Curhat.

Selamat Malam, Gus Mul dan Cik Prim, semoga kalian selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa. Aamiin.

Sebelumnya, perkenalkan, nama saya Suki. Saya adalah seorang mahasiswa tingkat akhir jurusan Sastra Jepang.

Jadi begini, Gus, Cik. Saya sedang dirundung kebingungan akan masa depan saya.

Sebagai seorang mahasiswa sastra Jepang, saya ingin sekali mengikuti program Gakkou (sejenis kursus pendalaman bahasa Jepang) di Osaka. Saya sudah mengetahui program ini semenjak saya masuk perkuliahan di salah satu universitas negeri di Bandung.

Saya sangat ingin pergi ke Jepang dan mengenal budaya serta cara berpikir orang Jepang. Saya ingin mencoba tinggal lama di sana, saya ingin ke Hokkaido, saya ingin hidup di sana, saya ingin S2 di sana, saya ingin berinteraksi dengan orang Jepang, saya ingin kelak bisa menjadi dosen mata kuliah bahasa Jepang.

Nah, karena keinginan-keinginan itulah, setiap ada ujian dan tes beasiswa ke Jepang, saya selalu ikut. Hanya saja, rupanya memang belum rejeki saya. Berkali-kali saya mendaftar beasiswa studi ke Jepang, berkali-kali pula saya gagal.

Dengan segala kegagalan itu, maka saya mau tak mau harus menggantungkan harapan saya pada program Gakkou. Kenapa Gakkou? Karena Gakkou adalah program studi ke Jepang yang tidak bisa didapatkan tidak sesulit program beasiswa. Namun sayang, program ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit, itulah sebabnya program ini kebanyakan hanya diikuti oleh mereka mahasiswa yang berduit.

Saya tergiur dengan program ini karena setelah satu tahun belajar di Gakkou, saya nantinya masih bisa meneruskan sekolah di Jepang dan mencari beasiswa S2 sambil bekerja paruh waktu di sana. Inilah cita-cita terbesar saya, walaupun kapasitas otak saya memang tidak se-amazing orang lain.

Awalnya saya takut untuk memberitahu ayah saya, juga paman dan bibi (yang saya anggap paham dengan dunia akademik) perihal program ini. Saya tidak yakin dengan restu mereka, tapi daripada saya menyesal, saya akhirnya cerita tentang program ini. Dan sesuai dugaan, ayah saya, paman, dan bibi, semuanya terlihat tidak cocok dengan program yang saya ceritakan. Maklum saja, biaya untuk bisa ikut program Gakkou memang mahal. Dan itu akan menjadi beban yang sangat berat bagi ayah.

“Uang segini, bisa buat beli rumah atau modal buat nikah kamu nanti, Ki,” ujar Bibi saya.

“Bapak nggak punya uang buat berangkatin kamu ke sana. Cari beasiswa yang full dibayarin lembaga saja kalo mau,” kata Ayah saya.

Saya tentu saja sedih. Sedih dengan keadaan saya.

Sambil menulis ini, air mata saya tidak berhenti menetes. Saya bingung harus bagaimana. Apa saya harus mengubur lagi mimpi saya sekolah di Jepang? atau saya sebaiknya mencari pekerjaan saja setelah lulus nanti?

Memang masih jauh dan buram masa depan itu, tapi saya ingin mendapatkan dukungan dari orang tua saya untuk pergi ke Jepang. Jika memungkinkan bisa S2 di Jepang.

Menurut Gus Mul dan Cik Prim. Apa yang harus saya lakukan?

 

Jawab.

Dear, Suki.

Semua orang, termasuk sampeyan, tentu saja punya pengharapan yang sangat ingin diwujudkan. Dalam kasus curhatan sampeyan kali ini, sampeyan ingin bisa melanjutkan studi di Jepang.

Pengharapan itulah yang dinamakan impian.

Bagi seorang manusia, adalah sangat indah dan sangat bermartabat saat ia berjuang mewujudkan impiannya. Sebab, hidup memanglah soal mewujudkan impian. Seseorang yang tak punya impian maka ia layak disebut mayat, sungguhpun nyawanya masih melekat.

