[MOJOK.CO] “Kecanduan koleksi lipstik itu berat, kecuali dibeliin. Hehe.”

Tahun lalu, temen saya kegirangan mendadak di sela-sela bekerja. Sebuah paket datang ke kantor dan ia peluk sepenuh hati. Waktu dibuka, ternyata isinya satu set Kylie Lip Kit yang waktu itu memang sedang booming.

Ngga cuma itu, dia juga mendapat satu set lipstik merek lain, yang 1 kotaknya berisi 12 shade.

Karena terlalu banyak, ia pun memutuskan untuk menjual lipstik-lipstik tadi ke temen-temen kantor, termasuk saya. Bagaimanapun, dia sudah cukup bahagia dengan Kylie Lip Kit dan seabrek lipstik lainnya yang ia punya di dalam tas.

Sontak, cewek-cewek di kantor heboh dan langsung excited memilih lipstik. Pekerjaan di kantor yang memuakkan pun langsung terasa ringan. Mood meningkat pesat, kebahagiaan menjalar~

Padahal sebelumnya, suasana kantor muram. Lesu. Gelap. Hareudang bayeungyang, pula.

Kejadian ini menjadi bukti nyata betapa fenomena yang pernah diungkap oleh Leonard Lauder, seorang petinggi kosmetik Estee Lauder, adalah benar.

Dalam sebuah kesempatan, Lauder menyebutkan bahwa penjualan lipstik yang diproduksi perusahaannya mengalami peningkatan justru ketika Amerika Serikat sedang mengalami kelesuan industri. Melalui beberapa survei dan penelitian, didapatilah fakta bahwa iklan yang mereka keluarkan bukan alasan utama kenapa hal ini bisa terjadi.

Jawaban dari keadaan yang anomali ini hanya satu: keadaan psikologis para konsumen, yaitu para wanita.

Ternyata, saat dilanda tekanan, wanita membutuhkan suatu hal yang bisa membuatnya merasa jauh lebih baik. Dalam hal ini, lipstik bisa menjadi solusi!

Dan, Indonesia mengalaminya, my lov. Jangankan Indonesia secara keseluruhan, temen sekelas kuliahmu juga paling-paling ada yang abis masuk kuliah nanti mampirnya ke toko kosmetik. Ha yakin aku~

Tapi, selain kondisi psikologis, kenapa sih harus beli lipstik? Atau, kalau kata orang, “Bibirmu tu cuma satu, kok lipstiknya banyak?”

Hmmm, jadi begini.

Baca juga:  Fitur Samsung Galaxy S9 dan S9 Plus Ini Hilang di Indonesia, Beauty Vlogger pun Lega

Kecanduan beli lipstik ini, pada dasarnya, muncul karena kami (wanita) ingin bersikap bijaksana.

Sikap bijaksana adalah cermat dan hati-hati, tanpa penyesalan. Dengan kata lain, kami tidak ingin menyesal~

Sikap ini diuji lewat adanya banyak shade berbagai macam lipstik yang sering bikin galau. Kami paham, kok, bahwa beberapa shade lipstik seperti tidak ada bedanya, misalnya Easy Brownie-nya Wardah Intense Matte Lipstick dan Purbasari Color Matte Lipstick nomor 81. Namun, sesungguhnya, shade-shade ini tetaplah berbeda, my lov.

Ingat, BERBEDA. B-E-R-B-E-D-A.

Sungguh, ketimbang menyesal, membeli (dan memakai) lipstik itu jauh lebih menenangkan.

Alasan berikutnya kenapa belanja lipstik itu memikat adalah karena kami “diracuni” beauty vlogger.

Setahun-dua tahun belakangan, shade lipstik mengalami perkembangan yang menarik. Munculnya pilihan shade yang beragam dan banyaknya lipstik lokal seolah berbanding lurus dengan adanya beauty vlogger yang hobinya bikin review di YouTube.

Bayangin jha, masa iya kami harus melewatkan sensasi pakai shade Emblaze-nya Tarte LipSurgence Matte Lip Tint yang direkomendasikan Rachel Goddard? Atau, Cosmopolitan-nya Make Over Intense Matte Lip Cream yang dibilang cakep sama Linda Kayhz buat retro look?

Umm, no thanks~

Banyak orang mengira membeli lipstik terlalu sering itu nirfaedah dan menganggap kami hanya membuang uang.

Tapi tahukah, my lov, ini lebih dari sekadar hobi. Malah, sebenarnya, kami ini terjebak 🙁

Baca juga:  Fitur Samsung Galaxy S9 dan S9 Plus Ini Hilang di Indonesia, Beauty Vlogger pun Lega

[HA!!!!!!!!!!!!!!]

Kalau dihitung-hitung, mungkin kami sudah melafazkan kalimat, “Aku ngga akan beli lipstik lagi,” selama 50 kali dalam sehari. Nyatanya, waktu mata kami bertemu lipstik baru, hati ini ngga kuat. Ngga kuasa menolak. Ngga ingin meninggalkannya dalam etalase toko yang dingin dan sepi.

Yha, beli, deh.

“Lalu, setelah beli lipstik lagi dan lagi, lipstiknya numpuk dong?”

Yha.

Selepas membeli lipstik, beberapa orang mengira bahwa masalah selesai, bahwa kami akan memakai lipstik-lipstik ini bergiliran begitu saja setiap harinya.

Oh, tentu tidak!

Benar, deh, menjadi wanita itu harus cerdas. Setelah banyak shade sudah kami kumpulkan selayaknya pengepul lipstik, setiap pagi kami harus….

…memilih shade!!!

Shade yang ini cocok ngga sama baju? Atau, masuk ngga sama kerudung? Eh, tapi kok lipstik yang ini kayaknya kurang pas sama tone kulit mukaku???

Dan masih banyak drama-drama lainnya dalam hati kami.

Saking candunya koleksi lipstik, beberapa dari kami mungkin sempet kepikiran untuk punya 7 buah lipstik biar bisa gonta-ganti setiap hari.

Ngga usah ketawa, ini beneran. Malah, saya sedang memberi tips buat kamu, cowok-cowok jomblo, secara tidak langsung.

Kalau memang cewek incaranmu adalah maniak lipstik, rencanakanlah untuk memberi buket lipstik yang berisi 31 lipstik sekaligus, biar dia bisa ganti shade berbeda dalam sebulan.

Tapi, konsekuensinya, kamu bisa-bisa ngga makan 3 bulan.

Hehe~

Komentar
Add Friend
No more articles