• 961
    Shares

Apa yang lebih berat dari menjadi seorang capres-cawapres? Yak, tul. Menjadi pendukung capres-cawapres.

Itu mungkin jawaban yang terkesan selow da serampangan, namun pada kenyataannya, jawaban tersebut memang cukup tepat dan sangat berasalan.

Menjadi cebong (pendukung Jokowi-Ma’ruf) dan kampret (pendukung Prabowo-Sandiaga) bukanlah tugas yang mudah. Ia memerlukan banyak hal: mental, keteguhan hati, serta kesiagaan 24 jam. Lebih dari itu, ia juga butuh banyak pengorbanan: rasa malu, kuota internet, akal sehat, sampai hubungan perkawanan.

Secara konsep politis yang, entah disepakati atau tidak, cebong dan kampret seharusnya diartikan sebagai seorang pendukung capres-cawapres. Titik. Itu saja. Tidak lebih.

Sayangnya, hal yang terjadi, utamaya akhir-akhir ini semakin menyalahi konsep pengertian cebong dan kampret secara politis. Mereka bukan lagi menjadi sekadar pendukung, namun juga pembela, pemaklum, bahkan pada titik tertentu, pembenar kesalahan sang capres-cawapres.

Debat capres-cawapres kemarin menjadi salah satu bukti sahih.

Bagi seorang cebong, apa saja yang keluar dari mulut Jokowi pastilah sabda yang benar dan tiada salah. Begitu pula sebaliknya bagi kampret terhadap apa saja yang dikatakan oleh Prabowo.

Ketika Prabowo menyebut Jawa Tengah lebih besar dari Malaysia, para kampret bukannya mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh Prabowo adalah salah (setidaknya secara kebahasaan), mereka justru mencari pembenaran, bahwa yang dimaksud “besar” oleh Prabowo bukanlah luas wilayah, melainkan jumlah penduduk.

Ketika Prabowo mengatakan bahwa cara paling ampuh untuk mengatasi pejabat yang korupsi adalah dengan menaikkan gaji pejabat, para kampret tidak mau mengakui bahwa itu adalah cara yang ngawur (korupsi nyaris nggak ada hubungannya dengan gaji, ia murni perkara mental. Setya Novanto itu kurang gedhe gimana lagi gajinya?), mereka justru mengaminya sebagai sebuah solusi yang brilian.

Pun saat Prabowo seolah mentolelir praktik korupsi dengan dalih “korupsi nggak seberapa”, para kampret bukannya mengakui bahwa idolanya salah, namun justru berusaha untuk memperkecil kesalahan idolanya dengan membandingkannya dengan jumlah koruptor yang ada di partai sebelah.

Hal tersebut tentu terjadi juga pada cebong.

Alih-alih membenarkan bahwa pemerintahan Jokowi memang tidak dan belum bisa memenuhi janji kampanyenya, mereka malah membelanya dengan membandingkan dengan pemerintahan sebelumnya yang juga sama-sama tidak bisa memenuhi (sebagian) janji kampanyenya.

“Semua presiden pasti tidak akan bisa memenuhi janjinya. Jadi kalau Jokowi nggak bisa memenuhi janjinya, ya wajar-wajar saja.” Kata mereka.

Ini seperti membenarkan sesuatu yang salah dengan dalih kesalahan yang lain. Tak jauh beda dengan orang yang merasa boleh parkir sembarangan haya karena pernah melihat orang lain melakukan hal yang sama.

Hal tersebut pula yang terjadi pada beberapa persoalan lain termasuk penyiraman air keras pada Novel Baswedan yang sampai sekarang belum juga bisa ditangani, kasus penuntasan HAM 98, penyelesaian perkara guru honorer, dan sederet persoalan lain.

Mungkin inilah saatnya mengembalikan marwah cebong dan kampret pada tingkatan yang seharusnya. Menjadi murni seorang pendukung capres-cawapres. Bukan lagi menjadi pembela, pemaklum, dan pembenar bagi kesalahan yang dilakukan oleh capres-cawapres.

Cebong dan kampret seharusnya sadar, sahwa salah satu bentuk dukungan terbaik adalah dengan memberikan kritik yang paling tajam.

Cebong dan Kampret yang baik bukanlah ia yang membela Jokowi dan Prabowo paling militan, melainkan ia yang mampu berani mengkritik Jokowi serta Prabowo dengan kritik paling keras dan menyalahkan kesalahan mereka dengan blak-blakan.

Baca juga:  Ngobrol Bareng Kiai Yahya Cholil Staquf Sepulang dari Israel
  • 961
    Shares


Loading...



No more articles