MOJOK.CO Saya suka bertanya-tanya, apa arti kata “mah” dalam bahasa Sunda, tapi juga kebingungan kalau balik ditanya apa arti kata “tulih” di bahasa Ngapak.

Seorang kawan pernah bertanya pada saya, kenapa saya kerap menggunakan kata “koh” dan “tulih” saat berbahasa Jawa dengan aksen ngapak. Saya lupa jawaban saya apa kala itu, tapi beberapa hari yang lalu, salah satu member JKT48 favorit saya—tentu saja setelah Viny, hehe!—yang bernama Desy dan juga berasal dari Cilacap, telah resmi membuat channel YouTube-nya dan membuat video berbahasa Ngapak.

Pada salah satu bahasannya, ia menyebutkan penggunaan imbuhan “koh” dan “tulih” yang tentu saja juga selalu saya gunakan.

Kebingungan orang-orang mendengar “koh”, “tulih”, bahkan “mbok” yang pernah saya bahas secara singkat dalam ulasan saya soal pengalaman menjadi orang Ngapak di antara orang-orang non-Ngapak, rasanya bisa saya pahami. Pasalnya, saya pernah pula bertanya pada teman saya yang asli Sukabumi:

“Apa sih bedanya kata ‘mah’ dan ‘téh’, dan kenapa kamu pakai kata-kata itu terus?”

Teman saya nggak bisa jawab dengan gamblang, pun saat saya bertanya apa arti kata “da” dalam bahasa Sunda (misalnya: “Aku da nggak tahu juga kalau soal itu.”). Lagi-lagi, saya juga akhirnya bisa memahami kebingungan teman saya soal ini.

Dalam bahasa daerah—pada kasus ini adalah bahasa Sunda dan Jawa—ternyata memang ada kata-kata yang fungsinya cuma sebagai imbuhan atau penegas, tanpa makna yang jelas, apalagi punya arti sepadan yang mudah ditemukan dalam bahasa Indonesia. Nah, agar hari ini kamu bisa menambah bahan obrolan yang agak berfaedah dengan gebetan kelak, ada baiknya kalau sekarang kamu duduk dan melihat daftar partikel sebagai penegas berikut ini~

Baca juga:  Terjebak Salah Kaprah Bahasa Indonesia, dari ‘Titip Absen’ Hingga ‘Haru Biru’

*JENG JENG JENG*

Pertama, kata “mah” dalam bahasa Sunda.

Kata “mah” dalam percakapan sehari-hari memiliki fungsi umum sebagai “alat bantu” menunjukkan perbandingan informasi. Secara sederhana, ia dipakai untuk memperkenalkan informasi baru ataupun menjadi penghubung perbandingan dengan informasi yang sudah lebih dulu ada.

Sebagai contoh, perhatikan kalimat: “Asep mah kuliah di UGM, lain di UNY.” (Asep kuliah di UGM, bukan di UNY).

Pada kalimat di atas, “mah” dipakai pada dua informasi berbeda, yaitu informasi yang ingin dikonfirmasi (“Asep kuliah di UNY”) dan informasi baru yang ingin disampaikan (“Asep kuliah di UGM”).

Sampai sini bisa dimengerti, ya, Sayang-sayangku?

Kedua, kata “téh”—masih dalam bahasa Sunda.

Sementara itu, kata “téh” memiliki nasib yang kurang-lebih sama dengan kata “mah”: ia populer dipakai dalam bahasa Sunda, tapi tak semua orang paham apa maknanya. Sebuah iklan zaman dulu pernah menggunakan dialog berbunyi “Ini téh susu!” dan menjadi lelucon yang disukai manusia-manusia garing yang berujar, “Lah iya ya, itu maksudnya teh atau susu?”

Partikel “téh” (ditulis dengan huruf “é”) merupakan penegas informasi yang telah diketahui sebelumnya. Pada contoh kalimat di poin atas, kata ini bisa digunakan untuk memastikan informasi yang dimiliki, sebagai berikut: “Asep téh kuliah di UNY?”

Apa? Kamu bertanya kenapa saya pakai nama UNY sebagai contoh? Kamu nggak pernah mendengar soal rasa cinta almamater, ya? Ckckck!

Ketiga, kata “koh” dan “tulih” dalam bahasa Ngapak—yang sesungguhnya masih saya pikirin artinya apa.

Baca juga:  Panduan Belajar Bahasa Sunda yang Tidak Baik dengan Benar

Dalam beberapa kamus bebas bahasa Ngapak-Indonesia, ada yang menafsirkan “koh” sebagai “kok” dalam bahasa Indonesia. Tapi menurut saya, kenyataannya tak selalu demikian. Alih-alih disamakan dengan “kok” (pada kata “koh”), saya lebih suka menggambarkan kata “koh” dan “tulih” sebagai penekanan atau penegas saat sebuah informasi disampaikan, persis seperti kata “mah” dan “téh”.

Pada kalimat, “Jar-jare enak apa nek lagi ngomong koh diguyu baen?!”, mungkin kita memang bisa mengartikannya dengan “Memangnya enak, ya, kalau lagi ngomong kok malah ditertawakan?!”

Pada kalimat tersebut, “koh” adalah “kok”, tapi fungsinya tidaklah mutlak. Maksud saya, saat kata “kok” dihilangkan, inti dan makna kalimat itu tidaklah hilang—berbeda kalau kita menghilangkan kata “ditertawakan”, misalnya.

Kata “tulih” juga sama saja. Ia adalah penegas yang sesungguhnya tidak terlalu memengaruhi makna kalimat. Bayangkan dirimu sedang berkumpul dengan teman-teman, lalu perutmu berbunyi karena lapar dan membuatmu refleks berkata, “Nyong kencot tulih”.

Apa artinya? Kalimat tadi memberi tahu bahwa kamu sedang kelaparan. Titik. Kata “tulih” di sana mungkin mendekati kata “tahu” (“Aku lapar, tahu.”) dalam bahasa Indonesia yang berfungsi untuk menyampaikan informasi, tapi—sekali lagi—menurut saya ia hanya sebatas penegas, bukan kata yang bakal memengaruhi makna keseluruhan.

Kata-kata penegas ini jumlahnya bukan hanya empat—masih ada banyak lainnya, termasuk mbok, da, og, téa, dan lain sebagainya, bahkan yang mungkin berasal dari bahasa lain selain bahasa Jawa dan bahasa Sunda.

Mau bertukar informasi? Silakan lanjut di kolom komentar, ya!



Tirto.ID
Loading...

No more articles