MOJOK.COKenapa manajemen waktu masih jadi kesulitan banyak orang? Sebetulnya gampang, kok. Izinkan saya berbagi dua tips manajemen waktu ini.

Ada banyak hal yang bisa bikin saya sebal. Jika boleh membuat peringkat, satu hal teratas yang bikin saya sebal adalah tidak tepat waktu. Baik soal janjian untuk ketemu atau tidak menyelesaikan tanggung jawab sesuai tenggat yang sudah disepakati. Manajemen waktu mereka selemah iman saya. Hehehe….

Sekitar 10 tahun yang lalu, saya sendiri tidak punya manajemen waktu yang bisa dikatakan bagus. Dari yang sederhana, misalnya, bangun pagi. Susahnya minta ampun. Apalagi untuk mengerjakan tanggung jawab sesuai tenggat. Beberapa kali bablas dan kena teguran dari yang ngasih pekerjaan.

Kalau sekarang, sih, bisa dibilang sudah lumayan soal manajemen waktu. Paling tidak nggak bikin kesal orang lain yang menghabiskan banyak waktu untuk menunggu. Oleh sebab itu, izinkan saya membagikan dua tips membangun budaya manajemen waktu biar kamu nggak bikin sebal orang lain.

Jadikan manajemen waktu sebagai budaya

Kalau merujuk KBBI, manajemen waktu adalah cara menyeimbangkan waktu untuk beristirahat, bermain, bekerja, bersantai, dan sebagainya secara efektif. Bagi saya yang masih lemah iman ketika berhadapan dengan tenggat, pengertian KBBI ini paling cocok. Seimbang, antara bekerja, mengaso, dan bersenang-senang.

Nah, supaya bisa diaplikasikan, saya menjadikan manajemen waktu sebagai sebuah budaya. Maksudnya, sih, biar nggak sebatas jadi niat, tetapi harus dilakukan. Biar kesannya seperti merawat budaya sendiri.

Pertama, membiasakan diri bikin “kerangka”. Mirip kayak lagi bikin tulisan. Ada pembuka, isi, dan penutup. Bagi waktu 24 jam sehari biar seimbang antara bekerja, istirahat, dan bersenang-senang. Sebagai redaktur Mojok yang harus menulis lebih dari satu artikel setiap hari, saya membagi hari seperti ini:

Baca juga:  Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, Begitu pun Warga NU

Pukul 05.30 sampai 07.00 pagi adalah waktu untuk mencari tema tulisan yang tayang pagi. Pukul 08.30 sampai 09.00 tulisan sudah jadi dan tayang. Pukul 10.00 sampai 11.00 saya sampai kantor dan mencari tema tulisan yang tayang siang. Setelah jam makan siang, tulisan itu sudah jadi. Pukul 15.00 sampai 17.00, menyempatkan membaca untuk mencari tema hari berikutnya.

Manajemen waktu seperti itu membuat saya bisa bangun pagi. Mau tidak mau, perlahan, jadi sebuah kebiasaan. Kalau saya, sih, menyebutnya sebagai budaya. Perlahan-lahan juga, kebiasaan membagi waktu untuk urusan pekerjaan membuat saya jadi lebih tepat waktu. Paling tidak saya nggak menderita merasa nggak enak karena telat datang ketika janjian.

Pembagian waktu di atas sifatnya nggak saklek. Kamu bisa mengubahnya sesuai kebutuhan. Misalnya ketika jumlah pekerjaan bertambah. Kamu bisa menyesuaikan dengan mengurangi waktu membaca. Intinya, pekerjaan hari itu, selesai hari itu juga.

Sama-sama enak

Coba kamu googling dengan kata kunci “cara meningkatkan manajemen waktu”. Kamu akan menemukan sebuah situs yang memuat tulisan 21 cara meningkatkan manajemen waktu. Mulai dari tidur tujuh jam, mengerjakan pekerjaan yang paling mudah terlebih dahulu, jangan terpaku pada daftar tugas, dan lain sebagainya.

Banyak sekali, ada 21 cara. Namun, kalau boleh meringkasnya, 21 cara itu bisa diperas menjadi satu cara saja, yaitu “sama-sama enak”. Kembali lagi, ini kalau saya pribadi, ya.

Baca juga:  Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, Begitu pun Warga NU

Dari semua cara yang dibagikan itu, semuanya fokus ke ke-aku-an, waktu, dan pekerjaan. Padahal, urusan waktu selalu berkaitan dengan manusia. Mulai pekerjaan, tugas kuliah, sampai senang-senang, semuanya berkaitan dengan orang lain. Kalau saya pribadi, pemikiran ini yang jadi patokan utama.

Kita pasti sebal sekali kalau disuruh menunggu. Bilangnya on the way, tapi ternyata lagi mandi sambil nyanyi-nyanyi. Lagu nggak karuan malah kayaknya kampungan. Lagi asyik nyanyi ada yang memanggil. Aku lempeng aja malah suara makin tinggi. Pintu digedor. Kepalaku nongol. Astagfirullah.

Pak RW datang bawa polisi. Aku diseret dari kamar mandi. Tanpa handuk, tanpa baju. Kata mereka nenek sebelah mati. Waktu ngedenger aku lagi nyanyi. Karena suaraku jantung si nenek kumat lagi… ehhh, lho….

Intinya, sih, jangan jadi orang yang suka bikin orang lain menunggu. Ingat, kamu bukan kereta api yang selalu dinantikan di stasiun. Masih mending kereta api karena jam datangnya selalu tepat.

Sama-sama enak saja. Punya rasa rikuh atau nggak enakan itu terkadang perlu. Biar kamu tahu yang namanya budaya malu karena udah bikin orang lain menderita. Ingat, kamu bukan pemerintah. Ehh….

Nah, itu tadi dua tips sederhana soal manajemen waktu dari saya. Biasakan bikin kerangka untuk 24 jam harimu, jadikan budaya biar nggak mentok di niat, dan ingat kalau kamu itu hidup di tengah orang lain. Jangan bikin mereka kecewa. Gampang, kan? Gampang, dong. Masih susah soal-soal Fisika Ardhito Pramono.

BACA JUGA Waktu yang Tepat bagi Orang Indonesia untuk Menangis atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.