Idealnya, impian memang harus harus diwujudkan, sehingga ia tak melulu menjadi impian, melainkan kenyataan.

Tapi ingat, Suki. Di dunia ini, tidak semua hal berjalan dengan ideal. Impian tak selamanya bisa terwujud. Hal ini sudah kodrat. Sehingga, selain memperjuangkan impian, manusia sebaiknya juga dibekali kemampuan untuk bisa berkompromi dengan impiannya sendiri.

Saya paham, Suki, bahwa sampeyan punya semangat yang tinggi untuk bisa belajar ke Jepang. Tapi ingat, sampai saat ini, tiket pesawat dan biaya hidup di Jepang masih tetap harus dibayar dengan uang, bukan dengan semangat. Sehingga sampeyan harus paham keadaan.

Sampeyan tentu bisa meraba bagaimana kondisi ekonomi keluarga sampeyan. Pada kondisi yang demikian, saya pikir, itulah saat di mana sampeyan harus mulai belajar untuk berkompromi dengan impian sampeyan.

Jika memang kondisi tak memungkinkan, jangan memaksakan keadaan.

Tak mudah bagi orangtua sampeyan untuk membiayai sampeyan sekolah sampai sejauh ini. Itu sudah merupakan perjuangan yang maha dahsyat, maka sudah sepantasnya bagi sampeyan untuk tidak menambah lagi perjuangan mereka. Biarkan mereka istirahat sejenak menikmati waktu.

Sampeyan perlu paham, bahwa ketika bapak sampeyan berkata “Bapak nggak punya uang buat berangkatin kamu ke sana,” itu adalah hal yang paling menyakitkan bagi dirinya. Tak ada yang lebih meremukkan hati orangtua saat ia tahu ia tak mampu berbuat apa-apa untuk mewujudkan mimpi anaknya.

Saya pernah berada dalam situasi seperti ini.

Dulu, ketika saya lulus SMA, saya sangat ingin melanjutkan kuliah. Saya bahkan sudah mendaftar di salah satu Universitas swasta (saya merasa terlalu goblok untuk ikut SNMPTN masuk kampus negeri) di Jogja dan sudah diterima. Namun ketika saya mendapatkan rincian daftar pembayaran, saya langsung sadar bahwa saya belum berjodoh dengan dunia kuliah. Maklum, di tahun yang sama saat itu, adik pertama saya masuk SMA dan adik kedua saya masuk SMP. Saya memutuskan untuk tidak kuliah. Sebab kalau saya tetap ngotot untuk kuliah, bapak saya bisa jadi bakal minum baygon cair.

Nah, Suki. Saran saya pada permasalahan sampeyan ini tentu saja sederhana: jangan memaksakan untuk ke Jepang jika memang keluarga sampeyan tak sanggup untuk membiayai. Tunda impian sampeyan untuk bisa studi di Jepang. Toh belajar bahasa Jepang tak harus benar-benar berada di Jepang. Wong teman saya saja banyak yang fasih bahasa arab tapi babar blas belum pernah ke arab.

Carilah kerja, berkaryalah, dan kumpulkan uang sebanyak mungkin untuk menyicil uang muka impian sampeyan.

Kewajiban orangtua memang membiayai, namun kewajiban anak adalah mengerti, dan sadar diri.

Jadilah anak yang paham keadaan. Jangan egois, jangan merepotkan orang lain demi impian sampeyan sendiri.

Impian akan selalu bernama impian. Tapi ketika ia penuh dengan egoisme pribadi dan bahkan sampai menyakiti orang lain, maka yakinlah, itu bukan impian, melainkan ambisi.

Yah, pada akhirnya, saya paham, nasihat saya tidak akan membantu banyak. Tapi setidaknya, saya berharap, sampeyan bisa sedikit merenung soal apa itu impian.

Jangan sedih, Suki. Semoga sampeyan bisa secepatnya ke Jepang. Dengan uang sendiri, yang sampeyan kumpulkan sendiri, dengan keringat sendiri.

Komentar
Add Friend
No more articles