Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Versus

Penggunaan Kata Depan Ke, Kepada, Pada, dan Untuk yang Suka Bikin Pusing

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
10 Desember 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Mengamati penggunaan kata depan ke, kepada, pada, dan untuk, serta perbedaannya, dalam bahasa Indonesia.

Di dunia ini, yang memusingkan kepala ternyata bukan hanya problematika percintaan. Nyatanya, penggunaan kata depan alias preposisi bahasa Indonesia juga tak kalah membuat kita berpikir lebih keras dari sebelumnya, yaitu pada kata ke, kepada, pada, hingga untuk. Kenapa berpikir lebih keras? Tentu saja karena bingung: ini cara pakainya sebenarnya gimana, sih???

Iklan

Kenapa kita cenderung suka berkata, “Aku ingin meminta bantuan ke kamu,” alih-alih, “Aku ingin meminta bantuan kepada kamu”? Bentuk mana yang benar? Bentuk mana yang sesuai dengan aturan bahasa Indonesia? Bentuk mana yang tidak merusak hubungan dan komitmen kesepakatan penggunaan bahasa?

Ternyata, Pemirsa, bentuk kalimat yang paling benar adalah bentuk kedua: “Aku ingin meminta bantuan kepada kamu.” Sekarang, marilah kita kupas tuntas mengapa kata kepada dipilih, bukan kata ke.

Baik ke maupun kepada adalah kata depan yang dalam penggunaannya memperhatikan dua hal, yaitu kata yang didahului serta arti yang dibawanya. Jika ke merujuk pada tempat fisik (sesuatu yang diyakini sebagai tempat), lain halnya dengan kepada. Kata kepada cenderung dipakai untuk merujuk pada orang atau selain tempat.

Naaah, sampai sini jelas, kan, Ferguso??? Kata ke dan kepada itu beda. Lagi pula, kata ke sendiri bukan merupakan kependekan dari kata kepada. Jadi jelas, bentuk yang benar adalah: “Aku ingin meminta bantuan kepada kamu.”

Tapi, kalau kamu maksa mau memaksimalkan penggunaan kata depan ke pada kalimat di atas, kamu bisa menulisnya, misalnya, dengan: “Aku ingin ke rumahmu dan meminta bantuan kepada kamu.” Kata ke pada kalimat tersebut menunjukkan tujuan tempat (rumah), sedangkan kata kepada digunakan untuk merujuk selain tempat. Sampai sini mengerti, ya, mylov?

Setelah mengetahui penggunaan kata depan ke dan kepada, muncullah satu lagi pertanyaan baru: apa bedanya penggunaan kata kepada dan untuk???

Menurut KBBI, kata kepada dan untuk memiliki makna berikut:

1. kepada: kata depan untuk menandai tujuan orang

2. untuk:

kata depan untuk menyatakan bagi, bagian;

sebab atau alasan;

tujuan atau maksud; bagi;

Iklan

penggantian (sebagai ganti …); (disediakan, digunakan, dipakai) sebagai;

selama; dan

sudah.

Dari definisi tersebut, jelaslah bahwa penggunaan kata kepada dan untuk memang berbeda, meski terkesan sedikit mirip, seperti jodoh. Sebagai contoh, kalimat “Ayah membawa oleh-oleh untuk kami” merupakan bentuk yang benar dari “Ayah membawa oleh-oleh kepada kami.” Loh, kenapa?

Pasalnya, dalam kalimat di atas, makna yang diangkat adalah “oleh-oleh tersebut merupakan bagian kami.” Dengan demikian, kata untuk lebih tepat digunakan.

Pada konteks yang sama dan cara penyampaian berbeda, kalimat di atas bisa juga diberi kata kepada, seperti kalimat berikut:

“Ayah memberikan oleh-olehnya kepada kami.”

Setelah mengulik kata kepada dan untuk, lagi-lagi lahirlah pertanyaan yang tak kalah membingungkan: apakah kata kepada dan pada bermakna sama??? Kok mirip, memangnya mereka jodoh???

Lebih spesifik lagi, kata pada ternyata justru lebih sering dimirip-miripin sama kata di. Pasalnya, baik di maupun pada sering kali dipakai untuk menandai posisi atau keberadaan, misalnya di sana, di stasiun, atau pada saya, pada kepala divisi. Hal ini berbeda dengan kata ke dan kepada yang dipakai untuk merujuk pada tujuan atau arah, misalnya ke Jakarta dan kepada Bu Tuti.

Dari buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia oleh Alwi dkk., kata pada digunakan pula untuk menunjukkan hubungan waktu, sedangkan kembarannya—kata di—dipakai untuk menunjukkan hubungan tempat. Dengan kata lain, bentuk yang benar adalah saat kita berkata, “Pada tahun 2016, kamu datang kepadaku memberi harapan,” bukannya, “Di tahun 2016, kamu datang kepadaku memberi harapan sebelum akhirnya kamu menghancurkan segalanya.”

Udah, udah, nggak usah baper—itu cuma contoh.

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2021 oleh

Tags: bedanya kekepadapadapenggunaan kata depanpenulisan katapreposisiuntuk
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

No Content Available
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026
KOMSAH: Sejahterakan petani di Klaten. MOJOK.CO

Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur

20 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri? MOJOK.CO

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri?

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.