Tanya

Halo, Bang Agus. Halo, Cik Prim yang pernah saya dengarkan dalam suatu acara meskipun pasti Cik Prim tidak tahu bahwa kita pernah bernapas di ruangan yang sama. Teman-teman sering memanggil saya dengan Joy. Ah, sejujurnya saya malu harus curhat begini, tetapi saya membutuhkan pendapat lain selain dari teman-teman perempuan saya.

Saya ini sebenarnya cukup supel di dunia nyata, saya suka berteman dengan siapa saja. Tetapi, begitu di jejaring sosial maupun chat room, semuanya berubah. Saya agak cuek, itu sifat asli saya.

Kuliah dan organisasi sebenarnya sedikit menyembuhkan kecuekan saya di chat room. Semenjak kuliah, saya mulai membalas semua chat teman-teman saya, terutama yang penting. Yang belum bisa saya ubah adalah kebiasaan slow response dan membalas singkat. Tapi, itulah sifat asli saya. Tidak bisa berakrab-akrab lewat alat komunikasi, dengan teman dekat sekalipun.

Suatu hari, saya bergabung di organisasi yang ketuanya tinggal di belahan dunia lain. Jarak membuat organisasi kami bekerja di media sosial, termasuk rapat online.

Lewat teman pengurus lain yang pernah bertemu dengannya, si ketua ini tahu bahwa saya habis terkena musibah. Oh ya, saya perempuan dan ketua saya laki-laki.

Awal bekerja sama dengannya, semua normal. Sering dia nge-chat saya membahas masalah program kerja organisasi atau sekadar menanyakan keadaan organisasi di kota saya. Saya selalu membalasnya, wong ini tugas negara. Kami kemudian saling follow Instagram. Sejak itu, si ketua kadang membalas Insta Story saya jika isinya tentang kegiatan organisasi. Tebakan saya, ia memberi perhatian agar saya tidak pergi dari organisasi setelah musibah itu.

Belakangan perhatiannya mulai menggangu. Hampir setiap hari ia membalas Insta Story saya dan bertanya macam-macam. Di waktu yang sama ia juga memberondong dengan banyak pertanyaan di room chat.

Misal, ketika saya post itu potongan-potongan kalimat buku yang saya baca, ia bertanya ini dan itu. Mungkin ingin menggali seberapa dalam pengatahuan saya. Pertanyaannya kadang butuh penjelasan panjang, dan sering saya dapati dia tidak menangkap maksud saya sama sekali.

Saya sih tidak berinisiatif menjelaskan ulang karena, jujur, saya balas semua chat-nya hanya untuk menghormati. Tapi, saya jadi lelah bersikap formal seperti itu.

Akhirnya, semua pun terbongkar. Ia menyukai saya. Saya agak heran karena bertemu dan mengobrol santai saja kami tidak pernah. Kepadanya saya bilang, saya tidak melarang ia menyukai saya, tetepi saya tidak bisa membalasnya. Saya sedang tertekan dengan masalah hidup dan tidak memikirkan asmara.

Baca juga:  5 Cara Ngecek Apakah Cowok Beneran Marah atau Cuma Cuek

Setelah kejadian itu, sifat asli saya keluar. Saya sering slow response atau bahkan tidak membalas chat dan balasan Insta Storynya. Di sinilah masalah muncul: dia tidak terima.

Saya pun menjawab sesopan mungkin kalau sebenarnya saya orangnya seperti ini. Bahkan, saya sampai mengirimnya screenshot bagaimana saya membalas chat teman-teman dekat saya. Nyatanya, penjelasan saya cuma sesaat meredam masalah. Dia kembali meminta penjelasan apakah saya membencinya. Saya jelaskan lagi, dia bertanya lagi, begitu seterusnya.

Waktu saya blokir Instagram-nya, saya pikir masalah selesai. Ealah, dia malah ganti terus-terusan minta maaf lewat SMS dan email.

Kalau dia berharap kami bisa menjalin hubungan dengan cara itu, mungkin dia tidak mebgerti bahwa saya tidak suka dipaksa. Tapi, di sisi lain saya sudah mencoba menjelaskan sebisa saya, yang hasilnya dia tetap nggak ngerti. Harus diapakan orang ini, Bang Agus, Cik Prim?

~ Joy di S.

Jawab

Pertama-tama, Joy, saya mohon maaf karena saya lagi-lagi tergoda untuk menjawab curhatan yang masuk ke Mojok. Ya, saya bukan Cik Prima ataupun Bang Agus. Saya ini perempuan, yang mungkin saja jalan pikirannya hampir mirip sama temen-temen perempuan kamu, padahal kamu curhat supaya dapet jawaban berbeda dari temen-temen perempuanmu tadi. Hehe. Sabar, ya. Hidup emang ngagetin. Tapi, yah, semoga saja saya bisa membantu kamu.

Nah, sekarang, mari kita masuk ke pokok permasalahan….

Wahai Joy yang baik, tentu saja setelah kita mendapat tanda-tanda penolakan dari gebetan, yang lalu diikuti dengan menjauhnya sikap si dia, pastilah kita bertanya-tanya dan jadi khawatir. Hal inilah yang dialami oleh si Ketua. Bisa jadi, dia menyimpulkan bahwa “menjauhnya” kamu berhubungan dengan pernyataanmu yang mengungkapkan bahwa kamu sedang tidak ingin fokus pada sebuah hubungan. Padahal, menurutmu, kamu bersikap menjauh karena kamu sedang menjadi diri sendiri yang memang slow response.

Joy, sebagai seseorang yang berusaha bijak, mula-mula saya sarankan bahwa tidak ada salahnya kalau kamu mengintrospeksi dirimu sendiri. Apakah caramu berinteraksi dengan si Ketua ini memang berubah drastis? Jika ya, ya wajar saja si Ketua merasa kamu “kenapa-kenapa”. Akan lain ceritanya jika sejak awal kamu sudah slow response, terlebih kalau obrolan kalian tidak berkaitan dengan organisasi.

Baca juga:  Suara Cewek Simpanan: Kami Ada dan Tak Berlipat Harta

Well, sekarang ini, siapa sih yang suka lawan bicaranya slow response? Kalau kamu punya online shop, kamu pasti ketemu banyak orang yang tipenya kayak si Ketua ini. Maunya fast response terus.

Huft.

Oh iya, soal Insta Story, kalau kamu keberatan dia me-reply terus-menerus sementara kamu malas membalas, ya di-hide saja to, Nduk. Masuklah ke setting supaya dia tidak bisa melihat Story-mu. Malah bagus, to?

Di luar masalah slow response, bagi saya, setidaknya, ada dua alasan mengapa hal yang kamu ceritakan di atas menjadi masalah: 1) dia terlalu agresif; dan 2) kamu belum ada ketertarikan sama sekali dengannya. Karena hal ini, mau dia chat kamu, SMS kamu, atau email kamu pun kamu ya bakal biasa aja. Dan, karena hal ini pulalah, mau kamu jelasin kayak apa juga ya dia tetep pengen nanya-nanyain kamu kenapa dan minta maaf.

Akhirnya, sebagai cewek, saya rasa kamu jujur aja lah. Kalau memang kamu belum suka sama dia, ya bilang aja. Jangan hanya pakai alasan kalau kamu slow response. Jujurlah dan balas pesannya dengan bilang bahwa kamu hanya ingin berteman saja dengannya, tidak lebih. Ingatkan juga bahwa ke depannya mungkin kamu bisa sangat cuek padanya dan dia tidak berhak marah-marah.

Untuk mendukung saran saya, saya barusan berpikir keras dan bertanya pada beberapa teman (cewek juga, hahaha). Berikut adalah beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk menolak cowok dengan sopan bagi cewek yang nggak tegaan:

  • katakan kalau kamu sudah anggap dia sebagai ketuamu sendiri (ya emang ketua sih),
  • katakan kalau kamu benar-benar lagi ingin sendiri.

Menurut hemat saya, kalau cara ini tidak berhasil, kamu bisa pakai jurus terakhir kita, para cewek. Bilang saja padanya, “Aku nggak bisa. Kamu terlalu baik buat aku.”

Kalau dia masih nggak ngerti juga, delete account aja. Bikin akun Instagram baru. Jangan lupa setting Insta Story lagi, buat jaga-jaga.

Kamu nga perlu membalas balasan ini, Joy. Saya paham kalau kamu slow response.

Salam kenal dan salam sayang,

~ Aprilia Kumala yang belum di-response si dia 🙁

Komentar
Add Friend
No more articles