ADVERTISEMENT

Filosofi Hidup Stoikisme, Sejarah, dan Tokoh Populernya

stoikisme

Kalau ada satu ideologi atau pemikiran yang akhir-akhir ini overused sekaligus misunderstood, maka itu adalah Stoikisme. Banyak orang yang sering menggunakan ideologi atau filosofi hidup ini dalam konteks-konteks yang tidak seharusnya. Orang malas dibilang stoik. Orang dingin, tak acuh, juga dibilang stoik. Apa-apa serba stoik. Padahal Stoikisme tidak semurahan itu.

Stoikisme adalah sebuah filosofi hidup yang mengajarkan manusia untuk fokus pada hal-hal yang bisa mereka kendalikan dan menerima hal-hal yang berada di luar kendali. Stoikisme mengajak manusia untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal yang tidak bisa kita ubah. Bukan mengabaikannya, tapi memindahkan fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan saja. Istilah bahasa jalanannya, Stoikisme itu ilmu untuk tahu diri dan tahu batas, bukan ilmu untuk bermalas-malasan.

Popularitas Stoikisme akhir-akhir ini memang tidak lepas dari situasi dunia yang semakin tidak terkendali. Dari situasi itu, banyak muncul kesadaran untuk berlaku stoik, yaitu hidup lebih tenang dan fokus pada hal-hal yang berada di bawah kendali. Sayangnya, di balik popularitas Stoikisme, banyak orang yang keliru memahami filosofi ini.

Apa itu Stoikisme?

Stoikisme merupakan salah satu aliran filsafat yang muncul dan berkembang di Yunani Kuno pada abad ke-3 sebelum Masehi. Pencetusnya adalah Zeno yang berasal dari Citium (sekarang Kition di Cyprus). Nama Stoikisme sendiri berasal dari istilah bahasa Yunani Kuno “stoa poikile” yang berarti serambi lukis. Ini merujuk pada tempat serambi bertiang tempat Zeno dan pengikutnya “jagongan” soal gagasan mereka.

Para penganut Stoikisme (kaum Stoik) tidak hanya bertujuan untuk mendapatkan kesenangan belaka dengan mengabaikan kesulitan dan ujian. Kaum Stoik memilih untuk tidak terlalu pusing dengan kesulitan dan ujian. Kaum Stoik mencoba untuk merespon dan mengontrol perasaan-perasaan tersebut dengan rasional. Secukupnya saja, tidak perlu berlebihan.

Dengan begitu, kaum Stoik akan melihat kebajikan atau virtue sebagai hal utama dalam menjalani kehidupan yang baik. Stoikisme juga menempatkan rasio sebagai bagian penting dalam kehidupan. Manusia perlu menggunakan kemampuan berpikir untuk memahami keadaan, menentukan tindakan yang tepat, dan tidak membiarkan emosi mengendalikan seluruh keputusan.

Beberapa prinsip hidup utama ala Stoikisme

Dalam filsafat Stoikisme, ada banyak prinsip hidup yang ada di dalamnya. Prinsip pertama yang paling populer adalah dikotomi kendali (dichotomy of control). Prinsip ini membagi sebuah hal menjadi dua bagian, bagian yang berada di bawah kendali, dan bagian yang berada di luar kendali.

Tindakan, pilihan, penilaian, serta respons kita terhadap suatu kejadian termasuk hal yang bisa kita kendalikan. Sementara itu, pendapat orang lain, hasil akhir sebuah usaha, cuaca, atau kejadian masa lalu berada di luar kendali kita. Stoikisme mengajak kita untuk fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan. Bukan berarti mengabaikan hal lain, tapi jangan sampai hal-hal yang berada di luar kendali kita malah menyita pikiran.

Prinsip kedua adalah tentang virtue atau kebajikan. Stoikisme mengenal empat kebajikan yang utama. Ada kebijaksanaan, yaitu kemampuan untuk memilah sesuatu dengan logis, termasuk mengkategorikan mana yang baik, mana yang buruk. Ada pula keberanian, yang merupakan kemampuan untuk berani menghadapi tantangan atau rasa takut. Lalu ada Keadilan, yaitu tentang memperlakukan diri sendiri dan orang lain secara adil. Ada pula pengendalian diri, yaitu kemampuan untuk menahan hawa nafsu, mengatur emosi serta tindakan.

Prinsip ketiga ada Amor Fati atau mencintai takdir. Istilah Amor Fati ini malah lebih populer dari Stoikisme-nya sendiri. Bahkan banyak orang yang tidak tahu jika Amor Fati ini berasal dari pemikiran Stoikisme. Inti dari Amor Fati atau mencintai takdir adalah untuk mendorong kita menikmati hidup, menikmati setiap pengalamannya, dan menjalani apa-apa saja yang ada di depan kita. Sederhananya: nggak jadi orang yang rewel, lah.

Prinsip keempat ada Memento Mori. Bukan, ini bukan judul lagu Lamb of God. Ini adalah ajakan untuk manusia agar selalu mengingat kematian. Ajakan ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk lebih menghargai waktu. Dengan mengingat kematian, kita bisa lebih menghargai hidup, tidak membuang-buang waktu, dan bisa fokus ke hal-hal yang lebih penting.

Tokoh-tokoh sentral dan terkenal dalam pemikiran Stoikisme

Sepanjang sejarah, pemikiran Stoikisme memiliki banyak pemikir penting dan tokoh sentralnya. Zeno dari Citium tentunya menjadi sosok utama dalam pemikiran Stoikisme. Ia adalah pencetus pemikiran ini. Lalu ada Seneca, seorang pemikir dan negarawan Romawi yang tulisan-tulisannya banyak bertemakan hidup dan etika. Karya-karyanya menjadi sumber penting untuk pemikiran Stoikisme Romawi.

Ada pula Epictetus, yang juga berasal dari Romawi seperti Seneca. Bedanya, Epictetus lahir sebagai budak, dan akhirnya menjadi seorang pengajar filsafat. Epictetus terkenal lewat kedua bukunya, yaitu Discourses dan Enchiridion. Ajarannya banyak menekankan kemampuan manusia untuk mengendalikan penilaian dan responsnya sendiri terhadap keadaan.

Lalu ada Marcus Aurelius, seorang kaisar Romawi yang memegang teguh pemikiran Stoikisme. Marcus Aurelius menulis buku berjudul Meditations. Buku tersebut berisi catatan refleksi pribadinya tentang kewajiban, pengendalian diri, kematian, dan cara menghadapi berbagai situasi sebagai manusia sekaligus pemimpin. Lewat buku inilah Marcus Aurelius dikenal sebagai tokoh Stoikisme.

Selain keempat tokoh tersebut, sebenarnya masih banyak tokoh-tokoh Stoikisme lain, khususnya di era modern. Namun, untuk memulai memahami Stoikisme, keempat tokoh tersebut bisa jadi pondasi yang kokoh dalam pemahaman Stoikisme

Stoikisme memang kembali relevan, tapi kerap disalahartikan

Popularitas Stoikisme di masa sekarang tidak lepas dari kemampuannya menawarkan cara berpikir yang cukup praktis dalam menghadapi kehidupan. Dunia modern membuat manusia menghadapi berbagai hal yang sulit mereka kendalikan. Stoikisme mengajak kita berhenti menghabiskan terlalu banyak energi untuk hal-hal tersebut. Itulah mengapa Stoikisme kembali relevan, khususnya di masyarakat urban.

Namun, perlu pemahaman tambahan bahwa Stoikisme bukan hanya hidup tenang dan kalem saja. Stoikisme bukan berarti menerima semua keadaan tanpa perlawanan. Bukan nrimo ing pandum. Manusia tetap harus melakukan tindakan, harus melawan. Tentu tindakan serta perlawanannya harus logis dan jangan sampai terlalu terbawa hawa nafsu.

Selain itu, Stoikisme juga jangan lagi disalahartikan sebaagai sikap tak acuh atau tindakan bermalas-malasan. Stoikisme juga bukan ajakan untuk bersikap persetan dengan sekitar kita. Itu bukan Stoikisme namanya. Itu namanya bodoh.

Terakhir diperbarui pada 18 September 2026 oleh .

Iqbal AR

Penulis dan reporter lepas. Tinggal di Malang.

Exit mobile version