Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Menyekolahkan Anak di Sekolah Favorit Itu Biar Apa, sih?

Audian Laili oleh Audian Laili
21 Juli 2019
A A
sekolah anak
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Banyak orang tua berlomba-lomba menyekolahkan anaknya di sekolah favorit. Karena kualitasnya, lingkungannya, fasilitasnya, atau harganya? Eh.

Dalam aktivitas yang sedang syahdu-syahdunya, sembari scroll-scroll timeline Instagram, saya menemukan sesuatu yang (((cukup bikin membelalak))). Dalam sebuah postingan milik Zaskia Adya Mecca beserta anak terakhirnya dan Annisa Azizah—plus anaknya yang baru lahir, Zaskia menyentil Annisa untuk segera mendaftarkan anaknya ke sekolah. Mendaftarkan anak ke sekolah ini, menurutnya paling lambat satu bulan setelah anaknya lahir. Supaya anak Annisa tidak kehabisan slot kursi untuk sekolah. Tunggu, satu bulan setelah lahiran udah didaftarin sekolah?

https://www.instagram.com/p/Bz3FLpdnLbn/?igshid=rpv1won57539

Saya terkejut dan tentu saja bertanya-tanya. Biasanya yang ada di pikiran orang kebanyakan, setelah anak lahir, hal yang ribet adalah membuatkan si buah hati tersebut akta kelahiran. Boro-boro mendaftar sekolah. Setelah saya usut arah pembicaraan tersebut, ternyata yang dimaksud mendaftar sekolah adalah melakukan booking ke PAUD dan TK favorit supaya kelak anaknya dapat duduk di sekolah tersebut. Info yang saya terima, ternyata beberapa sekolah tersebut menerapkan sistem waiting list, Saudara-saudara.

Saya cukup heran dengan perkembangan zaman. Jangankan punya pengalaman daftar-daftar PAUD, duduk di tingkat TK saja saya hanya setahun.

Mengetahui fakta itu, saya jadi makin bersemangat mengusut komentar-komentar dalam postingan tersebut. Dalam gosip ibu-ibu di kolom komentar, saya menemukan fakta yang lebih mencengangkan. Tidak hanya PAUD dan TK saja yang bisa waiting list, pendaftaran daycare pun ternyata serupa. Bahkan di beberapa komentar yang muncul, mereka mendaftarkan anaknya ke daycare sejak si buah hati tersebut masih dalam kandungan. Eh, nggak sekalian pas masih dalam perencanaan bikin anak, nih?

Fenomena di atas kemudian jadi bahan refleksi bagi saya. Seperti apa sekolah yang difavoritkan itu? Sampai bikin orang tua sebegitu visionernya, rela-rela aja daftarin anaknya yang baru lahir. Apakah jika nanti saya mempunyai anak perlu untuk memasukkannya ke sekolah favorit? Bahkan lebih jauh lagi, apakah anak saya kelak mau sekolah di tempat yang saya pilihkan—yang terbaik menurut saya?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu tidak akan sama bagi setiap orang. Berbagai macam faktor bisa mempengaruhi preferensi orang tua untuk menyekolahkan anak. Mereka yang tinggal di kota-kota besar, sangat dimungkinkan terbiasa dengan istilah “sekolah favorit”, “sekolah biasa saja” atau bahkan “sekolah buangan”. Tapi kita tengok misalnya di beberapa daerah, bahkan masih ada yang terpaksa memiliki jargon “satu kecamatan satu sekolah”. Itu pun syukur-syukur kalau ada PAUD/TK-nya.

Saya sendiri terkadang masih bingung dengan penyebutan sekolah-sekolah favorit itu seperti apa. Oke taruhlah salah satu indikatornya adalah sekolah tersebut diminati paling banyak anak karena sekolah tersebut (((berprestasi))) dalam berbagai ajang. Makanya, banyak “sekolah favorit” bahkan lembaga bimbingan belajar yang senang memamerkan murid-muridnya yang berprestasi.

