aktif.
3. HighScope: Belajar Lewat Rencana-Lakukan-Ulas
HighScope mengembangkan siklus belajar bernama “plan-do-review” atau rencana-lakukan-ulas. Setiap pagi, anak merencanakan sendiri kegiatan yang ingin mereka lakukan. Mereka lalu menjalankannya di area bermain yang guru siapkan sebelumnya. Setelah itu, anak duduk bersama dan menceritakan apa yang baru saja mereka kerjakan.
Sekolah yang menerapkan HighScope biasanya membagi ruang kelas menjadi beberapa area. Anak bebas berpindah area sesuai minat, tapi tetap melalui tahap merencanakan dan mengevaluasi. Pendekatan ini melatih anak berpikir sistematis sejak dini, karena mereka terbiasa menyusun rencana sebelum bertindak dan merefleksikan hasilnya sesudahnya.
4. BCCT: Sistem Sentra Ala Indonesia
Waldorf, Reggio Emilia, dan HighScope lahir di Eropa dan Amerika. BCCT berbeda. Ahli pendidikan Indonesia mengembangkan dan mengadaptasi model ini khusus untuk konteks pendidikan anak usia dini yang dekat dan relevan dengan kondisi di Indonesia. Singkatan dari Beyond Centers and Circle Time, BCCT memadukan sistem sentra dengan lingkaran diskusi harian yang disebut circle time.
Sekolah BCCT membagi kelas jadi beberapa area kecil yang disebut sentra. Ada sentra persiapan untuk belajar baca-tulis dasar, sentra balok untuk membangun dan bermain bentuk, sentra bahan alam untuk main pasir atau daun, dan sentra main peran untuk berpura-pura jadi dokter, polisi, atau profesi lain. Anak-anak bergiliran mencoba semua sentra ini sepanjang minggu, jadi tidak bosan di satu tempat saja.
Setiap hari, guru mengumpulkan anak dalam lingkaran yang disebut circle time. Guru memakai kegiatan ini untuk membuka pelajaran di pagi hari dan menutupnya sore hari, sambil melatih anak berbicara, mendengarkan, dan bergaul dengan teman.
Banyak PAUD dan TK negeri di Indonesia memakai BCCT, karena dulu Kementerian Pendidikan menganjurkan sekolah-sekolah memakai model ini. Orang tua yang ingin sekolah anak tetap terarah tapi tidak mau mengeluarkan biaya mahal bisa menjadikan BCCT pilihan yang masuk akal, dibanding sekolah internasional seperti Montessori atau Waldorf yang biayanya lebih tinggi.
Memilih Model yang Tepat untuk Anak
Tidak ada satu model pendidikan yang otomatis lebih unggul dari yang lain. Waldorf cocok untuk anak yang punya imajinasi luas. Reggio Emilia pas untuk anak dengan rasa ingin tahu tinggi yang senang bereksplorasi. HighScope cocok untuk anak yang gemar kerapihan dan keteraturan. BCCT menawarkan struktur familier dengan konteks lokal, lebih gampang dijumpai di berbagai tempat, dan ramah di kantong.
Orang tua sebaiknya mengunjungi langsung sekolah yang mereka pertimbangkan. Amati cara guru berinteraksi dengan anak, dan tanyakan bagaimana guru menjalankan kurikulum sehari-hari.
Memilih sekolah tidak berarti mengejar nama besar seperti pendidikan Montessori atau label internasional lain. Anak usia dini butuh lingkungan sekolah yang membuatnya merasa aman dan nyaman untuk mengeksplorasi potensi diri.
