Merawat tanaman slow living sangat cocok sebagai kegiatan di masa pensiun karena perawatannya relatif mudah, tidak rewel, dan sebagian bisa dipanen untuk kebutuhan dapur. Lidah mertua, serai, pandan, kunyit, bunga telang, dan kemangi bisa menjadi pilihan untuk pekarangan sempit. Kamu cukup menyesuaikan jenis tanaman dengan kondisi cahaya, menyiram sesuai kebutuhan, dan menikmati proses tumbuhnya.
Pak Slamet adalah seorang pensiunan PNS di Klaten. Di minggu pertama setelah pensiun, ia masih bangun pukul lima pagi, tetapi kemudian hanya termenung di teras rumah. Tidak tahu harus melakukan apa. Tidak ada rapat yang menunggu. Sementara, anak-anaknya sibuk bekerja di Jakarta. Suatu pagi, ia menanam serai di ember bekas cat. Dua pekan kemudian, tanaman yang ia rawat seperti memberikan semangat baru.
Pensiun bisa terasa janggal setelah puluhan tahun bekerja. Sebab, selama bekerja, hari-hari menjadi penuh dengan jadwal rapat, pekerjaan, dan deadline. Namun setelah pensiun, kamu justru perlu menyusun rutinitas baru yang slow living, agar waktu luang tidak terasa kosong.
Menikmati slow living dengan berkebun
Berkebun menawarkan kegiatan sederhana yang bisa dilakukan tanpa terburu-buru. Kamu menyiram tanaman, memeriksa daun, memangkas ranting, lalu menunggu pertumbuhannya. Tidak ada target bulanan yang harus dikejar. Hidup terasa santai dan menenangkan.
Slow living bukan berarti berhenti melakukan apa pun. Gaya hidup ini lebih menekankan kesadaran dalam menjalani hari dan memilih kegiatan sesuai kebutuhan sendiri. Tanaman cocok dengan prinsip tersebut karena setiap jenis memiliki ritme pertumbuhan berbeda. Kunyit, misalnya, membutuhkan waktu berbulan-bulan sebelum siap dipanen. Kamu tidak bisa memaksanya tumbuh lebih cepat hanya karena sedang ingin membuat jamu.
Untuk para pensiunan, pilih tanaman yang cocok dengan iklim setempat, mudah dirawat, dan memberikan manfaat nyata. Manfaat itu bisa berupa bumbu dapur, bunga yang mempercantik teras, atau sekadar jadi tanaman rindang yang bisa menyejukkan rumah.
Pekarangan sempit pun bukan penghalang. Rumah tipe 36 di perumahan biasanya masih memiliki teras atau sudut halaman yang bisa dimanfaatkan. Gunakan rak bertingkat, pot gantung, dan rambatan pada pagar untuk menambah ruang tanam tanpa membuat area berjalan menjadi sempit.
Tanaman slow living yang bisa langsung mengisi dapur
Rasanya ada kepuasan tersendiri jika bisa langsung memetik tanaman dari depan rumah, mengolahnya di dapur, dan kemudian dinikmati hasilnya oleh keluarga.
Serai, Pandan, dan Kemangi
Serai cocok ditanam di pot besar yang mendapat sinar matahari cukup. Tanaman ini bisa digunakan untuk memasak soto, membuat teh serai, atau menambah aroma pada berbagai hidangan. Setelah tumbuh rimbun, kamu tinggal memotong batang yang dibutuhkan tanpa harus membeli satu ikat di pasar.
Pandan bisa menjadi pilihan berikutnya. Tanaman ini menyukai tanah yang lembap, tetapi tetap membutuhkan drainase yang baik agar akarnya tidak membusuk. Daunnya berguna untuk membuat kolak, bubur sumsum, nasi pandan, dan berbagai kue tradisional.
Sementara itu, kemangi cocok bagi kamu yang ingin melihat hasil berkebun dalam waktu relatif singkat. Tanaman ini membutuhkan cahaya matahari yang cukup dan penyiraman teratur. Petik pucuknya secara berkala agar tanaman terus bercabang. Daunnya bisa langsung digunakan untuk lalapan atau pelengkap pecel lele.
Kunyit, Jahe, dan Kencur
Tanaman rimpang sangat bermanfaat untuk kesehatan, tapi mereka membutuhkan kesabaran. Kunyit, jahe, dan kencur tumbuh di bawah permukaan tanah selama berbulan-bulan sebelum siap dipanen.
Gunakan polybag atau pot berukuran cukup besar dengan tanah gembur dan saluran air yang baik. Tanam rimpang yang sehat, kemudian tempatkan wadah di area dengan pencahayaan yang sesuai. Waktu panen berbeda menurut jenis tanaman dan kondisi pertumbuhannya. Daun yang mulai menguning bisa menjadi salah satu petunjuk, tetapi bukan satu-satunya penentu.
Kunyit dari pekarangan bisa diolah menjadi jamu kunyit asam, sedangkan jahe cocok untuk minuman hangat pada sore hari. Kencur pun bisa digunakan untuk bumbu masakan atau bahan minuman tradisional.
Menanam tanaman obat di rumah juga sejalan dengan konsep Taman Obat Keluarga (TOGA), yaitu pemanfaatan pekarangan untuk menanam tanaman yang dapat digunakan dalam kebutuhan keluarga. Meski begitu, penggunaan tanaman herbal tetap perlu memperhatikan keamanan dan kondisi kesehatan masing-masing orang.
