MOJOK.COEkonomi terpuruk, bisnis banyak yang tumbang. Dalam kondisi demikian, sambat bareng-bareng adalah salah satu pilihan alternatif yang layak untuk dicoba.

Beberapa waktu terakhir ini, rumah saya kerap dikunjungi oleh kawan-kawan saya. Mereka mampir untuk sekadar buka bersama, ngobrol-ngobrol ringan, membicarakan bayak hal, utamanya tentu saja curhat tentang kondisi mereka selama masa pendemi corona.

Teras rumah saya memang cukup ideal sebagai tempat nongkrong. Hobi saya belakangan yang suka membikin api unggun di depan rumah semakin menambah atmosfer nongkrong di rumah saya. Dengan api unggun ini, setting halaman rumah saya jadi kayak lingkungan urban khas kota Bronx atau studio ala-ala acara Planet Remaja yang dulu tayang di ANTV itu.

Kehadiran kawan-kawan saya praktis membikin rumah saya yang biasanya sepi kini menjadi lebih ramai dan tampak agak berbudaya.

Saya tentu saja girang, maklum saja, di masa-masa seperti sekarang ini, interaksi sosial memang menjadi sangat terbatas. Bertemu dengan kawan-kawan dan ngobrol tentang banyak hal menjadi sesuatu yang sangat berharga. Angka prevalensi kematian akibat corona di Indonesia boleh dibilang cukup tinggi, karena itulah sangat penting bagi kita untuk berikhtiar memperpanjang umur kita agar tidak cepat mampus. Dan dalam ajaran agama yang saya yakini, salah satu cara terbaik untuk memperpanjang umur adalah dengan memperbanyak silaturahmi.

Bayangkan, hampir setiap hari saya bersilaturahmi dengan kawan-kawan saya, semoga saya dan kawan-kawan saya panjang umur.

Tiap kali nongkrong, tak ada obrolan yang lebih menyenangkan untuk kami bahas selain obrolan tentang manuver-manuver yang kami lakukan untuk tetap bertahan hidup.

Ya mau bagaimana lagi, penghasilan semakin tak menentu. Bisnis banyak yang oleng, atau setidaknya menjadi tak stabil. Sama seperti konsep seleksi alam, dalam kondisi seperti ini, yang paling bisa bertahan bukanlah mereka yang terkuat, namun mereka yang paling bisa beradaptasi. Dan kami mencoba agar tetap lolos dalam “seleksi alam” bernama corona ini.

Baca juga:  Panduan Berdamai dengan The New Mahfud MD

Kawan saya, Rangga, seorang pengusaha perbukuan mulai mempersiapkan diri mengencangkan ikat pinggang. Sebagai petinggi sebuah toko buku online, ia harus mulai mempersiapkan diri menyambut persaingan perdagangan buku yang kelak akan semakin keras dan kolosal sebab banyak toko-toko buku offline penerbit yang tadinya mengandalkan omsetnya dari penjualan langsung di toko buku bakal beralih ke penjualan online.

Persaingan di bisnis ini tentu akan semakin brutal. Sebagai sesama pedagang buku online, tentu saja saya punya kekhawatiran yang sama.

“Sekarang penjualan memang masih aman, tapi lihat dua atau tiga bukan mendatang, lanskap bisnis jual buku online pasti akan berubah drastis,” ujarnya.

Kawan saya yang lain, sebut saja Klaban, juga setali tiga uang.

Bisnis penjualan minyak ketes-ketes yang ia geluti bersama istrinya kini mulai tak stabil. Di awal-awal masa pandemi corona, penjualan minyak ketes-ketes di tempatnya memang meningkat hebat, mungkin sebagai bekal orang-orang yang ingin menambah imunitas tubuh yang mantap, tapi seiring berjalannya waktu, penjualannya semakin seret.

Ini tentu bisa dimaklumi, banyak semakin tak peduli dengan kebutuhan-kebutuhan pendamping seperti minyak ketes-ketes. Orang-orang lebih fokus pada kebutuhan pokok seperti makanan dan akses internet.

Belakangan ia bercerita kalau dirinya sudah mulai berpindah haluan. Ia bersama istrinya mulai mencoba menjual singkong frozen sebagai pendamping dagangan minyak ketes-ketesnya.

“Setidaknya masih satu aliran dengan minyak ketes-ketes, sama-sama dari alam,” ujarnya tanpa lupa untuk tetap menyertakan keunggulan produk yang ia jual.

Kawan saya yang lain, sebut saja Junet, lebih ngenes lagi. Sebagai seorang pengusaha warung kopi, ia mau tak mau harus menutup warung kopinya karena tak mungkin baginya untuk tetap membuka warung kopi ketika semua orang memilih untuk berdiam diri di rumah.

Karyawan yang bekerja di kedai kopi miliknya itu pun mau tak mau harus dirumahkan sementara.

“Ya mau nggak mau,” ujarnya dengan tampang yang kelabu seperti biji kopi yang baru diroasting setengah matang.

Baca juga:  Lebaran dan Ingatan tentang Orang Terkasih yang Sudah Berpulang Mendahului Kita

Kegiatannya saat ini hanyalah berkeliling dari kawan satu ke kawan yang lain untuk menumpahkan keluh kesanya.

“Pokoknya kalau ada teman yang masih bersedia aku datangi, aku datangi, ujarnya.

Ia dan seorang kawannya yang mengelola warung kopi miliknya itu kini mulai mencoba menjual kopi roastingan secara online.

Saya selalu menikmati obrolan-obrolan berbagi keluh-kesah ini. Dalam kondisi sekarang ini, sambat bareng-bareng memang menjadi hal yang agak meringankan beban.

Kita jadi semakin paham bahwa yang kesusahan bukan hanya bisnis kita saja. Kalau usaha kita ambles, kita harus tetap bersyukur, sebab ada banyak bisnis lain yang jauh lebih ambles.

Semua orang kini bermanuver demi bisa bertahan hidup. Direwangi mobat-mabit, ubet ngiwo-nengen.

Kawan saya yang seorang lulusan filsafat kini benar-benar melakukan apa yang dulu sering dijadikan sebagai profesi guyonan banyak mahasiswa filsafat: beternak lele. Kawan saya yang lain yang dulunya bekerja sebagai penjaga keamanan dan punya banyak tato kini mulai banting setir menjadi penjual buah semangka kuning. Yah, setidaknya masih ada relevansinya. Minimal dirinya dan semangka yang ia jual sama-sama punya tato.

Bisnis sulit. Ekonomi melilit. Dan sambat bareng-bareng adalah hal yang sedikit meringankan beban ekonomi yang sedang melilit itu.

Tentu saja sambat berjamaah seperti yang sering saya lakukan bersama kawan-kawan di rumah saya sembari menjaga api unggun tetap menyala itu tak menghasilkan sesuatu apa pun selain kelegaan spiritual dan sedikit perasaan bersyukur. Kendati demikian, ia tetap penting untuk terus diagendakan.

Setidaknya, agenda sambat bareng-bareng ini menyadarkan saya bahwa sejatinya kita punya tiga pegangan penting yang bisa kita gunakan untuk bertahan hidup di tengah kondisi pandemi seperti sekarang ini, tiga pegangan yang diwariskan secara turun-temurun oleh mbah-mbah kita dahulu: “Dipikir karo mlaku”, “Sing penting yakin”, dan “Mbuh piye carane.”

Dan tampaknya memang hanya itu yang kita punya.