ADVERTISEMENT

Perbedaan El Nino dan La Nina, Serta Mengapa Keduanya Punya Dampak Serius Bagi Indonesia

El Nino dan La Nina

Ketika bicara tentang pergantian musim atau bahkan perubahan iklim, kita kerap mendengar istilah El Nino dan La Nina. Keduanya seakan sudah melekat ke dalam dua musim yang ada di Indonesia. El Nino kerap dicatut ketika kemarau panjang, sedangkan La Nina juga merasakan hal serupa ketika musim hujan seakan tidak berhenti.

Seringnya kita mencatut El Nino dan La Nina, bukan berarti kita paham betul tentang keduanya. Banyak dari kita yang masih belum tahu apa perbedaan dari El Nino dan La Nina. Tidak sedikit pula yang masih bingung apa dampak keduanya bagi Indonesia. Bahkan untuk hal yang paling mendasar, yaitu soal asal usul nama, banyak juga yang tidak tahu.

Maka dari itu, sebelum nanti kita ngomongin El Nino dan La Nina lebih jauh atau lebih ndakik-ndakik, sepertinya kita perlu tahu dulu dari mana nama keduanya berasal, apa perbedaan dan dampaknya, serta ancaman bencana apa yang disebabkan keduanya.

Asal usul kata El Nino dan La Nina

Tidak ada satu tokoh atau orang yang menjadi pencetus nama El Nino dan La Nina. Kemunculannya adalah buah hasil kerja komunal, satunya oleh para nelayan, satunya lagi oleh para ilmuwan dan ahli klimatologi. Untuk itu, kita perlu mundur 4 abad ke belakang, tepatnya pada abad ke-17 di Amerika Latin.

Nama lengkap El Nino adalah El Nino de Navidad. El Nino berasal dari bahasa Spanyol yang artinya anak laki-laki. Sedangkan El Nino de Navidad merujuk pada bayi kristus atau bayi laki-laki yang lahir di waktu natal. Nama ini tercetus dari sekelompok nelayan di pesisir Peru untuk menyebut kemunculan arus laut hangat yang biasanya terjadi menjelang Natal. Istilah ini kemudian menjadi istilah resmi untuk menggambarkan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Pasifik tropis.

Istilah La Nina muncul lebih dari 2 abad setelah El Nino. Kemunculannya bukan berasal dari sekelompok nelayan, melainkan dari sekelompok ilmuwan dan ahli klimatologi. Istilah La Nina yang dalam bahasa Spanyol berarti anak perempuan, menjadi penanda fenomena sebaliknya dari El Nino, yaitu ketika suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur mengalami pendinginan di bawah normal.

Jadi, asal usul istilah El Nino dan La Nina memang sesederhana itu. Tidak terlalu filosofis, juga tidak ndakik-ndakik.

Perbedaan utama dari El Nino dan La Nina

Mencari perbedaan antara El Nino dan La Nina itu mudah sekali, semudah membedakan mana anak laki-laki, mana anak perempuan. Sederhananya, kalau kita ambil konteks Indonesia, El Nino biasanya membuat suhu Indonesia lebih kering, sementara La Nina bikin Indonesia terasa lebih basah.

Saat El Nino terjadi, suhu laut di bagian tengah dan timur Pasifik menghangat. Kondisi ini membuat pembentukan awan hujan lebih banyak bergeser menjauh dari Indonesia. Akibatnya, beberapa wilayah Indonesia bisa mengalami curah hujan yang lebih rendah dari biasanya. Inilah yang mengakibatkan kemarau panjang

Sebaliknya, saat La Nina terjadi, suhu laut di wilayah tersebut justru lebih dingin. Awan hujan kemudian lebih banyak terbentuk di sekitar Indonesia. Dampaknya, curah hujan di sejumlah wilayah bisa meningkat, dan musim hujan mungkin akan berlangsung lebih lama.

Dampak dan ancaman bencana akibat adanya El Nino dan La Nina

Jika El Nino terjadi di Indonesia, maka Indonesia akan mengalami kemarau panjang. Jika Indonesia mengalami kemarau panjang, dampaknya akan cukup mengerikan. Contohnya, terjadinya kekeringan dan krisis di beberapa wilayah. Ada ancaman gagal panen yang menghantui para petani. Lalu ancaman karhutla yang cepat menyebar. Belum lagi ancaman tekanan suhu panas yang bikin kita sebagai manusia berisiko terkena heat exhaustion bahkan heatstroke.

Semua dampak El Nino sudah bisa kita rasakan sekarang. BMKG sudah mengatakan bahwa sejak September sampai awal tahun 2027, El Nino mungkin masih akan bertahan. Tanda-tandanya juga sudah jelas, selain belum juga turun hujan, beberapa “bencana” seperti kekeringan dan kebakaran hutan sudah terjadi di banyak tempat.

Sementara itu, jika La Nina terjadi di Indonesia maka curah hujan akan tinggi dan musim hujan di Indonesia akan berlangsung lebih panjang. Jika musim hujan berlangsung lebih panjang, dampaknya juga nggak akan main-main. Petani terancam gagal panen, ada juga ancaman beberapa penyakit seperti demam berdarah. Lalu ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir, angin kencang, dan tanah longsor juga sudah siap menanti.

Sama-sama bahaya, sama-sama harus waspada

Tidak ada yang lebih bahaya atau lebih aman. El Nino dan La Nina sama-sama bahayanya, apalagi kalau terlalu lama bertahan. Keduanya juga punya risiko dan dampak yang berbeda. Namun, bukan berarti kita harus takut terhadap keduanya. Kita cukup berhati-hati dan lebih waspada saja. Asalkan kita tahu siklus dan tandanya saja sudah cukup, kok.

Namun, perlu kita ketahui bahwa El Nino dan La Nina bukan sebab tunggal bencana-bencana yang selama ini ada di Indonesia. El Nino dan La Nina tidak bisa ujug-ujug jadi kambing hitam. Ada banyak faktor lain yang jadi penyebab terjadinya bencana.

Misalnya, penyebab banjir bukan selalu La Nina. Bisa jadi karena sistem drainase yang buruk dan banyaknya alih fungsi lahan. Karhutla atau kebakaran hutan dan lahan juga tidak selalu disebabkan oleh El Nino. Bisa jadi memang sengaja dibakar oleh perusahaan-perusahaan tertentu biar bisa ditanami sawit.

Terakhir diperbarui pada 4 Oktober 2026 oleh .

Iqbal AR

Penulis dan reporter lepas. Tinggal di Malang.