Cabai rawit juga layak dicoba. Tanaman ini membutuhkan sinar matahari cukup, media tanam yang subur, dan penyiraman sesuai kondisi tanah. Saat mulai berbuah, kamu bisa memetik cabai secukupnya untuk memasak. Tidak perlu lagi membeli cabai setiap kali ingin membuat sambal.
Tanaman Berbunga dan Peneduh untuk Menikmati Sore
Ada kalanya ketika kamu sedang menikmati slow living, kamu ingin duduk di teras, menikmati teh hangat, dan mendengarkan radio. Tanaman berbunga dan berdaun cantik bisa membuat momen itu terasa lebih menyenangkan.
Bunga telang cocok untuk kamu yang memiliki pagar atau penyangga untuk rambatan. Bunganya berwarna biru dan dapat digunakan sebagai bahan minuman seduhan. Jika ditambahkan bahan asam seperti jeruk nipis, warna seduhannya dapat berubah menjadi keunguan. Tanaman ini juga bisa mempercantik sudut halaman yang sebelumnya kosong.
Melati bisa ditanam dalam pot di dekat kursi teras. Bunganya memiliki aroma khas yang semakin terasa pada waktu tertentu, bergantung pada jenisnya. Tempatkan tanaman di area dengan cahaya yang cukup agar pertumbuhannya baik.
Jika kamu menginginkan tanaman yang relatif tahan terhadap kondisi kering, kamboja bisa dipertimbangkan. Namun hati-hati, getahnya bisa bikin iritasi, sehingga gunakan sarung tangan saat memangkas dan hindari kontak langsung dengan mata atau mulut.
Lidah mertua juga dikenal mampu bertahan dalam kondisi kering. Tanaman ini cocok untuk sudut rumah yang mendapat cahaya tidak langsung namun hangat. Tanaman ini cocok bagi mereka yang gemar bepergian ke luar kota karena minim perawatan.
Pilihan lainnya adalah sirih gading. Daunnya menjuntai dari pot gantung sehingga cocok untuk teras yang terbatas. Kamu bisa memangkas batang yang terlalu panjang dan menggunakan potongan yang sehat untuk perbanyakan tanaman.
Untuk tanaman buah, tanaman buah dalam pot (tabulampot) bisa menjadi pilihan bagi pensiunan yang ingin menikmati hasil buah di pekarangan terbatas. Sesuai namanya, tabulampot memungkinkan kamu menanam pohon buah di dalam pot sehingga lebih hemat ruang dan mudah ditempatkan di teras atau sudut halaman.
Beberapa jenis buah yang bisa ditanam dengan metode ini antara lain jambu air, kedondong, jeruk, belimbing, mangga, hingga durian bisa ditanam dengan metode ini. Tapi pastikan pilih jenis dan varietas yang cocok untuk pot.
Cara Merawat Tanaman Tanpa Membuat Pinggang Protes
Agar berkebun jadi kegiatan slow living yang menyenangkan dan tidak menambah masalah, ada beberapa hal yang bisa dilakukan.
- Letakkan pot setinggi pinggang. Gunakan rak yang kokoh untuk mengurangi gerakan membungkuk berulang kali. Pastikan rak mampu menahan beban pot beserta tanah yang basah.
- Periksa kelembapan tanah. Masukkan jari sekitar dua sentimeter ke permukaan tanah. Jika masih lembap, penyiraman mungkin belum diperlukan. Jika terasa kering, siram sesuai kebutuhan tanaman.
- Kelompokkan tanaman berdasarkan kebutuhan air. Tanaman yang membutuhkan penyiraman lebih sering bisa diletakkan berdekatan. Pisahkan tanaman yang lebih tahan kering agar tidak ikut menerima air berlebihan.
- Gunakan mulsa. Tutup permukaan tanah dengan bahan yang sesuai, seperti daun kering atau sekam, untuk membantu mempertahankan kelembapan. Jangan menumpuknya terlalu rapat pada pangkal batang.
- Manfaatkan wadah bekas. Ember bekas cat, galon bekas, dan polybag bisa digunakan sebagai tempat tanam selama bahannya aman untuk tanaman. Buat lubang drainase agar air tidak menggenang.
- Olah sisa dapur menjadi kompos. Kulit sayur dan sisa bahan organik tertentu bisa diolah menjadi kompos. Hindari mengubur sisa makanan sembarangan karena dapat mengundang hama dan menimbulkan bau.
Penutup
Dua bulan setelah mulai berkebun, Pak Slamet kini sudah punya sembilan pot berisi serai, kemangi, dan cabai. Ia mulai terbiasa menyiram tanaman setiap pagi dan memetik daun untuk memasak. Saat anak-anaknya menelepon dari Jakarta, ia punya cerita baru tentang cabai atau tabulampot miliknya yang mulai berbuah.
Kegiatan sederhana seperti membudidayakan tanaman slow living perlahan mengisi hari-harinya setelah pensiun. Ia tidak lagi termenung dan bingung setelah bangun tidur. Ada tanaman yang perlu disiram, daun yang harus dipangkas, dan buah yang ditunggu matang. Sekarang Pak Slamet sudah punya tujuan hidup yang baru.