MOJOK.CO – Bertahan adalah salah satu pekerjaan paling berat di sepak bola. Oleh sebab itu, yang dilakukan Islandia adalah seni tersendiri. Seni untuk bertahan hidup.

“Dia (Lionel Messi) juga manusia,” ucap Sergio Aguero seusai laga perdana Argentina di Piala Dunia 2018. Selama ini, Messi selalu digambarkan nyaris seperti dewa dengan segala kesempurnaannya. Namun, pada laga itu, sang juru selamat justru kehilangan sifat-sifat ketuhanannya. Tak sekali pun ia mampu mengeluarkan mukjizat yang ditunggu-tunggu pendukung Albiceleste.

Adalah Islandia yang membuat Messi frustrasi. Hingga dua tahun lalu, mereka adalah negara semenjana. Terpisah jauh dari Eropa daratan yang menjadi kiblat perkembangan sepak bola, membuat mereka tak diperhitungkan.

Gaung Islandia baru terdengar di Piala Eropa 2016. Mereka mampu menahan imbang Portugal di laga pertama, membuat Inggris menjadi bahan perundungan, dan mencapai perempat final.

Rekam jejak Islandia sebagai giant killer membuat mereka sangat digemari. Setidaknya sudah dua kali pelatih Islandia, Heimir Hallgrimsson, mengucapkan terima kasih atas dukungan dari negara lain yang disampaikan oleh dua wartawan asal Italia dan Colombia saat sesi konferensi pers.

Satu-satunya alasan bagi pembenci Islandia adalah karena permainan mereka saat melawan Argentina. Mereka memang memainkan sepak bola bertahan yang membosankan bagi sebagian orang. Namun, suka atau tidak, Islandia berhasil membuat Argentina frustrasi.

Jose Mourinho menggunakan satu kata untuk mendeskripsikan permainan mereka: kompak. Tim yang dikaoteni Aaron Gunnarsson ini tak membiarkan ada ruang tersisa untuk pemain lawan di wilayah mereka. Semakin Messi mencoba memasuki kotak penalti, semakin sering pula ia menggaruk-garuk hidungnya karena kebingungan.

Baca juga:  Piala Dunia 2018: Ujung Perdebatan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo

Permainan kompak mereka tumbuh dari kultur yang menjunjung kebersamaan. Tak hanya di dalam lapangan, kehangatan para pemain juga dapat dirasakan oleh fans. Menurut Hallgrimsson, kecilnya jumlah penduduk negara membuat para pemain maupun pelatih bisa lebih mengenal suporter mereka.

Ada satu kebiasaan unik yang diakui oleh Hallgrimsson tak lazim dilakukan oleh negera lain. Pelatih yang merangkap sebagai dokter gigi tersebut kerap menyambangi suporter sebelum pertandingan.

Grant Wahl, dari Sports Illustrated menceritakan bahwa dua jam sebelum pertandingan, Hallgrimsson mengunjungi sebuah pub di Reykjavík. Ia menceritakan segalanya kepada suporter. Mulai dari komposisi pemain utama, formasi yang digunakan, hingga taktik yang akan dimainkan.

Namun di sisi lain, betapa kompaknya mereka di lini belakang juga mengundang kritikan. Suara sumbang datang dari mereka yang mendambakan sepak bola atraktif. Bahkan, salah seorang pundit di Indonesia menginginkan mereka pulang lebih awal karena permainan yang membosankan.

Hallgrimsson punya dalih tersendiri untuk menjawab kritikan ini. Argentina, dengan pemain berkelas yang bermain di liga papan atas, tentu menginginkan situasi satu lawan satu dengan pemain Islandia. Oleh karenanya, pemain Islandia tentu tak akan membiarkan hal itu terjadi.

Sama saja bunuh diri jika meladeni Argentina dengan permainan terbuka. Seperti yang dikatakan Gus Dur dalam surat balasannya kepada Romo Sindhunata, bahwa permainan bertahan hanya salah satu alat untuk mencapai tujuan. Dan tujuan Islandia tentu memperoleh poin.

Baca juga:  Hasil Jerman vs Swedia Skor 2-1, Toni Kroos Jaga Asa Sang Juara Bertahan

Lagipula, pemain mereka, sebagai salah satu bangsa Nordik memang diberkahi fisik tangguh yang mendukung gaya bermain bertahan. Kekuatan mereka diperoleh dari gen bangsa Viking, nenek moyang orang-orang Eropa utara.

Viking memang terkenal sebagai pelaut yang terampil. Namun, ketika mereka sampai daratan, kekuatan fisik menjadi pembeda. Terinspirasi dari nenek moyang mereka, sungguh pantas jika pemain Islandia memanfaatkan keunggulan fisik ketika tampil di Piala Dunia.

Aturan sepak bola melarang kontak fisik dalam konteks kekerasan, maka satu-satunya jalan untuk menyalurkan keunggulan mereka adalah dengan berduel fisik. Hallgrimsson sadar bahwa anak asuhnya tak akan mampu menandingi kemampuan individu lawan, terutama duel satu lawan satu. Oleh sebab itu, duel dengan keunggulan jumlah pemain adalah pilihan bijak.

Lewat cara bermain itu, suka atau tidak, nyatanya salah satu pemain terbaik dunia dibuat mati kutu. Ketika bermain bertahan, Islandia memanfaatkan keunggulan fisik dengan baik seakan mereka memang diciptakan untuk melakukan itu. Semua karena “Anak-anak Islandia selalu sarapan daging sejak mereka kecil,” seloroh Mourinho mengomentari kekuatan fisik pemain Islandia.