• 19
    Shares

MOJOK.COPersaingan di dunia maya bisa terjadi di mana saja. Bahkan dalam kolom komentar Instagram, di dalamnya berlomba-lomba menjadi yang terbaik supaya terpilih sebagai top comment.

Instagram memang menjadi media sosial yang paling tepat untuk memamerkan versi terbaik dari kehidupan kita. Di platform ini, penggunanya dapat berlomba-lomba menunjukkan kehidupan masing-masing yang kelihatannya membahagiakan itu. Lantas, menjadikan banyak pula penggunanya merasa tersiksa dan stres karena sibuk membandingkan kehidupan pribadi dengan secuil kehidupan yang diperlihatkan oleh pengguna yang lain.

Instagram telah menjadi tempat yang tepat untuk itu. Apalagi dengan fitur Instagram Story-nya. Fitur ini sangat memungkinkan penggunanya untuk ber-self disclosure, atau mengungkapkan informasi tentang dirinya secara sadar, di mana sesuatu itu belum diketahui oleh pengguna yang lainnya.

Instagram Story yang hanya bertahan selama 24 jam ini memang memberikan kesempatan ke penggunanya untuk memperlihatkan kehidupannya dengan lebih detail. Dari bangun tidur hingga akan tertidur lagi. Sungguh sebuah sarana eksistensi yang paling mumpuni, untuk diakui menjadi paling diantara yang lain.

Sebagai sarana eksistensi, ternyata Instagram tidak memberi kesempatan untuk eksis hanya kepada pengguna yang mengunggah postingan saja. Namun para komentator pun memiliki kesempatan yang sama.

Ya, untuk menjadi eksis meski hanya menjadi komentator, Instagram telah memfasilitasinya dengan memunculkan fitur top comment. Sejak Instagram mengeluarkan fitur tersebut, netizen seperti berlomba-lomba untuk menunjukkan eksistensinya.

Sebenarnya, aturan menjadi top comment di Instagram ini tidak jauh berbeda dengan di Webtoon yang sudah ada sebelumnya. Dengan fitur Instagram bernama Threaded Message, akan memudahkan pengguna lain untuk saling membalas komentar.

Fitur ini pula yang kemudian memfasilitasi pengguna untuk menjadi top comment. Jadi, komentar yang paling banyak disukai oleh pengguna Instagram komentarnya akan berada di paling atas sesuai dengan perolehan like atau komentar.

Begitulah, Instagram memang memfasilitasi penggunanya untuk memberi like pada komentar seseorang. Ataupun mengomentari sebuah komentar. Sungguh sebuah wadah untuk berdiskusi yang akan sangat menarik sekali.

Biasanya, para pengejar top comment ini akan memilih akun-akun yang sudah memiliki follower banyak. Oke banyak itu relatif. Ehm, setidaknya akun yang setiap postingannya akan ramai dengan komentar yang tidak nyambung dengan postingannya.

Mengapa yang banyak komentar tidak nyambung? Karena para pengejar ini akan melakukan hal yang serupa. Ada kemungkinan ia keder jika melakukannya sendiri. Sehingga ia mencari teman, supaya tidak nampak mencolok di postingan akun yang komentarnya biasa-biasa saja.

Akun-akun yang mereka cari biasanya semacam akun berita atau gosip, akun milik selebgram atau selebritis, ataupun akun hiburan. Mengapa harus melakukannya pada akun-akun yang sudah memiliki pengikut banyak? Tentu saja, mereka ingin memanfaatkan popularitas akun-akun tersebut, untuk mendulang popularitasnya sendiri.

Ada berbagai macam cara yang dapat dilakukan jika seseorang ingin menjadi top comment. Yang sering dilakukan adalah dengan memberikan komentar yang berusaha melucu, berusaha bijak, atau pun berusaha menjelaskan dengan sangat logis dari kronologis postingan yang mungkin tidak dipahami oleh netizen yang lain.

Yang kemudian menjadi menyebalkan adalah, jika komentar tersebut nggak nyambung sama sekali dengan postingannya. Misalnya, postingan tersebut tentang launching si pacar baru. Namun justru netizen berkomentar seperti ini,

“Aku mau nyanyiin lagu Abdullah, nih.”

“Aku mau ke postingan awal (sebut nama akun yang posting), ada yang mau nitip di-mention?”

Ada pula yang jelas-jelas menunjukkan dia memang menghamba menjadi top comment. Dengan bilang,

Please, kalau aku jadi top comment, aku bakal….” Diikuti dengan janji-janji yang seringnya nggak masuk akal. Yang akhirnya, kalaupun dia mendapat banyak like, tidak ada pembuktian sama sekali apakah dia benar-benar menepati janji tersebut atau tidak.

Ada pula penghamba yang semakin menyebalkan, karena ia melakukan hal itu di momen yang sangat tidak tepat. Misalnya nih, postingannya sedang memberitakan tentang berita duka. Ntah tentang berita seseorang yang meninggal ataupun bencana alam. Eh, dia malah tetep aja bercandaan kayak gitu. Kan jadinya sok asik kebangetan yang bikin, “Sumpah nih orang baca caption postingannya nggak sih?”

Masih ada lagi yang menyebalkannya sebelas dua belas lah sama komentar ngelucu di berita duka. Yakni komentar yang sebar kebencian di mana-mana. Sepertinya dia bener-bener tidak bisa merelakan orang lain untuk berbahagia.

Untuk dua tipe penghamba yang disebut terakhir tadi, tolong jangan dikasih panggung untuk menjadi top comment deh. Demi kebahagian semua pihak.

Menurut saya, sebenarnya akun-akun di balik pencari top comment ini adalah orang-orang yang tidak percaya dengan kemampuannya sendiri. Sehingga dia merasa lebih aman dengan menempel pada akun yang sudah populer sebelumnya, untuk mencari polularitasnya sendiri.

Meski banyak juga yang menghibur, namun tidak sedikit yang bagi saya justru annoying dan apa banget. Ketika komentar itu sama sekali nggak klop dengan konteks postingannya. Lantas, ini benar-benar menjadikan Instagram bukan sebagai tempat diskusi yang mengasyikkan. Lah gimana bisa jadi tempat diskusi, postingannya ngomong apa, komentarnya nanggepi apa.

Apa? Buat bahan lucu-lucuan aja?

Coba deh, tengok Twitter. Pengguna Twitter bisa kok tetep memberi komentar yang lucu-lucu. Tentu saja, dengan lucu-lucuan yang masih sesuai dengan konteks postingannya. Bikin sesama pengguna jadi sama-sama enak. Terhibur? Wooo ya jelas. Namun juga mendapatkan wawasan dan sudut pandang lain.

Jadi, wahai penghamba top comment Instagram, dari pada kamu-kamu sibuk rebutan berusaha menjadi top comment. Alangkah lebih baik kalau konten-konten itu, diposting sendiri saja. Kenapa? Nggak percaya diri? Iya?

Percayalah, menjadi top comment itu hanyalah pencapaian yang sementara. Itu semua fana. Kepopuleranmu akan bertahan lebih lama, jika kamu mau mengusahakannya dengan menghidupi akunmu sendiri.

Apa? Di kolom komentar postingan akun Instagram kamu belum ada komentar-komentar semacam itu? Oh, itu sih artinya akunmu belum cukup populer, Gaes.

  • 19
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles