ADVERTISEMENT

Hustle Culture Boleh Quiet Quitting juga Boleh, yang Penting Kamu Sehat dan Waras

Hustle Culture ke Quiet Quitting

Hustle culture adalah romantisme kerja yang menganggap kerja berlebihan dan lembur sebagai bukti loyalitas dan produktivitas. Kebalikannya, quiet quitting justru mengajak pekerja melakukan tugas sesuai porsinya. Jika tugas yang diberikan kepadamu sepuluh maka kamu tidak perlu mengerjakan sampai dua belas, begitu kira-kira. 

Dua kubu tersebut lahir dari kegelisahan akan tekanan kerja yang makin absurd di era digital. Bedanya, satu memilih melawan dengan mempercepat langkah, satu lagi memilih melawan dengan melambat.

Untuk mengidentifikasi kamu tipe yang mana, coba tanya diri sendiri, kapan terakhir kali kamu membalas email atau pesan Whatsapp kerjaan jam sebelas malam sambil menahan kantuk? Kalau jawabannya “sering banget”, kamu mungkin sudah kena virus hustle culture tanpa sadar. Jika kamu memilih mengabaikannya, mungkin kamu cenderung quiet quitting. 

Fenomena ini bukan sekadar tren di media sosial tapi secara perlahan telah mengubah cara generasi muda memaknai kesuksesan. Dua istilah ini memang kerap muncul bergantian di linimasa, tetapi pembahasannya seringkali berjalan timpang. Karena itu, kali ini kita akan membedah keduanya secara lebih seimbang.

Mengenal Hustle Culture Lebih Dekat

Hustle culture secara sederhana berarti memuja kesibukan sebagai simbol status. Orang yang tidur cuma empat jam dianggap pejuang, sementara yang tidur cukup dicap kurang ambisius. Budaya ini berkembang pesat lewat konten motivasi ala “forbes under 30” atau “100 juta pertama di usia 25” yang membanjiri linimasa. 

Lewat konten-konten semacam itu, anak muda kemudian didorong untuk berlomba mengejar posisi tinggi di karier, membangun bisnis, atau mencapai kesuksesan finansial sedini mungkin. Seolah-olah, semakin muda usia seseorang ketika meraih pencapaian, semakin layak pula ia disebut sukses. 

Masalahnya, hustle culture menyamarkan eksploitasi diri sebagai passion. Startup rintisan kerap memakai narasi ini untuk menormalisasi jam kerja panjang tanpa kompensasi setara. Karyawan yang menolak lembur malah dicap tidak punya semangat kerja. Padahal, produktivitas tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah jam kerja.

Riset Gallup menunjukkan bahwa pekerja yang terus-menerus bekerja secara berlebihan justru berisiko mengalami penurunan produktivitas dalam jangka panjang. Tubuh dan otak manusia punya batas. Ponsel saja butuh dicas setiap hari, masa manusia disuruh kerja terus tanpa jeda? 

Sayangnya, kampus dan tempat magang sering ikut melanggengkan pola ini. Mahasiswa diajari bahwa kerja tanpa lelah adalah harga wajar untuk meraih impian. Padahal, banyak ilmuwan justru menekankan pentingnya istirahat agar produktivitas terjaga. Glorifikasi kesibukan seharusnya berhenti jadi standar ukur kesuksesan seseorang.

Perlawanan yang Tidak Berisik ala Quiet Quitting

Semua ada antitesisnya. Jika hustle culture mendorong orang untuk terus bekerja dan mengejar pencapaian, quiet quitting muncul sebagai reaksi balik terhadap budaya tersebut. Istilah ini viral di TikTok pada 2022 dan segera memicu perdebatan panjang tentang bagaimana seharusnya seseorang bekerja.

Konsepnya adalah kerjakan tugas sesuai tanggung jawab dan deskripsi pekerjaan, selesaikan dengan baik, lalu pulang teng go tanpa merasa bersalah. Ini bukan menjadi malas atau tidak punya mimpi, melainkan menolak anggapan bahwa menjadi pekerja yang baik berarti harus selalu siap menerima pekerjaan tambahan, membalas pesan di luar jam kantor, atau mengorbankan waktu pribadi tanpa kompensasi yang setimpal.

Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian pekerja mulai mempertanyakan kembali batas antara profesionalisme dan pengorbanan diri. Salah satunya adalah seorang admin media sosial di Bandung yang pernah bercerita melalui sebuah utas di X. Setelah tiga tahun selalu siaga dan membalas chat pekerjaan bahkan di luar jam kantor, ia akhirnya memutuskan untuk berhenti melakukannya. Bukan karena ingin bekerja seadanya, melainkan karena ia ingin memisahkan waktu kerja dan kehidupan pribadi.

Hasilnya justru cukup menarik. Ia merasa lebih fokus saat bekerja karena energinya tidak lagi terkuras sebelum jam kerja dimulai. Dari sini, quiet quitting seolah menjadi bentuk protes pada hustle culture dimana pekerja tetap tahu kapan harus memberikan yang terbaik untuk pekerjaan, tetapi juga tahu kapan harus berhenti agar kehidupan di luar pekerjaan tetap punya ruang. 

Bukan Cuma Malas-malasan

Banyak orang salah kaprah menyamakan quiet quitting dengan malas-malasan. Padahal pelakunya tetap menyelesaikan tanggung jawab utama dengan baik. Mereka hanya menolak menjadi sapi perah di luar jam kerja dan job desk. Batasan ini justru membantu mereka bertahan lama tanpa mengalami burnout.

Fenomena ini juga menyingkap kegagalan banyak perusahaan dalam menghargai kontribusi karyawan. Ketika promosi dan kenaikan gaji tidak sebanding dengan beban kerja, karyawan wajar mencari cara melindungi diri. Quiet quitting menjadi bentuk protes tanpa demonstrasi, cukup lewat batasan waktu dan energi.

Fenomena serupa sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Dulu orang menyebutnya “kerja santai asal beres” atau candaan pegawai negeri soal jam kerja teratur.  

Mana yang Lebih Sehat untuk Kariermu?

Jawabannya tidak sesederhana itu, kawan. Hustle culture bisa saja berguna dalam fase tertentu, misalnya ketika baru merintis bisnis sendiri atau memasuki bulan-bulan pertama di pekerjaan baru. Ada masa ketika kita memang perlu bekerja lebih keras, belajar lebih cepat, dan memberikan energi ekstra untuk membangun fondasi.

Masalahnya muncul ketika pola tersebut dianggap sebagai standar hidup dan diterapkan terus-menerus tanpa jeda. Tubuh pada akhirnya akan mengirimkan tagihan berupa kelelahan kronis, hilangnya waktu untuk diri sendiri, hingga kehidupan pribadi yang berantakan. Ketika bisnis sudah mulai berjalan atau kamu sudah cukup familiar dengan tugas-tugas di pekerjaan baru, pola kerja seperti ini seharusnya mulai dikurangi. Kerja keras boleh, tetapi tidak perlu dijadikan gaya hidup.

Quiet quitting menawarkan keseimbangan, tapi juga punya jebakan. Beberapa orang memakainya sebagai alasan untuk berhenti berkembang, padahal semangat belajar tetap penting untuk naik level. Kuncinya bukan memilih salah satu kubu secara ekstrem, melainkan menemukan ritme kerja yang realistis sesuai kondisi hidup masing-masing.

Beberapa perusahaan progresif di Indonesia mulai menerapkan kebijakan empat hari kerja atau larangan mengirim pesan di luar jam operasional. Langkah ini menunjukkan pergeseran cara pandang bahwa produktivitas tidak lagi diukur dari lamanya jam kerja, melainkan dari hasil kerja.

Bukan Soal Menang atau Kalah

Perdebatan hustle culture melawan quiet quitting sebenarnya bukan soal siapa yang lebih benar. Ini soal bagaimana setiap orang mendefinisikan ulang makna kerja di tengah industri yang semakin gila. Jika generasi sebelumnya hanya kenal kerja, maka generasi hari ini punya kesadaran untuk bertanya. Aku bekerja untuk hidup, atau justru hidup untuk terus bekerja?

Pada akhirnya, dunia kerja akan terus berubah. Istilah-istilah baru mungkin akan bermunculan dan menggantikan hustle culture maupun quiet quitting. Namun, persoalan dasarnya barangkali tidak bakal jauh-jauh dari pilihan untuk bekerja lebih keras atau belajar merasa cukup. Pada akhirnya, pilihan itu ada di tanganmu sendiri.

Terakhir diperbarui pada 15 September 2026 oleh .

Armandoe Gary Ghaffuri

Bapak rumah tangga yang belum tertarik koleksi batu akik.

Exit mobile version