MOJOK.CO Sejak akhir April hingga awal Mei, sosok polisi menjadi tokoh utama dari beberapa pemberitaan nasional. Sederet fenomena yang terjadi pun lantas membuat kita menarik hikmah di baliknya: inikah syarat-syarat menjadi polisi yang sesungguhnya?

Selama dua hari berturut-turut di awal bulan Mei—tepatnya tanggal 1 dan 2 Mei—ada dua perayaan yang dikenal orang-orang: Hari Buruh tanggal 1 Mei dan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei. Sesuai dengan namanya, Hari Buruh tentu saja diisi dengan munculnya para buruh di pemberitaan nasional. sedangkan Hari Pendidikan Nasional umumnya menjadi hari refleksi sistem pendidikan di Indonesia.

Meski berbeda konsep, tujuan, dan sasaran, Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional ternyata, secara tidak langsung, membuat kita menyoroti sebuah profesi yang tampaknya nggak nyambung-nyambung amat dengan profesi buruh dan guru sebagai prajurit pendidikan di Indonesia. Siapakah dia? Dia adalah~

*jeng jeng jeng*

Polisi~

Ya, ya, ya, menjadi polisi bukanlah perkara yang mudah, Kriteria agar lolos seleksi polisi umumnya lebih berfokus pada keterampilan fisik, pendidikan, dan integritas. Namun, kini, Mojok Institute telah menghimpun tiga kejadian terhangat yang melibatkan nama polisi di dalamnya. Diitilik dari kejadian-kejadian ini, kita bisa menarik hikmah di baliknya: mungkin, inilah syarat-syarat menjadi polisi yang sesungguhnya.

Polisi di Hari Buruh: Sabar adalah Kunci Utama

Ada demo di Hari Buruh. Di Jogja, aksi serupa dipusatkan di Malioboro dan difasilitasi. Namun, di tempat lain di Jogja, tepatnya di pertigaan UIN Sunan Kalijaga, sebuah aksi muncul tanpa pemberitahuan.

Sontak, polisi harus bergerak cepat. Sementara itu, massa yang menggelar aksi langsung menyampaikan tuntutannya. Nah, pertama-tama, inilah sebuah highlight dari profesi polisi: mereka harus kuat dan sabar mendengarkan “curhatan” orang yang melakukan aksi atau unjuk rasa!!!

Baca juga:  Jokowi Sebaiknya Tak Pilih Cak Imin dan Kemungkinan Cawapres dari Militer

Di pertigaan UIN tersebut, massa berorasi bergantian, menuntut banyak hal sekaligus. Para polisi mengaku berkerut mendengarkan tuntutan yang rasanya nggak berkaitan-berkaitan amat dengan masalah buruh, yaitu mencakup permintaan penurunan harga BBM hingga masalah Sultan Ground dan Pakualaman Ground serta pencabutan nota kesepahaman perbantuan TNI ke Polri.

Seperti belum puas “menyiksa” polisi dengan kemunculan yang tiba-tiba, massa juga bentrok dengan warga yang merasa terganggu. Tahukah kalian siapa yang jadi korban?

Ya, mylov, polisi-lah yang jadi korban. Atau, lebih tepatnya, pos polisi-lah yang jadi korban.

[!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!1111!!!1!!!!]

Massa yang ternyata merupakan gabungan dari berbagai elemen mahasiswa ini telah membawa bekal berupa bom molotov, yang kemudian dilemparkan ke pos polantas yang berdiri dengan tenang di sana. Padahal, pos itu diam. Tidak melawan. Tidak membalas orasi. Hening. Mati.

Tapi kenapa kau bakar jua? :(((((

*sabar, sabar, sabar*

Polisi di Hari Pendidikan Nasional

Di tanggal 2 Mei, fakta-fakta soal pendidikan di Indonesia terangkat, salah satunya mengenai kekurangan guru di daerah-daerah terpencil. Sialnya, guru-guru yang dibutuhkan ini adalah guru-guru yang mata pelajarannya diujikan dalam Ujian Nasional, seperti matematika, bahasa Indonesia, hingga bahasa Inggris.

Hal inilah yang terjadi di Poso, tepatnya di SD-SMP Satu Atap Bulili, Kecamatan Lore Selatan. Lebih spesifik lagi, pihak sekolah membutuhkan guru bahasa Inggris untuk kelas 7-9.

Minimnya tenaga pengajar bahasa Inggris ini akhirnya mendorong munculnya sosok pahlawan baru dalam pendidikan—siapa lagi kalau bukan…

…polisi (lagi)!!!

Adalah Bripka Hans Lapanda yang menyerahkan hatinya untuk turut menjadi tenaga pengajar bahasa Inggris, lengkap dengan seragam polisinya. Fenomena ini seolah-olah menegaskan bahwa menjadi polisi erat kaitannya dengan kesigapan kita jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk mengajar. Jadi, mulai dari sekarang, kuasailah satu mata pelajaran dengan baik. Siapa tahu~ Xixixi~

Baca juga:  Ketika Mas G Bilang Cinta dan Ngajak Saya Nikah

FYI, kejadian ini senada dengan pernyataan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Lembong, yang menyatakan bahwa Indonesia sedang kekurangan guru bahasa Inggris yang sebenarnya bisa mendukung sektor pariwisata.

Masih menurut Thomas, kekurangan ini disebabkan tenaga pengajar bahasa Inggris cenderung memilih bekerja di sektor lain, seperti perbankan, konsultan hukum, bidang asuransi, atau…

…jadi redaktur di Mojok.

Polisi di Hari Pernikahannya: Long Distance, Siapa  Takut?

Sebelum heboh polisi yang posnya dibakar dan polisi yang menunjukkan bakatnya sebagai guru bahasa Inggris, sebuah berita muncul dengan polisi menjadi bintang utamanya.

Pada tanggal 28 April 2018 lalu, sepasang polisi bernama Briptu Nova dan Briptu Andik Rianto, menikah dengan perantara video call~

Pada momen ini, Briptu Andik selaku mempelai pria, hadir membacakan ijab kabul di Pontianak, Kalimantan Barat, sedangkan calon istrinya, Briptu Nova, menyaksikannya lewat layar ponsel di Cikeas, Bogor.

Pernikahan yang dilakukan dengan kedua mempelai terpisah jarak ini bukan sebuah kesengajaan. Ternyata, Briptu Nova terpaksa tidak bisa menghadiri akad nikahnya sendiri karena ia tengah mengikuti seleksi Polisi PBB yang menjadi cita-citanya.

Pernikahan Briptu Nova dan Briptu Andik Rianto ini memberi suatu pelajaran tersendiri bagi generasi muda yang sedang dimabuk cinta: persetan dengan Long Distance Relationship atau Long Distance Marriage—mereka bahkan melakukan Long Distance Wedding~

Yhaaa, jadi begitulah, mylov: menjadi polisi itu susah-susah gampang. Malah, ada juga polisi yang setiap hari harus rela menghadapi “perlawanan” warga yang datang, sampai-sampai mereka berani melindas polisi tersebut.

[!!!!!!!!!!!!!!!!11!!!!]

Ternyata, ia adalah…

…polisi tidur~



Tirto.ID
Loading...

No more articles