Rasanya Nyobain Terapi Peninggi Badan dari Brosur Lampu Merah

Setelah menyaksikan brosur yang ditempel di tiang lampu merah itu untuk ke-3487237842 kali, saya memutuskan untuk tidak menahan-nahan lagi rasa penasaran ini. Jasa terapi peninggi badan yang rasanya bisa ditemukan di semua lampu merah se-Indonesia itu tampaknya memang pantas dicoba. Itu satu-satunya pilihan saya sebab saya belum butuh jasa seputar telat haid, lemah syahwat, apalagi memperbesar alat vital.

Dan itulah yang saya lakukan. Sekitar tiga pekan lalu. Saya mencatat nama dan nomor telepon jasa terapi peninggi badan yang saya saksikan di perempatan lampu merah di Kota Jogja. “Solusi cepat meninggikan badan, harga murah hasil maksimal,” brosur itu mengiming-imingi.

Setibanya di rumah, saya mencari nama usaha yang mau saya datangi ini. Ternyata ada Instagram, Facebook, YouTube, dan website-nya. Niat juga. Saya bacai semuanya, termasuk review pelanggan dan informasi tarifnya. Saya jadi lumayan yakin buat mencoba setelah ngerasa review-nya banyak dan positif. Misalnya ada pelanggan yang ikut terapi untuk mendaftar polisi, dan berhasil.

Dari contact person yang saya hubungi, ia bilang saya bisa datang besok.

Jasa yang saya datangi ini berlokasi di Candi Gebang, Kecamatan Ngemplak, Sleman. Di Google Maps sih alamatnya ada. Tapi ketika sampai lokasi, saya tak menemukan tanda-tanda tempat terapinya. Butuh perjalanan panjang nanya warga à ngontak CP orangnya lagi à nanya ibu-ibu di jalan baru saya berhasil nyampe di situ.

Bejo, pemilik usaha tersebut, sedang berkutat dengan komputernya ketika saya tiba. Ia sedang menerapi pelanggan lain. Dengan komputernya, ada alarm yang diatur agar ia tahu terapi sudah selesai.

Sambil menunggu, pandangan saya memindai alat-alat di ruangan itu. Saya tidak pernah melihat alat seperti ini sebelumnya, tapi mereka mirip perlengkapan gym. Saya penasaran.

“Pak, kalau alat buat terapi ini apa ya namanya?”

“Oh, ini namanya Jaco therapy bed. Kalau kamu penasaran, coba aja kamu cari-cari di internet. Dulu saya beli sekitar 5 jutaan.”

Tiba-tiba alarm dari komputer berbunyi mengagetkan saya. Bunyi itu penanda waktu terapi sudah habis. Tak tahu kenapa, tiba-tiba saya merasa takut sampai-sampai bulu kuduk berdiri.

Saya masih menunggu sekitar 20 menit sampai giliran saya tiba. Sebelum sesi dimulai, Bejo mengukur tinggi badan saya dengan meteran. Hasilnya: 168 cm. Setelah itu ia menyuruh saya berbaring di atas alat terapi dan meluruskan badan dari kepala sampai kaki. Ia mulai menjepit pergelangan kaki saya, kemudian mengikat kepala saya dengan tali. Pada bagian dagu, tali itu dilapisi kapas agar tidak melukai kulit. “Waduh,” jerit saya dalam hati, “seperti posisi gantung diri tapi berbaring di alat terapi.”

Semua bagian alat terpasang sudah. Sekarang Bejo memutar alat terapi itu. Ia akan meregang sehingga tubuh bagian atas dan bawah saya masing-masing ditarik ke arah berbeda. Saya yang merasa kesakitan ingin berteriak, namun malu dan hanya bisa menahan hingga Bejo bertanya, “Udah merasakan sakit belum?” sambil terus memutar alat tersebut.

Dengan tabah saya menjawab, “Belum.” Jawaban yang kalau saya ingat-ingat lagi, terasa sangat bodoh.

Badan saya sebenarnya sangat tidak nyaman. Kaki mati rasa. Hanya tinggal jari-jari kaki yang bisa digerakkan. Sampai di sana barulah saya bilang “Sudah” ke Bejo. Kini, saya diminta menunggu selama 2 x 20 menit dalam posisi tersebut. Demi Tuhan, itu waktu yang terasa sangat lama ketika kamu tidak melakukan apa-apa serta harus menahan rasa sakit.

Dalam lima menit pertama, kaki dan dagu saya nyeri luar biasa akibat tarikan dari tali tersebut. Rasa tidak nyaman ini ditambah tenggorokan yang jadi kering betul karena menelan ludah pun tak bisa. Rasanya ingin cepat-cepat selesai saja.

