• 154
    Shares

MOJOK.CO Beberapa orang menyebutkan bahwa kata takjil merupakan bentuk salah kaprah di Indonesia. Menariknya, bentuk ini justru diserap dalam KBBI.

Memasuki bulan Ramadan, takjil ibarat nama artis terkenal: melejit dan dicari oleh banyak orang. Di mana-mana, takjil dicari, baik yang dijual maupun yang dibagikan gratis. Ibaratnya, puasa tanpa takjil adalah mustahil. Pokoknya, buka puasa, ya, waktunya takjil~

Yang tak kalah ramai dibicarakan kini adalah makna dari kata takjil itu sendiri. Beberapa orang menyebutkan bahwa takjil sesungguhnya bukanlah makanan. Mereka menekankan bahwa istilah takjil merupakan bentuk salah kaprah di Indonesia. Menariknya, meski dianggap salah kaprah, bentuk ini justru diserap dalam bahasa Indonesia melalui KBBI!

Tapi, sebenarnya, apa sih makna sebenarnya dari ‘takjil’, kalau bukan makanan? Jika ia merupakan bentuk salah kaprah, kok bisa-bisanya sampai kesalahan itu terjadi?

Jadi, begini: mula-mula, kata takjil (jika diserap dalam bentuk asli ditulis sebagai ta’jil) berasal dari bahasa Arab. Akar kata takjil ini sendiri adalah عجل atau ada pula yang menyebutnya lengkap sebagai ajjala yuajjilu ta’jiilan. Secara sederhana, akar kata dari bahasa Arab ini cuma punya satu arti, yaitu menyegerakan (dalam hal berbuka puasa).

Yha, makna asli kata takjil adalah menyegerakan, yang merupakan sebuah kata kerja.

Jika makna takjil ini digunakan sesuai arti aslinya, mungkin kita akan familiar dengan dialog semacam ini:

Baca juga:  Gemetar di Hadapan Ivan Lanin, Pencinta Bahasa Indonesia Paling Tampan Sejagat Twitter

A: Udah azan Magrib belum, ya?

B: Udah, barusan. Kamu takjil, gih.

Betul, nggak? Sayangnya, dialog di atas tidak pernah kita lakukan. Malah, kita cenderung menggeser makna takjil menjadi ‘makanan berbuka puasa’. Bahkan, muncul pula istilah ‘Para Pencari Takjil’ untuk siapa saja yang hobinya keliling-keliling cari makanan menjelang berbuka, baik yang harus dibeli ataupun yang gratis dari masjid-masjid tertentu.

Ya, di sinilah salah kaprah ini terjadi. Alih-alih ‘menyegerakan’, kita hanya mengenal kata takjil yang artinya ‘makanan berbuka puasa’—dari kelas kata kerja, langsung berubah menjadi kata benda.

Tapi, kenapa kesalahan ini bisa muncul? Nggak mungkin dong salah kaprahnya muncul ujug-ujug~

Usut punya usut, kemungkinan kesalahan ini muncul dari kebiasaan orang-orang Arab itu sendiri. Saat berbuka puasa, mereka terbiasa takjil (menyegerakan berbuka) dengan makanan-makanan ringan terlebih dahulu, tak terkecuali kurma. Nah, karena mereka lantas menyebut kata ‘takjil’ sambil menyantap kurma, muncullah anggapan bahwa takjil berarti makanan ringan saat berbuka puasa, yang salah satunya termasuk kurma.

[!!!!!!!!!!!!!!!111!!!!]

Ja-jadi semua ini karena kurma???

Entahlah, tapi yang jelas, makna takjil yang salah kaprah inilah yang justru berkembang. Bukan cuma kurma, makanan dan minuman lain yang disebut takjil pun kian banyak ditemukan. Hingga akhirnya, bahasa Indonesia memilih menyerap kata takjil ke dalam dua definisi. Dalam KBBI, makna kata ini ditulis sebagai berikut:

  1. mempercepat (dalam berbuka puasa)
  2. makanan untuk berbuka puasa
Baca juga:  Minggu atau Ahad: Nama Hari atau Simbol Agama?

Hmm, sebuah penyelesaian yang aman. Bisa kita amati bersama, KBBI tidak menghilangkan makna asli kata takjil, sekaligus mempertahankan makna yang berkembang umum di masyarakat (nomor 2) sekalipun ia merupakan bentuk salah kaprah.

Setidaknya, dalam penyerapan kata ini, kita bisa mempelajari satu hal: melepaskan seseorang yang biasa kita andalkan memang rasanya sulit dan berat, my lov :((((

  • 154
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles