Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Teori Konspirasi di Balik Serangan Kubu Prabowo ke Kubu Jokowi

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
9 Desember 2018
A A
Prabowo untuk Jokowi MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ada grand design di balik aksi kolosal kampanye dan kontroversial Pak Prabowo ketika menyerang Pak Jokowi. Sebuah teori konspirasi!

Kontroversial, bombastis, dan bahkan kabar palsu. Tiga hal itu yang semarak mewarnai kampanye-kampanye Prabowo, Sandiaga Uno, dan kubunya sepanjang beberapa bulan terakhir. Terakhir, Prabowo “menyerang” jurnalis dan wartawan yang tidak meliput Reuni 212 tempo hari. Mungkin bukan almamaternya dan nggak dapat undangan, Pak. Kan beberapa sudah ente boikot.

Iklan

Saat itu tanggal 5 Desember 2018, Prabowo berpidato di acara Hari Disabiltas Internasional. Mantan Danjen Kopassus tersebut menuduh media massa berupaya “memanipulasi demokrasi”. Pokok pidatonya adalah soal pemberitaan media terkait jumlah orang yang hadir di Reuni 212.

“Hebatnya media-media dengan nama besar dan kayaknya dirinya objektif, padahal justru mereka memanipulasi demokrasi. Kita bicara yang benar ya benar, yang salah, ya salah, mereka mau katakan yang 11 juta hanya 15 ribu. Bahkan ada yang bilang kalau lebih dari 1.000.”

Bahkan beliau tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan dan memilih mengulang retorika bahwa, “Redaksi kamu bilang enggak ada orang di situ, hanya ada beberapa puluh ribu, itu, kan tidak objektif, enggak boleh dong,” tegas Prabowo.

Menegaskan, lalu mengulang-ulang klaim ya boleh saja. Namun, orang lain kan punya logika juga, Pak Prab.

Jika Prabowo menyebut peserta Reuni 212 mencapai 11 juta orang, Novel Bamukmin sebagai Ketua Media Center Reuni 212 mengungkapkan bahwa jumlah peserta antara tiga sampai empat juga. Sementara itu, Bernard Abdul Jabar, Ketua Reuni Mujahid 212, mengeluarkan angka peserta mencapai delapan juta orang.

Kalau pihak kepolisian? Brigjen Dedi Prasetyo, Karopenmas Divhumas Polri mengungkapkan bahwa peserta reuni 40 ribu. Bagaimana dengan perhitungan menggunakan aplikasi mapdevelopers.com?

Setelah perhitungan dilakukan, ditemukan angka peserta Reuni 212 paling sedikit 193.244 orang dan paling banyak 772.976 orang. Perhitungan jumlah peserta tersebut sudah dilakukan oleh Tirto dan bisa kamu baca di sini. Intinya adalah, jumlah peserta tidak menyentuh 900 ribu orang, apalagi satu juta.

Prabowo boleh bersikeras ada 11 orang yang hadir. Namun, tahukah Bapak kalau jumlah penduduk DKI Jakarta adalah 10 juta orang lebih dikit sesuai perhitungan BPS. Kalau 11 juta orang kumpul di Monas, Jakarta bisa bebas macet, dong. Bahkan, bisa jadi, Pulau Jawa akan miring ke kiri karena berat ada DKI Jakarta. Sungguh…

Jangan heran, klaim bombastis, bahkan kontroversial memang mewarnai kampanye dan serangan Prabowo kepada Jokowi. Jika kita ingat-ingat lagi, Prabowo dan Sandiaga Uno sangat mesra dengan yang namanya kontroversi dan data palsu.

Mulai dari Indonesia akan bubar pada tahun 2030, duit 100 ribu dan 50 ribu nggak bisa buat belanja, infiltrasi tenaga kerja dari Cina, hendak “membonceng” kasus Ratna Sarumpaet untuk menyerang Jokowi, melangkahi makam kiai, hingga soal media massa yang cenderung pro Jokowi.

Kampanye dan serangan Prabowo kepada Jokowi bertujuan menghadirkan rasa takut di tengah publik. Klaim dan pernyataan, yang bahkan adalah sebuah kebohongan, diproduksi tanpa ampun. Konon, Prabowo hendak meniru langkah kemenangan Donald Trump yang berhasil menggaet suara orang kulit putih dan mengurangi partisipasi anak-anak muda kepada pemilu dengan hate speech dan hoaks.

Sejak Prabowo menggunakan kalimat “Make Indonesia Great Again” yang mana adalah sebuah pembebekan dari “Make America Great Again”, berbagai analisis bahwa ini cara oposisi menekan Jokowi langung mengemuka.

Iklan

Tapi maaf-maaf saja, cinta, kampanye Prabowo dan serangannya kepada Jokowi bisa layu sebelum berkembang. Mengapa? Ada berbagai sebab.

Pertama, masyarakat Indonesia sudah kadung paham dengan arah kontroversi yang diproduksi kubu Prabowo karena banyak media kredibel yang melakukan analisis secara komprehensif. Kedua, bakal makin banyak yang jengah dengan kampanye penuh hoaks, apalagi menggunakan kedok agama. Ketiga, generasi muda bukannya antipati dengan pemilu, tetapi swing voters berpeluang berayun ke arah Jokowi. Meski memang, dalam hal ini, banyak yang berpandangan pemilu adalah soal memilih “lesser evil” saja.

Lantas, apa sih intensi Pak Prabowo sebetulnya jika kontroversi, data palsu, dan menyebar ketakutan itu sebetulnya “bunuh diri” saja? Apakah hanya ingin meniru jalan pedang Donald Trump dan Presiden Brasil, Jair Bolsonaro? Tentu saja tidak.

Ada konspirasi besar di balik kontroversi dan kampanye gelap ini. Tidak lain, dan tidak bukan adalah Prabowo sebetulnya ingin memenangkan Jokowi. Ini sangat logis. Masih ingat ketika Prabowo dan Jokowi naik kuda bersama? Tentu masing-masing naik kuda sendiri, enggak boncengan. Di sana, sebuah percakapan singkat, namun penuh makna terjadi:

Prabowo: “Cuss, Jok?”

Jokowi: “Gaassss, Mas!”

Lalu keduanya berkuda berdampingan ke arah matahari yang tenggelam di ufuk barat diiringi lagu “Rosalinda, Rosalinda, Rosalinda, Ay Amor, Ay Amor!!11!!111”

Nah, mengapa sangat logis? Lha, untuk apa menggunakan taktik yang salah, secara terus-menerus, ketika masyarakat sudah tahu bahwa taktik itu tidak bakal bekerja? Seperti Pak Arsene Wenger saja, yang tahu taktinya untuk Arsenal nggak lagi berfungsi tapi masih dipakai.

Apakah Pak Prabs cuma mau main-main saja di Pilpres 2019? Apakah Pak Sandi mau bakar saham terus demi membiayai kampanye “nomor urut 2”? Ya jelas tidak.

Ada grand design di balik aksi kolosal Pak Prabs dan Mas Sandi melakukan “bunuh diri secara berulang-ulang”. Apa lagi kalau nggak pingin Pak Jokowo tembus dua periode? Sebuah teori konspirasi!

Terakhir diperbarui pada 9 Desember 2018 oleh

Tags: jokowiPilpres 2019praboworeuni 212
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru MOJOK.CO
Esai

Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru

29 Juli 2026
Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO
Esai

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO
Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Punya Rumah di Desa Itu Perkara Mudah bagi Pasangan Muda, Yang Susah adalah Membeli Privasi dan Rasa Nyamannya

4 Agustus 2026
Mahasiswa KKN di desa

Suasana KKN Tak Seindah Konten di TikTok: Banyak Drama Sesama Mahasiswa, hingga Tangis Palsu Saat Perpisahan dengan Warga Desa

5 Agustus 2026
buku siswa sekolah.MOJOK.CO

Jangan Jadikan Pergantian Buku Pelajaran sebagai Proyek Politik Tahunan 

10 Agustus 2026
Perjuangan orang haven't ingin jadi mahasiswa baru (maba) tanpa sponsor orang tua melalui beasiswa KIP Kuliah MOJOK.CO

Nasib Orang Haven’t: Ingin Jadi Maba Tanpa Sponsor Orang Tua, Harus Alami Kerja di Warung Mie Ayam 16 Jam Upah 30 Ribu

7 Agustus 2026
Mie Gacoan, desa. MOJOK.CO

Mie Gacoan Oleh-Oleh Wajib Saat Pulang Kampung: Tak Peduli Sudah Dingin dan Keras, Tetap Dinikmati demi Gengsi dan Validasi

5 Agustus 2026
77 persen lulusan sekolah vokasi (sarjana terapan) tembus dunia kerja. Lebih dari dari lulusan S1 MOJOK.CO

Lulusan Sekolah Vokasi (Sarjana Terapan) Lebih Laris di Dunia Kerja dari S1, Industri Butuh yang Berketerampilan

7 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.