Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Curhat

Punya Teman yang Hedon, Buatku Merana

Audian Laili oleh Audian Laili
3 November 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Memiliki teman yang hedon tidak selalu akan merugikan kamu—yang uang sakunya pas-pasan, namun juga bisa saling menguntungkan jika kalian mau saling memahami. 

TANYA

Teruntuk kru Mojok yang baik hatinya lagi bagus akhlaknya….

Iklan

Sebelumnya perkenalan dulu, ya, Jok. Aku Kentang, seorang maba unyu yang baru menjalani laku hidup sebagai seorang perantau. Sebagaimana maba-maba pada umumnya, aku juga mengalami fase lonjakan tentang kehidupanku yang baru ini. Jadi gini nih, Jok, langsung aja ya aku ceritain tanpa babibu. Aku dari dulu nggak pernah hidup terpisah jauh dari keluarga. Pengalaman ngekos ini adalah pengalaman pertama aku hidup jauh dari keluarga.  Aku yang sebelumnya nggak pernah jauh dari orang tua, kini harus hidup sebatang kara mandiri di kota orang. Nah, di sini nih letak permasalahannya, Jok.

Aku dari dulu nggak terbiasa jauh dari orang tua, bisa dikatakan aku termasuk anak rumahan yang ansos jarang main sama temen. Secara karena jarang main sama temen-temen, jadinya aku juga jarang makan di luar dan jajan ini itu. Nah, beda sama hidup yang sedang aku jalani saat ini. Merantau di kota orang dengan kondisi jauh dari keluarga, menuntutku untuk mencari teman sebagai pengobat sepi. Mungkin karena aku yang kurang pinter pilih-pilih teman (ih teman kok pilih-pilih sih), si temenku ini sukanya ngajak jajan ini itu yang mahal-mahal.

Pernah suatu ketika aku diajak ke salah satu kedai es krim yang harganya astaghfirullah. Andaikan buat dibeliin es krim Aice, bisa dapat 10 biji. Nggak jarang pula aku diajak buat makan makanan yang harganya cukup untuk aku makan dua kali. Ya emang nggak terlalu mahal, sih. Tapi kalau keterusan kan abis juga duit ana.

Sebagai anak kos newbie yang uang sakunya aja pas-pasan, aku mikir-mikir juga. Kalau dia ngajak main dan aku nggak ikut, ada rasa nggak enak sama dia. Kalau ikut, aku harus merogoh kocek buat jalan sama dia yang bisa dikatakan menganut paham hedonisme. Hmm, gimana ya, Jok, buat keluar dari masalah ini? Aku pengin bersosialisasi biar punya temen yang banyak, tapi aku juga nggak mau ikut gaya hidup mereka yang seperti itu. Pliss ya, Jok.. bales yaa… mwah~

Salam sayang,

Kentang.

JAWAB

Hai Kentang, yang sayang Mojok—ah, senangnya ada yang sayang—terima kasih telah menganggap mojok baik hati dan bagus akhlaknya. Tapi yang perlu kamu ketahui, hanya Ali de Praxis yang akhlaknya kami jadikan panutan. Yang lainnya? Hah, sudahlah.

Oh ya, terima kasih telah menceritakan keluh kesahmu dalam menjalin pertemanan. Kamu tidak perlu khawatir, tenang saja, bukan Mojok namanya kalau tidak punya solusinya. Lantas apakah solusi ini akan berfaedah atau tidak, biarkan itu menjadi urusan kamu. Xixixi.

Kentang, memang benar adanya dalam menjalin pertemanan itu tidak boleh pilih-pilih. Sama seperti ketika kita sedang makan sop. Alangkah baiknnya tidak hanya memilih makan kentang dan dagingnya saja, sementara menyisakan wortelnya. Padahal wortel itu bagus untuk mata. Begitu pula dengan berteman, Kita harus berteman dengan siapa saja meski bagaimanapun keadaan mereka. Sebab, itu adalah salah satu pengamalan nilai-nilai toleransi seperti yang diajarkan kepada kita sejak kecil. Minimal melalui pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) ketika di bangku sekolah dulu—ehm, ketika kamu sekolah dulu apakah pelajaran ini namanya masih sama?

