stereotip pada perempuan bercadar MOJOK.CO

Stereotip Nggak Perlu yang Dilekatkan pada Orang Bercadar

MOJOK.COMenuduh-nuduh seseorang hanya berdasarkan apa yang ia kenakan tentu tidak adil. Termasuk pada orang bercadar.

Adanya prasangka atas apa yang kita kenakan, ternyata masih saja ada. Sepertinya, simbol-simbol fisik pada diri kita memang masih sangat mudah langsung dikait-kaitkan dengan identitas tertentu, beserta stereotip kepribadian yang mengikutinya.

Sebuah akun Twitter @AmbarwatiRexy mem-posting video yang memperlihatkan perempuan-perempuan bercadar. Dalam video tersebut, para perempuan bercadar sedang bebarengan berjalan keluar dari sebuah tempat. Lantas, ia menyematkan caption, “Mana Jubaedah, mana Maemunah?”

Lalu ia juga berkomentar bahwa membuka cadar di beberapa negara bisa dibunuh, untuk memperlihatkan besarnya doktrin pengenaan cadar di sebuah negara. Tidak sampai di situ, ia juga mengungkapkan fakta sebaliknya. Kalau beberapa negara juga melarang penggunaan cadar untuk alasan keamanan. Katanya, banyak perbuatan kriminal yang berlindung di balik cadar.


 

Apa yang ia sampaikan itu, sebetulnya sangat menyedihkan. Di saat kita sedang semangat-semangatnya berkoar-koar tentang “kebebasan soal apa pun pilihan kita” termasuk apa yang kita kenakan. Ternyata, ada yang dengan terlalu terang-terangan melabeli sebuah pakaian dengan stereotip tertentu. Seperti bahwa pakaian tersebut adalah hasil doktrin, teroris, bom, radikal, dsb.

Mohon maaf nih, bukankah akhir-akhir ini kita sedang menggembar-gemborkan untuk tidak menilai seseorang hanya berdasarkan dari pakaian yang ia kenakan? Misalnya, seperti yang sering terjadi pada kasus-kasus pelecehan atau kekerasan seksual. Kita selalu bilang kalau pakaian sama sekali tidak berkaitan dengan kejadian terkutuk itu. Kalau itu terjadi, bukan karena pakaian yang dikenakan korban. Akan tetapi, itu karena otak-otak mesum pelaku aja yang nggak bisa dikontrol.

Baca juga:  Stereotip Pegawai Pajak Yang Kerap Bikin Sebal

Harusnya, konsep kebebasan atas apa pun pakaian yang dikenakan, juga berlaku sama bagi orang yang memilih bercadar, dong? Lagian ya, nggak ada satu pun orang yang mau di-judge berdasarkan pakaian yang ia kenakan.

Maksudnya begini. Kenapa sih, kita hobi banget melanggengkan pakaian dengan karakter tertentu? Dengan suka mengkait-kaitkan identitas semacam itu, justru bikin stereotip terus berlanjut. Prasangka terus ada. Akhirnya, kita malah saling mencurigai satu sama lain.

Padahal, kita tidak bisa dinilai hanya berdasarkan apa yang kita pakai, kan? Sederhananya, kalaupun kita mengenakan pakaian yang sama dengan seseorang, belum tentu kepribadian kita akan sama begitu saja. Ya dari pemikirannya, perasaannya, emangnya bisa sama, gitu? Nggak juga, toh?

Lagian, ngapain sih kita harus ribet-ribet ngurusin seseorang yang bercadar? Toh, mereka waktu beli juga nggak nyusahin orang lain. Nggak ngabisisn duit orang lain juga. Ngapain justru kita yang ribet-ribet?

Apalagi kalau sampai menganggap bahwa setiap orang yang memilih bercadar itu karena hasil doktrin, itu juga nggak adil. Pasalnya, nggak semua orang melakukan sesuatu karena doktrin, kan? Memangnya, seburuk apa sih orang bercadar sampai-sampai, seolah nggak bakal ada seseorang dengan akal sadarnya memilih untuk mengenakannya.

Fyi, ya, lagi-lagi, ini adalah pilihan. Nggak seharusnya kita mengecam pilihan orang lain selama itu tidak merugikan kita.

Baca juga:  Cinta dan Kesetiaan di Kursi Belakang Bis Antarkota

Melogikakan mengenakan cadar sama dengan membawa bom, rasanya sangat disesalkan. Kok seolah-olah bom itu hanya dapat disembunyikan di dalam cadar? Di dalam pakaian yang lebar-lebar? Memangnya style fashion yang lain nggak ada yang bisa menandingi untuk memiliki risiko ini? Memangnya tas ransel orang yang nggak berpakaian semacam itu nggak punya risiko bahaya? Hah?

Menganggap akar masalah hanya dari printilan simbolis yang kita kenakan, sungguh sangat tidak bijak. Bukannya menyelesaikan masalah, justru menimbulkan masalah-masalah yang lain.

Hadeeeh, udah deh, ya. Tolong dicamkan baik-baik, yang kriminal itu bukan pakaiannya. Tapi orangnya. Kalau setiap orang berpakaian tertentu identik dengan kejahatan tertentu, tugas polisi buat nangkepin penjahat jadi gampang banget, dong?

BACA JUGA Cadar Mbak Dian dan Fobia Atribut dan tulisan Audian Laili lainnya