MOJOK.COKendrick Lamar berpesan untuk kita semua. Pesannya begini: “Bitch, be humble!” Pesan yang cocok untuk Dino Patti Djalal yang menghakimi Rich Brian.

“Maaf, walaupun ia mungkin berprestasi, saya sbg seorang ayah memandang rapper diaspora Rich Bryan BUKAN panutan / tauladan bagi pemuda Indonesia, mengingat tweetnya yg sering bernada jorok, porno, kasar dan kadang merendahkan wanita.”

Secara utuh saya kopikan twit Pak Dino Patti Djalal buat kamu semua pembaca yang budiman. Nah, sebagai redaktur yang risih dengan kesalahan penulisan, saya mau kasih beberapa catatan buat Pak Dino Patti Djalal yang pinternya nggak ketulungan.

Gimana nggak pinter, dulu aja Pak Dino pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia untuk Amerika Serikat. Dat sick, yo! Keren sekali. Pasti nilai TOEFL beliau nggak jauh-jauh dari 677, sementara nilai IELTS deket-deket 9.

Nah, berikut catatan saya. Pertama, sebelum dan sesudah tanda garis miring itu nggak perlu pakai spasi, Pak. Apalagi ini ditulis di Twitter. Mbok ngirit space gitu. Kedua, kata “tauladan” itu bentuk tidak baku, yang baku sekarang ditulis “teladan”. Ketiga, rapper yang Bapak maksud itu punya nama Rich Brian, bukan Rich Bryan. Tolong ya, Pak. Hargai orang dengan teliti menuliskan namanya.

Mengingat banyaknya kesalahan dalam twit Pak Dino, saya jadi bertanya-tanya, hak apa yang Bapak miliki untuk menghakimi Rich Brian? Bapak pun bukan manusia sempurna. Bapak punya kelebihan, pasti punya kelemahan juga.

Bapak yang baik tidak akan “mengikat” anaknya dengan diksi “jangan” atau “tidak boleh”. Biarkan anak Bapak, misalnya, mengidolakan Rich Brian. Namun, dampingi juga anak Bapak untuk membuat sebuah jaring, untuk menangkap yang baik dan membuang yang jelek.

Lagipula, kalau nggak suka dengan seseorang, bukankah lebih baik kalau simpan di dalam hitam hatimu sendiri? Ngapain diumbar lewat Twitter? Mau cari followers lewat julid dan gibah, Pak?

Apa sih salah Rich Brian sama Bapak? Bapak Dino Patti Djalal bilang Rich Brian bukan panutan buat bagi pemuda Indonesia. Namun, tahun lalu, Bapak malah mengundang Rich Brian sebagai pembicara bersama Ridwan Kamil di acara Supermentor Los Angeles. Bahkan, Bapak meminta tolong dicarikan kontak, lewat Twitter.

Selain terorisme dan diskriminasi, yang perlu dibasmi di dunia ini adalah curiga, kebencian, dan kaum-kaum hipokrit. Mereka yang memandang dari jarak yang terlalu jauh memang yang paling lincah untuk menghakimi. Bukan lagi sebuah kritik, melainkan Bapak menghantamkan palu penghakiman kepada artis Indonesia yang bekerja keras di Amerika Serikat sejak usia 17 tahun.

Bapak pikir jadi rapper di Amerika itu gampang? Bapak Dino kenal dong sama Eminem? Sekarang, Eminem dianggap sebagai salah satu rapper terbaik. Namun, dulu, berkat “kulitnya yang putih”, Eminem dirundung dan dilecehkan. Orang kulit putih kok nge-rap. Nah ini, Rich Brian, sudah kulitnya putih, dari Asia, matanya sipit dianggap kayak Kokoh-Kokoh toko bangunan, nge-rap lagi. Dan alhamdulillah, banyak rapper sana yang justru respect dengan kerja keras Rich Brian.

Baca juga:  Young Lex Babak Belur Cuma Hasil Riasan, Imbau Netizen Jangan Percaya Hoax Pakai Hoax

Yang dari Indonesia, Bapak-Bapak yang katanya harusnya bijak, malah menghakimi seakan-akan dia Bapaknya sendiri. Edward Suhadi, seorang filmmaker, pernah makan siang bareng bapak dan sudaranya Rich Brian. Kesan yang didapat Edward adalah keluarga Brian itu sangat hangat. Meski Brian sudah jadi artis di Amerika, kehangatan dan jarak yang dekat dengan keluarga tetap ada. Sesuatu yang jarang saat ini. Bukankah satu hal itu saja sudah bisa membuat Brian jadi panutan?

Nah, biar Bapak Dino Patti Djalal bisa mengenal Rich Brian lebih dekat, saya bikinkan mixtape jorok dan kasar untuk Bapak. Silakan didengarkan sambil ngopi dan makan gorengan.

Dat $tick

“Dat $tick” bisa jadi adalah single yang bikin nama Rich Brian dikenal dunia. Lagu kasar ini dikemas ke dalam sebuah video yang kocak dan penuh pesan. Salah satunya bisa Bapak Dino perhatikan dari outfit Brian.

Brian pakai celana pendek dan kaos berkerah. Yang menggelitik adalah tas pinggang yang dipakai Brian. Outfit ini bikin dia secara sempurnah terlihat seperti Kokoh-Kokoh toko bangunan.

“Koh, harganya turunin dong.”

“Ooo, ndak isa. Wis pas iku.”