Namun yang sering lupa kita amati, “sekolah favorit” yang banyak prestasi tersebut biasanya memiliki korelasi juga dengan input siswa-siswinya yang memang sudah baik. Maka, bisa jadi prestasi yang diraih atau para lulusan yang kece-kece itu, tidak selalu hasil dari proses belajar di dalam sekolah atau lembaganya. Dengan usaha yang effortless sekalipun, output-nya sudah terjamin.

Dalam konteks sekolah swasta, sekolah favorit biasanya dekat dengan suatu hal yang prestis. Misalnya sarana-prasarana yang canggih, menawarkan berbagai macam program kursus ataupun memiliki banyak pilihan ekstrakulikuler. Bahkan saking banyaknya aktivitas sang murid, kesibukannya melebihi kesibukan orang tuanya sendiri. Bisa ditebak, sekolah dengan tipe seperti ini akan berpengaruh juga pada biaya yang mahal.

Bagi sebagian masyakarat kita, sekolah di tempat seperti ini cukup bisa dibanggakan, atau dengan kata lain dipamerkan. Tidak sedikit orang tua yang bangga bisa menyekolahkan anaknya di “sekolah mahal”. Sementara si anak akan dibikin bangga karena dia merasa bisa mendapat apa pun di sekolahnya. Perhatian guru yang maksimal hingga fasilitas tiada batas. Hingga dipuaskan dengan banyaknya pilihan wahana belajar.

Ah, sudahlah. Saya memang belum jadi orang tua, sih. Akan tetapi, semoga saat udah jadi orang tua nanti saya tidak perlu ribet-ribet harus nyekolahin anak saya di tempat terbaik hanya karena keinginan gengsi saya sendiri. Semoga segala unfinished business saya sudah rampung. Sehingga, saya tidak perlu meletakkan “kepentingan saya” yang belum tercapai tersebut pada anak saya.

Kasihan mereka. Harus hidup menanggung beban mimpi orang tuanya.

Terakhir diperbarui pada 21 Juli 2019 oleh

Tags: mimpi orang tuaPendidikansekolah favoritunfinished business
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Sumatera Selatan menjadikan peringatan Hari Ulang Tahun ke-42 sebagai momentum strategis untuk memperkuat ekosistem pendidikan yang inklusif dan kolaboratif MOJOK.CO
Kilas

BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan

7 Februari 2026
guru BK.MOJOK.CO
Ragam

Menjadi Guru BK Capek Mental dan “Tak Menghasilkan”, Memilih Resign dan Kerja Kantoran Meski Harus Mengubur Cita-Cita

29 Januari 2026
pendidikan, lulusan sarjana nganggur, sulit kerja.MOJOK.CO
Ragam

Overqualified tapi Underutilized, Generasi yang Disiapkan untuk Pekerjaan yang Tidak Ada

5 Desember 2025
nadiem makarim, pendidikan indonesia, revolusi 4.0.MOJOK.CO
Aktual

Kasus Nadiem Makarim Menunjukkan Kalau Lembaga Pendidikan Sudah Jadi “Inkubator Koruptor”

8 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

papua.MOJOK.CO

Tolak Tawaran Kerja di Amerika Demi Mengajar di Pelosok Papua, Berambisi Memajukan Tanah Kelahiran

18 Februari 2026
Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
Sate entok di Kaliurang, Jogja

Sate Entok, Olahan Unggas Terbaik yang Jarang Diketahui padahal Rasanya Lebih “Jujur” daripada Bebek Goreng

18 Februari 2026
Ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia dari PTN terbaik di Jawa Timur alami penolakan 150 lamaran kerja. Buat pekerjaan freelance aja tidak bisa hingga jadi beban keluarga MOJOK.CO

Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa

21 Februari 2026
PGPAUD, Guru PAUD.MOJOK.CO

Nekat Kuliah di Jurusan PGPAUD UNY demi Wujudkan Mimpi Ibu, Setelah Lulus Harus ‘Kubur Mimpi’ karena Prospek Kerja Suram

19 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.