Tatapan mata saya terpaku pada jam yang berputar. Sangat lama. Hingga akhirnya suara alarm berbunyi menandakan 20 menit pertama terapi selesai. Alat Jaco therapy bed yang melekat di badan saya dilepas, saya diperbolehkan beristirahat sebentar sambil meredakan rasa nyeri serta melegakan tenggorokan.

rasanya mencoba terapi peninggi badan jogja pengalaman review 2 mojok.co

Ini foto saya waktu diterapi. Pose yang malesin banget nggak sih. Foto oleh Indah Khusuma Wardani/Mojok.co.

Di sela-sela beristirahat, sambil melemaskan kaki yang kram, saya lihat Bejo membuka Twitter melalui komputernya. Saya mencoba memecah kesunyian.

“Pak, sekali terapi itu biasanya tambah berapa cm ya?”

“Sekali terapi biasanya naik 0,5-1 cm. Dan untuk terapi sebaiknya dua hari sekali agar mendapatkan hasil yang maksimal.”

Idealnya, kata Bejo, pelanggan perlu terapi 7-10 kali agar tinggi badannya bertambah. Jika kurang dari itu, kadang tadinya badan bertambah tinggi, tapi kemudian menyusut lagi. Katanya juga tidak ada jaminan hasilnya bakal permanen, tergantung struktur tulang masing-masing pelanggan juga. Kan ada yang tegak, ada yang bungkuk.

Disclaimer lainnya, konsumen yang sudah pernah terapi di jasa peninggi badan lain bakal susah pindah terapi ke tempatnya. “Kalau sudah pernah terapi di tempat lain, terus terapi lagi di tempat saya, bakal susah naik atau hasilnya kurang maksimal.” Lalu, pelanggan yang diperbolehkan terapi cuma yang berusia 16-25 tahun. Jika lebih dari itu, ia hanya bisa membantu meluruskan tulang belakang.

Kami terus bercerita dan bercerita. Misalnya, Bejo bilang usahanya sudah punya izin UMKM. Terus ia juga menjual suplemen peninggi badan. Tapi suplemennya lagi kosong karena harganya naik. Ya udah saya nggak jadi beli.

Dari soal suplemen, Bejo lanjut kisahnya bisa jadi penyedia jasa terapi peninggi badan. Tadinya ia hanya menjual suplemen peninggi badan di Bandung. Pada 2015 ia pulang kampung ke Jogja dan membuka usaha ini. Idenya, suplemen bisa lebih banyak terjual jika disertai jasa terapi. Makanya dulu ia mewajibkan konsumen yang terapi untuk beli suplemen juga. “Namun perkembangannya, ternyata omset dari paket terapi dan paket suplemen untuk saat ini lebih banyak ke paket terapinya,” kata Bejo. Bahkan kini posisi penjualannya terbalik. Orang lebih pilih terapi, dan menjadikan suplemen ya sekadar suplemen, tambahan doang.

Soal harga, sekali terapi saya membayar Rp40 ribu. Jika ditambah 2 sachet suplemen kalsium NHCP dan 12 kapsul zat besi, harganya jadi Rp100 ribu. Suplemen itu untuk konsumsi dua hari.

Akibat ada peralatan segala macam, Bejo tak menerima panggilan ke rumah. Dikata tukang pijat kali. Kadang-kadang, katanya, ada pelanggan dari luar kota yang datang. Usahanya buka tiap hari, dari pukul 09.00-17.00, dan dijalankan seperti praktik dokter: kalau mau datang kudu janjian dulu.

Saking asyiknya bercerita, Bejo lupa saya harus menjalani terapi kedua, hahaha. Maka dibaringkan lagilah saya di ranjang yang sama, dengan alat sama, dan efek kesakitan yang sama. Jujur deh, saya masih bisa nahan rasa sakitnya, cuma nggak bisa nelen ludah itu yang bikin geregetan.

Usai terapi, tinggi saya diukur kembali. Kata Bejo sekarang angkanya jadi 169,3. Naik 1,3 cm dari pertama datang tadi. Lumayan drastis, katanya. “Kamu sering bungkuk ya, Mas?” ia bertanya sambil melihat saya. Ia bilang salah satu penyebab tinggi saya bertambah signifikan karena punggung saya yang sering bungkuk kini sudah diluruskan. Buat Bejo sih lumayan, cuma saya nggak silau. Cukup sekali deh saya disiksa alat terapi peninggi badan.

BACA JUGA Usiamu Baru 25 Tahun dan Kamu Mendadak Jadi Kiai Pengasuh Pesantren dan kisah-kisah obskur lainnya di rubrik SUSUL.

Baca juga:  Rekomendasi Mie Ayam di Jogja Versi Info Mie Ayam YK