Itu contoh Kokoh toko bangunan di Surabaya yang nggak mau nurunin harga satu sak semen. Begitulah stereotipe yang disematkan ke orang Cina, Pak. Asal sipit, dari keluarga berada, dianggap punya toko bangunan. Padahal, siapa tahu bisnisnya Brian itu warung nasi padang. Tambo ciek?

Dat $tick ini juga kritik sosial, lho, Pak. Brian mengkritik kesenjangan sosial yang terjadi lewat lirik:

People be starving
And people be killing for food with that crack and that spoon
But these rich mothafuckas they stay eatin’ good

Begitulah, Pak. Bapak pernah memikirkan soal kesenjangan yang terjadi. Saya yakin ya pernah. Pernah ikut nyalon di Konvensi Partai Demokrat, pastinya yang dipikirkan adalah kesejahteraan rakyat, bukan jabatan. Yakan, Pak?

Orang-orang juga begitu ringan menghakimi orang lain. Padahal “sang hakim kacangan” itu hidup jauh dari yang ia hakimi. Rich Brian mengkritik lewat:

Never ever see me ever trip ‘bout a lil broad
See me on the TV screamin’, “Bitch, you a damn fraud”
And you don’t wanna fuck with a chigga like me

Pak, kita nggak pernah tahu neraka dan penderitaan orang lain yang di depan kita terlihat sukses. Kalau sudah suudzon begitu apa ya bijak?

History

Ada beberapa bagian dari lirik “History” yang saya suka. Bunyinya begini, Pak Dino Patti Djalal:

I wasn’t trying my best, all the mistakes that I made
I’m learning that it ain’t the right move
Learn from my mistakes, ain’t that what the adults do?

Manusia itu tempatnya kesalahan bersemanyam. Bukan alam, bukan aliran waktu. Yang salah selalu manusia, Pak. Dan, manusia pula yang bisa memperbaiki kesalahan. Manusia dianggap sudah dewasa kalau tahu salah yang ia buat, meminta maaf, dan berusaha memperbaiki. Ruch Brian spot on banget pas bilang “Learn from my mistakes, ain’t that what the adults do?”

Baca juga:  Menghitung Kekayaan Rich Brian, Musisi Hip-Hop Sukses yang Diundang Jokowi ke Istana

Bapak Dino Patti Djalal sudah dewasa ketika pakai medsos?

Yellow, lagu terbaik Rich Brian

Wah ini dalem banget, Pak. Siapa yang bisa menyangka, Rich Brian yang misuh-misuh di “Dat $tick” bisa menulis lagu yang begitu dalam di “Yellow”.

Rich Brian bicara soal diskriminasi, sebuah isu yang sangat sensitif di Amerika. Isu yang bergulir semakin panas di pemerintahan Donald Trump. Bukan hanya warna kulit, ras dan agama jadi bahan diskusi yang panas. Bikin minoritas jadi termarginalkan begitu rupa. Kedewasaan itu ia tulis lewat lirik:

I did it all without no citizenship
To show the whole world you just got to imagine

Bapak Dino sudah tahu kalau Rich Brian sudah berkarya di Amerika sejak usia 17 tahun. Ia orang Asia, tenggara lagi, mata sipit kayak Kokoh toko bangunan, badannya cengkring dan kecil. Komplet sudah jadi bahan untuk didiskriminasikan. Namun, ia tetap bisa sukses, tanpa memandang status “citizenship”. Yang ia butuhkan hanya “imajinasi”.

Imajinasi membebaskan siapa saja. Imajinasi melewati batas-batas ras, suku, warna kulit, agama, kepercayaan, apalagi hanya status warga negara. Imajinasi membebaskan mereka yang tertindas dan Rich Brian menyampaikannya dengan paripurna.

Selain soal diskriminasi, Rich Brian juga menampar banyak anak muda di seluruh dunia. Anak muda, harus punya determinasi. Jangan sampai cita-cita hancur karena himpitan lingkungan sekitar. Jangan mau ditekan oleh keadaan. Ia menulis lewat:

Please don’t call the reverend, I don’t need no help
Bury me a legend, I’ma dig the grave myself
I can’t remember when I last felt alive
Don’t try to save my life
I’m already on my way tonight
The blood is on my hands, it’s either do or die
Don’t even try to save my life
(Save my life)
They gon’ memorize my name when I’m gone
And they gon’ recognize my face when I’m gone
(They don’t love you when you’re wrong)

Pada akhirnya, semuanya bergantung kepada dirimua sendiri. Jangan mengharapkan bantuan, kalau kualitas dirimu tidak diangkat. Siapa yang bisa melakukannya? Ya dirimu sendiri. Bapak Dino Patti Djalal bisa memahaminya? Atau tetap mau jadi “hakim paruh waktu”?

Rich Brian memang menggunakan banyak kata yang “kotor” dan “jorok”. Untuk membangun sebuah suasana di dalam sebuah lagu, emosi dari diksi harus terpancar. Marah ketika marah, sedih ketika sedih. Diksi yang bisa menggambarkan itu semua. Yang paling penting bukan menerimanya secara mentah, tapi memikirkan makna terbaik di sebaliknya.

Pada akhirnya, rendah hati dan mau berpikir itu bekal terbaik manusia. Kendrick Lamar sudah berpesan bahwa kita semua harus: “Sit down, Bitch! Be humble!”



Loading...



No more articles