Di Yogyakarta, ada satu kampus yang entah bagaimana begitu lekat dengan sosok polisi yaitu Universitas Widya Mataram (UWM). Banyak polisi di Yogyakarta memilih kuliah di sana sambil tetap menjalankan tugas rutinnya. Saat demonstrasi besar berlangsung di kawasan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer, misalnya, sejumlah polisi yang berjaga ternyata juga berstatus sebagai mahasiswa Universitas Widya Mataram. Publik pun mulai menyadari kedekatan unik antara institusi pendidikan ini dengan dunia kepolisian.
Bagi warga Yogyakarta atau mereka yang sering nongkrong di sekitar Malioboro, obrolan soal “polisi yang kuliah di Widya Mataram” mungkin bukan sesuatu yang asing. Ada yang bilang bahwa kampus ini menyediakan kelas karyawan dengan jadwal fleksibel sehingga menarik bagi anggota Polri yang sedang ingin naik level. Tapi kan banyak kampus menyediakan kelas untuk karyawan di Yogyakarta. Pertanyaannya, mengapa hanya kampus ini yang identik dengan polisi? Apakah benar ada hubungan khusus antara Universitas Widya Mataram dan institusi kepolisian? Atau jangan-jangan, ada cerita lain di balik fenomena tersebut? Mari kita telusuri.
Sejarah dan Latar Budaya Universitas Widya Mataram
Universitas Widya Mataram berdiri pada 7 Oktober 1982. Sri Sultan Hamengku Buwono IX bersama putranya, KGPH Mangkubumi yang kini bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono X, mendirikan kampus ini sebagai wujud kepedulian Keraton Yogyakarta terhadap dunia pendidikan. Kampus ini mengusung misi pendidikan berbasis budaya sejak awal berdirinya.
Karena akarnya yang bermula dari Keraton, maka Universitas Widya Mataram punya posisi khusus di mata masyarakat Yogyakarta. Warga menganggap kampus ini bukan sekadar tempat kuliah biasa, melainkan bagian dari warisan Sultan untuk mencerdaskan generasi muda. Nilai historis semacam ini menciptakan kepercayaan yang kuat, termasuk dari kalangan aparat pemerintah dan kepolisian setempat.
Selain faktor sejarah, lokasi kampus juga strategis. Kampus utama berada di Jalan Tata Bumi Selatan, Banyuraden, Gamping, area yang mudah dijangkau dari berbagai titik di Yogyakarta. Kemudahan akses ini turut mendukung mahasiswa yang punya kesibukan kerja, termasuk anggota kepolisian yang harus tetap siaga di posnya.
Kelas Karyawan, Jawaban untuk Polisi yang Ingin Kuliah
Faktor paling konkret yang menjelaskan fenomena ini adalah program kelas karyawan. Universitas Widya Mataram menawarkan skema kuliah yang dirancang untuk pekerja sibuk. Skema ini memberi keleluasaan jadwal, sehingga anggota polisi bisa mengatur waktu kuliah di luar jam dinas.
Bayangkan situasi seorang anggota Brimob yang setiap hari harus siaga menjaga ketertiban kota. Jadwal kerjanya tidak menentu, kadang siang, kadang malam. Kelas reguler dengan jam kaku jelas bakal menyulitkan. Nah, kelas karyawan hadir sebagai solusi. Perkuliahan bisa berlangsung sore hari, akhir pekan, atau bahkan lewat metode daring yang memudahkan mahasiswa mengejar materi tanpa bentrok dengan jadwal dinas.
Dukungan Fakultas yang Relevan dengan Tugas Kepolisian
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik menjadi salah satu program studi favorit di kalangan anggota polisi. Materi kuliah di fakultas ini menyentuh langsung isu hukum, kebijakan publik, dan dinamika sosial politik, topik yang relevan dengan tugas sehari-hari seorang polisi. Ilmu yang mereka pelajari di kampus sering kali bisa langsung mereka terapkan saat bertugas mengamankan aksi massa atau menangani konflik sosial di masyarakat.
Fakultas Hukum juga menarik minat serupa. Anggota polisi yang mengambil jurusan ini mendapat pemahaman lebih mendalam soal regulasi dan proses hukum, bukan cuma dari sisi praktik lapangan, tapi juga dari sisi akademis. Kombinasi pengalaman lapangan dan wawasan akademis ini membuat mereka lebih percaya diri saat menghadapi situasi yang membutuhkan pertimbangan hukum matang.
Polisi Mahasiswa di Tengah Demonstrasi
Melalui laman resmi kampus, disebutkan bahwa polisi yang masih berstatus mahasiswa UWM juga ikut turun mengawal demonstrasi menolak revisi UU Pilkada tahun 2024. Saat itu, ribuan mahasiswa turun ke jalan di kawasan Malioboro dan titik nol kilometer Yogyakarta. Uniknya, sebagian polisi yang bertugas menjaga jalannya aksi ternyata berstatus mahasiswa aktif, dan mayoritas dari mereka kuliah di Universitas Widya Mataram.
Suasana pengamanan pun dilaporkan terasa berbeda dari demonstrasi pada umumnya. Polisi dan mahasiswa saling menghargai, bahkan beberapa kali terlihat berdialog santai layaknya sesama rekan kampus. Situasi ini menciptakan kesan bahwa penegak hukum di Yogyakarta tidak sekadar menjalankan tugas formal, tapi juga memahami substansi tuntutan yang disuarakan karena mereka sendiri bagian dari masyarakat akademis.
Fenomena ini juga menunjukkan tren yang lebih besar. Banyak institusi Polri kini mendorong anggotanya melanjutkan pendidikan tinggi demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia di tubuh kepolisian. Universitas Widya Mataram, dengan sistem kelas karyawan dan lokasi strategis, menjadi pilihan logis bagi anggota polisi di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.
Universitas Widya Mataram dan Institusi Negara Saling Melengkapi
Cerita tentang Universitas Widya Mataram (UWM) dan mahasiswa polisi sebenarnya menggambarkan sesuatu yang lebih luas dari sekadar tren kuliah sambil kerja. Ini menunjukkan bagaimana institusi pendidikan bisa memberikan fasilitas bagi abdi negara yang ingin mengembangkan diri melalui pendidikan. Polisi yang kuliah bukan cuma mengejar gelar, melainkan juga berusaha memahami masyarakat yang mereka layani dari sudut pandang akademis. Kampus warisan Keraton bertemu dengan aparat negara, lalu keduanya tumbuh bersama lewat proses belajar yang sama.
Jadi, kalau kamu penasaran mengapa Universitas Widya Mataram kerap disebut berdampingan aparat kepolisian, jawabannya mungkin adalah fleksibilitas yang ditawarkan oleh kampus sehingga menarik bagi aparat kepolisian yang ingin mengembangkan diri dan kariernya tapi punya jadwal sibuk.
Ketika kampus-kampus lain belum tentu bisa mengakomodasi kesibukan dunia kerja, UWM menawarkan ruang yang memungkinkan para polisi tetap menjalankan tugas sambil melanjutkan pendidikan. Kedekatan inilah yang kemudian membuat nama UWM kerap dikaitkan dengan polisi. Bukan karena kampus ini adalah “kampus antek polisi”, melainkan karena pintunya selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin kuliah tanpa harus meninggalkan profesi yang sedang dijalani.
