• 123
    Shares

MOJOK.COSaya dekat dengan teman perempuan saya, namun diam-diam juga bersaing dengannya. 

Sewaktu kuliah, saya punya beberapa teman dekat. Dekat sekali. Mereka semua sama-sama perempuan. Kami saling memuji di depan. Saling memberikan semangat, kekuatan, dan dukungan. Namun di belakang, ternyata diam-diam kami saling bersaing satu sama lain. Berusaha menjadi yang terbaik di antara kami. Iya, hanya di antara kami.

Hal ini sangat saya rasakan ketika sedang mengerjakan skripsi. Kami sering mengerjakan skripsi bersama-sama. Namun tanpa diungkapkan ternyata kami berusaha menyelesaikan skripsi paling cepat dibanding lainnya. Terkadang kami menampakkan wajah malas di depan, namun ternyata bersemangat mati-matian di belakang.

Perasaan persaingan seperti ini, tidak saya rasakan terhadap teman lelaki saya. Keberadaan teman lelaki tersebut, benar-benar saya anggap sebagai pendukung. Saya sama sekali tidak merasa dia–teman lelaki saya–sebagai ancaman. Berbeda dengan teman perempuan saya, yang justru saya anggap sebagai saingan.

Padahal, saya dan mereka–teman perempuan saya–tidak ada masalah apa-apa. Kami baik-baik saja. Tetap bisa bercerita banyak hal. Sayangnya, perasaan untuk tidak mau kalah dibandingkan mereka, sepertinya sulit dihapuskan begitu saja.

Bukankah menganggap teman dekat sendiri sebagai saingan adalah hal yang cukup aneh? Di saat perempuan seharusnya saling mendukung satu sama lain?

Tetapi, mungkin ini bisa jadi hal yang biasa saja terjadi. Lihat saja kasus Gita Savitri dan Via Vallen yang pernah mendapatkan pelecehan seksual dari seseorang lelaki yang tidak mereka kenal. Mereka merasa tidak nyaman dengan itu, lalu menceritakannya di media sosial berharap mendapatkan dukungan.

Baca juga:  Selamat Hari Ibu untuk Sembilan Perempuan

Namun yang ada, mereka justru mendapatkan ejekan oleh perempuan lainnya. Banyak perempuan yang menganggap ‘curhat’ tersebut sebagai hal yang tidak perlu disuarakan. Lebih parah lagi, keduanya dianggap ‘lebay’ oleh sesama perempuan.

Ini betul-betul aneh, kan? Ketika sesama perempuan seharusnya saling menguatkan satu sama lain, yang jamak terjadi justru saling menjatuhkan. Apakah hal ini bisa dikatakan sebagai sebuah persaingan terselubung?

Perihal perselingkuhan juga. Jika ada suami yang telah beristri kemudian selingkuh, yang sering terjadi adalah kemarahan sang istri lebih besar ke selingkuhannya. Bukan ke suaminya sendiri. Tidak mengherankan, jika rasa-rasanya sebutan pelakor (perebut laki orang) lebih sering terdengar dibandingkan pebinor (perebut bini orang).

Selain itu, masalah body shaming, isu yang sering ditentang oleh perempuan ini, justru tanpa sadar dilakukan oleh sesama perempuan sendiri. Saya yakin, banyak perempuan merasa tidak nyaman jika dikomentari anggota tubuhnya. Namun, tanpa disadari, banyak basa-basi yang keluar dari mulut perempuan, justru menyampaikan hal tersebut.

Ya, masalah persaingan ini bentuknya memang beraneka ragam, dari diam-diam merasa tersaingi, kemudian ngomongin di belakang, saling memusuhi atau menghina di media sosial, mengajak teman se-geng memusuhi dia, hingga melabrak.

Mengapa? Menurut analisis sok nyikologis saya, hal ini dikarenakan perempuan lebih sensitif serta memiliki kebutuhan akan perhatian yang lebih besar dibandingkan lelaki. Lantas, keinginan untuk menjadi pusat perhatian juga menjadi lebih besar.

Baca juga:  Penghasilan Inul Daratista Jauh Lebih Dahsyat dari Via Vallen dan Nella Kharisma

Untuk mendapatkan perhatian yang lebih banyak tersebut, tidak mengherankan jika kemudian kita sebagai perempuan merasa bahwa saingan-saingan kita tersebut setidaknya dimulai dari makhluk yang diciptakan serupa. Yang adalah perempuan lainnya. Maka perasaan merasa terancam dan tidak aman itu justru didapatkan dari para perempuan juga.

Tanpa disadari kita sesama perempuan saling bersaing, bisa dengan mempromosikan diri kita sendiri untuk telihat lebih menarik ataupun dengan menghina dan menjatuhkan perempuan lainnya supaya kita terlihat lebih baik.

Sebetulnya, masalah persaingan itu tidak selalu berdampak buruk dan tidak ada masalah. Jika memang, pertemanan kita diam-diam saling bersaing ke arah yang positif. Misalnya saling bersaing untuk juara kelas, bersaing untuk dipilih mewakili sekolah untuk mengikuti lomba, dan semacamnya. Toh persaingan seperti itu, juga memacu diri kita untuk menjadi lebih baik, kan?

Eh, tapi apa ya, nggak capek kalau hidup yang dimulai dengan persaingan ini, terus menerus diisi untuk saling berkompetisi? Bukankah akan lebih nyaman rasanya jika kita memilih untuk saling berkolaborasi? Iya nggak, sih? *ngomong sama diri sendiri.