MOJOK.CO Catatan: ditulis oleh orang yang nggak sayang-sayang banget sama Linguistik.

Di kelas bahasa Inggris, pernah nggak kamu bertanya-tanya kenapa pertanyaan di sesi listening-nya TOEFL kebanyakan “What does the woman imply?”? Maksud saya, kalau the woman ini memiliki tujuan atau motif tertentu dalam kalimatnya, kenapa dia harus repot-repot membuatnya implisit dan malah memusingkan kepala kita—para peserta TOEFL? Kenapa???

Pernah juga nggak kamu bertanya-tanya, kenapa kalau ada dua ekor tikus, kita harus menyebutnya dengan two mice dalam bahasa Inggris, alih-alih two mouses? Kenapa juga cara baca kata tree dan three berbeda, meski hurufnya cuma beda satu? Kenapa???

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini adalah pertanyaan yang mendorong minat belajar orang-orang lembah hitam Linguistik.

Mengenal Linguistik

Jadi, Linguistik itu apa, sih sebenarnya?

Secara sederhana, ilmu yang satu ini adalah ilmu yang berfokus pada bahasa dan penggunaannya sebagai alat komunikasi. Linguistik akan membawamu mempelajari struktur bahasa dan segala aspek yang melingkupinya, termasuk psikologi dan sosiologi.

Dikutip dari laman The University of Arizona, setidaknya ada beberapa cabang ilmu Linguistik, sebagai berikut:

1. Phonetics/Fonetik

2. Phonology/Fonologi

3. Morphology/Morfologi

4. Syntax/Sintaksis

5. Semantics/Semantik

6. Pragmatics/Pragmatik

Keenamnya akan kamu pelajari di semester awal (setidaknya sampai semester 4 atau 5), dengan catatan: Fonetik dan Fonologi umumnya bakal dijadikan satu.

Lantas, apa saja yang dibahas dalam keenam cabang ilmu Linguistik ini?

Pertama, Fonetik dan Fonologi.

Ilmu ini bakal membuatmu akrab dengan kamus—saya jamin. Ia mempelajari bunyi yang muncul dalam pengucapan bahasa, termasuk bagaimana memproduksi suara tertentu dan membedakannya dengan suara lain. Kamu bakal memahami jenis huruf vokal, konsonan, bahkan diftong dalam bahasa yang kamu pelajari, lengkap dengan bagaimana pengucapan dan penggunaannya.

Baca juga:  Anak FB, Twitter, IG, dan LINE: Mana yang Paling Sok Inggris?

Sebagai contoh, dalam bahasa Inggris, huruf konsonan “B” dan “P” memiliki karakter yang berbeda. “B” dianggap sebagai voiced consonant, sedangkan “P” adalah unvoiced consonant. Bagaimana cara membedakannya?

Ucapkan “B” (/bi/) sambil letakkan tanganmu di tenggorokan—terasa ada vibrasi, kan? Hal ini nggak bakal kamu temui saat kamu mengucapkan “P” (/pi:/).

Dalam beberapa bahasa lain, bunyi “B” dan “P” tidaklah berbeda. Maka, mempelajari Fonologi ini menjadi penting jika ingin memahami bahasa Inggris lebih lanjut. Kira-kira begitu, ya, Sis~

Kedua, Morfologi.

Cabang ilmu Linguistik yang satu ini mempelajari morfem, yaitu bagian terkecil dari bahasa yang memiliki arti. Dengan kata lain, ilmu yang satu ini adalah ilmu paling kepo, yaitu meneliti hingga potongan-potongan paling detail dalam bahasa.

Dalam bahasa Inggris, misalnya, Morfologi akan menyebutkan bahwa kata unvoiced terbagi dari tiga bagian: un (yang menunjukkan negasi dari sebuah aksi); voice (menunjukkan hasil dari sebuah tindakan berupa suara); dan –d (menunjukkan aksi berupa sifat pasif dalam kata adjective).

Ketiga, Sintaksis.

Satu-satunya yang saya ingat dari mata kuliah ini adalah buku paketnya berwarna hijau lumut. Meski kata “lumut” sering diplesetin jadi “lucu dan imut”, Syntax atau Sintaksis ternyata nggak lucu-lucu amat.

Ilmu ini mempelajari pola bahasa, termasuk bagaimana noun phrase terbentuk, begitu pula dengan clauses dan sentences. Toh, aturan-aturan ini memang nggak selalu sama di masing-masing bahasa. Sebagai contoh, dalam bahasa Inggris, kita menyebut beautiful girl (merupakan noun phrase yang berasal dari gabungan adjective + noun), sementara dalam bahasa Indonesia kita menyebutnya gadis cantik, dengan aturan yang terbalik: noun + adjective.

Keempat, Semantik dan Pragmatik. Bagian ini saya jadikan satu karena mereka saling sayang topik yang dibahas memang sama: makna dalam bahasa.

Baca juga:  Dokter “Sir. Yes, Sir”

Semantics atau Semantik dalam ilmu Linguistik berfokus pada relasi antarkata, frasa, termasuk bagaimana makna dari kata-kata tersebut. Pada ilmu ini pula, kita mengetahui bahwa sebuah kata bisa menmberi banyak makna, atau secara sederhana disebut polisemi.

Pragmatics atau Pragmatik sama-sama mempelajari soal makna, kecuali ia lebih… pragmatis.

Kalau kamu masih ingat pertanyaan awal di tulisan ini—yaitu pertanyaan dalam sesi listening TOEFL—kamu bisa menjadikannya sebagai contoh bahasan makna dalam ilmu Pragmatik. Ada intended meaning yang terselip di antara pertanyaan seseorang ke orang lain, misalnya pertanyaan “Do you want some coffee?” yang kita ucapkan pada teman yang terlihat mengantuk saat sedang berusaha keras lembur ngerjain revisian skripsi.

Linguistik yang Lebih “Linguistik”

Enam cabang ilmu Linguistik di atas belum semuanya. Kalau kamu mempelajari ilmu bahasa, nantinya kamu juga akan bertemu cabang Linguistik lainnya, seperti Sociolinguistics/Sosiolinguistik, Psycholinguistics/Psikolinguistik, Discourse Analysis/Analisis Wacana, atau bahkan Ilmu Linguistik Terapan, misalnya Teaching English as a Foreign Language.

Saya nggak akan bilang mempelajari Linguistik itu mudah dan menyenangkan, lah wong nyatanya saya aja pernah ngulang kuliah Semantics satu semester. Tapi, yah, seperti menjalani hidup, belajar Linguistik itu tetap worth it, kok.

Setidaknya, saya bisa bikin tulisan ini, misalnya.

BACA JUGA Panduan Mengumpat dalam Bahasa Inggris Biar Bisanya Nggak F*ck Doang atau artikel Aprilia Kumala Lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles