MOJOK.COVideo TikTok sindrom harusnya bikin ketawa daripada bikin kamu ngatain bahwa itu contoh berita hoax. Aduh, ayo literasinya diperkaya lagi.

Seorang kawan saya bikin Insta Story yang isinya video TikTok sindrom, saya sebenarnya langsung ketawa ngakak. Tapi entah kenapa teks yang dibikin teman saya itu bikin bingung. Dia bilang, “Tolong kasih tahu gue ini beneran nggak sih?” ditambah emoji ketawa jungkir balik. Lah masak sih, kawan saya ini nggak tahu kalau pernyataan di vdeo TikTok sindrom itu satir doang?

Satir ya, Mylov, sarkas mah beda lagi.

Setelah saya DM dan saya tanya baik-baik apakah dia sekarang nggak bisa bedain mana parodi dan mana yang serius. Ternyata dia memang cuma mau ngetes orang-orang. Kurangajar betul. Dia mau lihat berapa kawan dia yang tertipu, dan berapa kawan dia yang ketawa. Sayangnya, memang banyak yang tertipu.

Video parodi TikTok sindrom ini lucunya bukan cuma di pengadeganan dan jogetannya, melainkan dari kesalahpahaman orang-orang yang mengira informasi ini contoh berita hoax. Wow, masnya ngelawak malah dituduh nyebarin kebohongan. Ya tapi memang bener sih dia lagi bohong. Tapi kan…

Saya luruskan dulu ya, Hyung. Video TikTok sindrom adalah jelas-jelas cuma lawakan dan bukan contoh berita hoax. Pembuatnya adalah Mas Kesar, coba silaturahmi ke Instagramnya @kesarnst. Niscaya kamu akan menemukan video parodi lainnya.

Kalau ada orang yang bilang sindrom begini memang ada, mungkin mereka lagi ngomongin tourette syndrome, sindrom yang penderitanya sering melakukan gerakan repetisi dan suara-suara yang tidak diinginkan. Gerakan tersebut dilakukan di luar kontrol otak, mirip refleks yang agak aneh. Tapi sekali lagi, gerakan repitisi penderita tourette itu bukan jogetan TikTok ya. Kocak lah wey.

Kalau masih aja ada yang bilang video TikTok sindrom itu adalah contoh berita hoax, maaf bukan, lebih tepatnya video itu parodi yang dibuat dengan tujuan bikin yang nonton ketawa sekalian nyindir kebiasaanmu main TikTok yang makin nggak karuan itu.

Baca juga:  Ketika Aa Gym Berhenti Memakai LINE

Masalahnya berkat kutipan dan narasi yang diberikan sama orang-orang, video ini makin dihakimi sebagai kebohongan.

 

View this post on Instagram

 

Sebuah video tentang remaja yang mengaku menderita Tiktok syndrome viral di media sosial. Setelah sempat tenggelam, aplikasi Tiktok kembali populer. Peminat aplikasi video singkat ini pun saat ini mencakup lintas generasi hingga jabatan. . Tapi siapa sangka di tengah antusiasme masyarakat menggunakan aplikasi Tiktok, muncul sebuah video viral yang bertajuk syndrome tiktok yang kali pertama diunggah oleh pemilik akun Instagram @kesarnst. . Dalam video tersebut terlihat seorang remaja yang mengaku bahwa ia divonis mengalami Tiktok Syndrome, di mana tubuhnya secara spontan mengikuti gerakan tarian seperti yang kerap dilihat di aplikasi Tiktok. . “Nama saya kaesar usia 18 tahun saya menderita Tiktok Syndrome. Awalnya saya bermain tiktok itu cuma untuk senang-senang doang, tapi lama kelamaan saya merasa ada yang aneh, saya seperti tidak bisa mengontrol tubuh saya dan ternyata setelah saya cek saya terkena Tiktok syndrome,” ucapnya di awal video. . Terlepas dari kebenaran penyakit tersebut, nyatanya video mengenai pengakuan seorang remaja yang menderita Tiktok Syndrome tersebut mendapat beragam perhatian dari netizen. . Artikel: suara.com #kediri #medsoskediri #kedirikekinian #kedirikusukasuka #explorekediri #kedirilagi #kedirikusukasuka #infokediri #infokediriraya #lfl #fff #sfs #tiktokindonesia #tiktokhits #tiktok #malang #nganjuk #madiun #blitar #mojokerto #surabaya #viralindonesia #viral

A post shared by KEDIRI (@medsoskediri) on

Pantesan aja netizen yang nggak punya literasi dan nggak paham konteks langsung mencak-mencak lihat video ini, karena merasa tersindir. Sebagian lainnya justru mention kawan-kawan mereka yang kebanyakan main TikTok. Kerja bagus Mas Kesar. Karena saya yakin, semakin meyakinkan sebuah parodi dan satir, maka semakin berhasil karena relate banget.

Lain kali, kalau kamu menemukan sebuah video, informasi, foto, dst. dst. yang disinyalir sebagai contoh berita hoax maka ikuti aturan berikut biar bisa membedakan antara parodi atau seriusan.

Baca juga:  Membaca Karakter Berpikir Masyarakat soal Razia Kendaraan Bermotor

Pertama, lihat siapa yang bikin kontennya. Kalau yang bikin berita aneh-aneh itu Mojok.co, ya sabar aja Mylov. Memang banyak ranjau satir yang bisa bikin kamu emosi. Maka nggak perlu lah gembar-gembor kalau konten yang baru saja kamu baca itu contoh berita hoax. Lemesin dulu, lemesin…

Nah, kalau dari kasus video TikTok sindrom ini, pembuatnya kan emang suka bikin video parodi. Jadi sudah jelas.

Kedua, lihat konteksnya. Kadang ada orang yang upload meme dengan konteks tertentu yang sulit dipahami. Kamu akan ketawa kalau memang ngerti betul konteks guyonannya. Pembuatnya pun tahu. Maka jangan memaksakan diri untuk mengetahui hal-hal yang aslinya kamu nggak mudeng. Santai aja. Melihat video TikTok sindrom, kamu bakal paham ini guyonan kalau ngerti betul soal keranjingan TikTok di kalangan milenial dan gen Z.

Mereka yang paham betul aslinya tourette sindrom itu nggak pakai gerakan joget juga bakal tepok jidat secara refleks sambil terkekeh. Makanya informasinya nggak bisa dijadikan contoh berita hoax.

Ketiga, crosscheck. Please lah, kita dibekali dengan teknologi mesin pencarian yang begitu mudah diakses. Tuan Google siap membantu. Nggak ada 5 menit, kamu bisa dapat informasi yang kamu cari. Nggak perlu ke perpustakaan dulu untuk baca Nietzsche, Freud , dkk. Konfirmasikan suatu informasi yang meragukan dengan informasi lainnya dari berbagai sumber terpercaya. Niscaya…

Bayangin aja kalau video TikTok sindrom Mas Kesar tersebar di grup-grup WhatsApp keluarga, bisa kacau. Ibu siapa lagi nih yang bakal nakut-nakutin anaknya yang lagi main TikTok? Lha wong video ini tersebar di lini masa Twitter aja masih digolongkan sebagai contoh berita hoax bagi sebagian orang. Hm, padahal katanya Twitter dihuni sama kaum open minded.

BACA JUGA Alasan Kenapa Orang-orang Sekarang Kecanduan TikTok, Padahal Bukan Narkoba atau artikel lainnya di POJOKAN.