Ini memang menjadi penting kamu pahami baik-baik, Kentang. Sebab, saat ini kamu sedang tumbuh dewasa di sebuah negara yang semakin sulit untuk mengamalkan nilai toleransi. Semua ingin menjadikan orang lain sama seperti kita. Semua selalu ingin untuk seragam dan sama. Padahal kan kita ini punya semboyan bhinneka tunggal ika. Yang berbeda-beda jadi satu. Nah, kalau semuanya sudah seragam, semboyanlah nanti buat apa. Iya, kan? Wqwq.

Begitu pula dengan pertemananmu saat ini yang mungkin agak terasa beda kelas. Dia yang menurutmu lebih hedon berbeda dengan kamu yang memiliki nilai hidup untuk berhermat—lebih tepatnya dengan keuangan pas-pasan. Namun, dalam kondisi ini apakah kalian tidak bisa tetap berteman? Oh tentu saja bisa.

Kalian tetap dapat berteman dengan baik, Kentang. Tenang saja. Asalkan kalian bersedia saling menceritakan kondisi masing-masing. Supaya adanya saling memahami di antara kalian. Mungkin akhirnya kamu paham, kalau dia ini sebenarnya punya uang saku yang kebanyakan, sampai bingung caranya untuk menghabiskan. Sedangkan dia, dapat memahami bahwa kondisi kantongmu ini pas-pasan.

Iklan

Misalnya ketika keuanganmu sedang pas-pasan, sementara dia sedang bingung menghabiskan uang sakunya. Kondisi ini bisa menguntungkan satu sama lain, loh. Kamu bisa minta ditraktir sehingga kamu bisa tetap hemat, sedangkan dia punya kesempatan yang baik untuk bisa beramal soleh. Sungguh sebuah simbiosis mutualisme yang dahsyat betul.

Ceritakan saja kesulitanmu itu, Kentang. Seterbuka mungkin. Jika kalian memang sama-sama memiliki nilai toleransi yang baik, tentu kalian dapat mencari jalan keluar untuk menyesuaiakan kondisi masing-masing. Namun, kalau ternyata hanya kamu yang dapat menerima dia, sedangkan dia hanya memandangmu sebagai sobat qismin semata dan beda level dengannya. Yasudah, lebih baik mundur saja.

Ingat, Kentang. Tujuanmu untuk berteman kan sebagai pengobat sepi. Kalau dalam pertemanan itu justru dompetmu yang malah jadi sepi, ya buat apa. Jadi, daripada kamu terus-menerus menyiksa diri sendiri dengan menyimpan keluh kesah itu, lebih baik kamu memberanikan untuk membicarakan hal ini.

Jagan takut ditinggalkan, Kentang. Jika kamu memiliki kepercayaan diri yang yahud dan mau membuka diri, kamu pasti akan mendapatkan lingkaran pertemanan yang tidak sebatas membicarakan masalah akan makan di mana dan mau main ke mana saja. Namun, justru yang dapat memperkaya pikiran dan kepribadianmu.

Terakhir diperbarui pada 3 November 2018 oleh

Tags: hedonismemahasiswa barumerantauteman hedon
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal MOJOK.CO
Catatan

Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas

8 Juli 2026
kebayoran baru, jakarta selatan, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Punya Kos Murah di Kebayoran Baru adalah Kemewahan, Biar Berisik tapi Setidaknya Menyelesaikan 3 Masalah Besar Perantau di Jakarta

3 Juli 2026
Sesal pernah kasar ke bapak karena miskin. Kini sadar setelah ditampar perantauan karena ternyata cari duit sendiri tidak gampang MOJOK.CO
Sehari-hari

Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!

21 April 2026
Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co
Pojokan

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026
Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri? MOJOK.CO

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri?

20 Juli 2026
Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana MOJOK.CO

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana

17 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.