Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Manajemen Waktu yang Bisa Dilakukan Semua Orang

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
17 September 2020
A A
Manajemen Waktu yang Bisa Dilakukan Semua Orang MOJOK.CO keajaiban daftar umberto eco

Manajemen Waktu yang Bisa Dilakukan Semua Orang MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kenapa manajemen waktu masih jadi kesulitan banyak orang? Sebetulnya gampang, kok. Izinkan saya berbagi dua tips manajemen waktu ini.

Ada banyak hal yang bisa bikin saya sebal. Jika boleh membuat peringkat, satu hal teratas yang bikin saya sebal adalah tidak tepat waktu. Baik soal janjian untuk ketemu atau tidak menyelesaikan tanggung jawab sesuai tenggat yang sudah disepakati. Manajemen waktu mereka selemah iman saya. Hehehe….

Iklan

Sekitar 10 tahun yang lalu, saya sendiri tidak punya manajemen waktu yang bisa dikatakan bagus. Dari yang sederhana, misalnya, bangun pagi. Susahnya minta ampun. Apalagi untuk mengerjakan tanggung jawab sesuai tenggat. Beberapa kali bablas dan kena teguran dari yang ngasih pekerjaan.

Kalau sekarang, sih, bisa dibilang sudah lumayan soal manajemen waktu. Paling tidak nggak bikin kesal orang lain yang menghabiskan banyak waktu untuk menunggu. Oleh sebab itu, izinkan saya membagikan dua tips membangun budaya manajemen waktu biar kamu nggak bikin sebal orang lain.

Jadikan manajemen waktu sebagai budaya

Kalau merujuk KBBI, manajemen waktu adalah cara menyeimbangkan waktu untuk beristirahat, bermain, bekerja, bersantai, dan sebagainya secara efektif. Bagi saya yang masih lemah iman ketika berhadapan dengan tenggat, pengertian KBBI ini paling cocok. Seimbang, antara bekerja, mengaso, dan bersenang-senang.

Nah, supaya bisa diaplikasikan, saya menjadikan manajemen waktu sebagai sebuah budaya. Maksudnya, sih, biar nggak sebatas jadi niat, tetapi harus dilakukan. Biar kesannya seperti merawat budaya sendiri.

Pertama, membiasakan diri bikin “kerangka”. Mirip kayak lagi bikin tulisan. Ada pembuka, isi, dan penutup. Bagi waktu 24 jam sehari biar seimbang antara bekerja, istirahat, dan bersenang-senang. Sebagai redaktur Mojok yang harus menulis lebih dari satu artikel setiap hari, saya membagi hari seperti ini:

Pukul 05.30 sampai 07.00 pagi adalah waktu untuk mencari tema tulisan yang tayang pagi. Pukul 08.30 sampai 09.00 tulisan sudah jadi dan tayang. Pukul 10.00 sampai 11.00 saya sampai kantor dan mencari tema tulisan yang tayang siang. Setelah jam makan siang, tulisan itu sudah jadi. Pukul 15.00 sampai 17.00, menyempatkan membaca untuk mencari tema hari berikutnya.

Manajemen waktu seperti itu membuat saya bisa bangun pagi. Mau tidak mau, perlahan, jadi sebuah kebiasaan. Kalau saya, sih, menyebutnya sebagai budaya. Perlahan-lahan juga, kebiasaan membagi waktu untuk urusan pekerjaan membuat saya jadi lebih tepat waktu. Paling tidak saya nggak menderita merasa nggak enak karena telat datang ketika janjian.

Pembagian waktu di atas sifatnya nggak saklek. Kamu bisa mengubahnya sesuai kebutuhan. Misalnya ketika jumlah pekerjaan bertambah. Kamu bisa menyesuaikan dengan mengurangi waktu membaca. Intinya, pekerjaan hari itu, selesai hari itu juga.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Sama-sama enak

Coba kamu googling dengan kata kunci “cara meningkatkan manajemen waktu”. Kamu akan menemukan sebuah situs yang memuat tulisan 21 cara meningkatkan manajemen waktu. Mulai dari tidur tujuh jam, mengerjakan pekerjaan yang paling mudah terlebih dahulu, jangan terpaku pada daftar tugas, dan lain sebagainya.

Banyak sekali, ada 21 cara. Namun, kalau boleh meringkasnya, 21 cara itu bisa diperas menjadi satu cara saja, yaitu “sama-sama enak”. Kembali lagi, ini kalau saya pribadi, ya.

Dari semua cara yang dibagikan itu, semuanya fokus ke ke-aku-an, waktu, dan pekerjaan. Padahal, urusan waktu selalu berkaitan dengan manusia. Mulai pekerjaan, tugas kuliah, sampai senang-senang, semuanya berkaitan dengan orang lain. Kalau saya pribadi, pemikiran ini yang jadi patokan utama.

Kita pasti sebal sekali kalau disuruh menunggu. Bilangnya on the way, tapi ternyata lagi mandi sambil nyanyi-nyanyi. Lagu nggak karuan malah kayaknya kampungan. Lagi asyik nyanyi ada yang memanggil. Aku lempeng aja malah suara makin tinggi. Pintu digedor. Kepalaku nongol. Astagfirullah.

Iklan

Pak RW datang bawa polisi. Aku diseret dari kamar mandi. Tanpa handuk, tanpa baju. Kata mereka nenek sebelah mati. Waktu ngedenger aku lagi nyanyi. Karena suaraku jantung si nenek kumat lagi… ehhh, lho….

Intinya, sih, jangan jadi orang yang suka bikin orang lain menunggu. Ingat, kamu bukan kereta api yang selalu dinantikan di stasiun. Masih mending kereta api karena jam datangnya selalu tepat.

Sama-sama enak saja. Punya rasa rikuh atau nggak enakan itu terkadang perlu. Biar kamu tahu yang namanya budaya malu karena udah bikin orang lain menderita. Ingat, kamu bukan pemerintah. Ehh….

Nah, itu tadi dua tips sederhana soal manajemen waktu dari saya. Biasakan bikin kerangka untuk 24 jam harimu, jadikan budaya biar nggak mentok di niat, dan ingat kalau kamu itu hidup di tengah orang lain. Jangan bikin mereka kecewa. Gampang, kan? Gampang, dong. Masih susah soal-soal Fisika Ardhito Pramono.

BACA JUGA Waktu yang Tepat bagi Orang Indonesia untuk Menangis atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Terakhir diperbarui pada 17 September 2020 oleh

Tags: cara manajemen waktumanajemen waktutepat waktutips biar nggak ngaret
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

nu
Pojokan

Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, Begitu pun Warga NU

29 Januari 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kehangatan Tuan Rumah di Penutup Prambanan Jazz 2026.MOJOK.CO

Kehangatan Tuan Rumah di Penutup Prambanan Jazz 2026

6 Juli 2026
Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India menjalin kesepakatan kerja sama konservasi terhadap Candi Perwara Kompleks Candi Prambanan MOJOK.CO

Menerjemahkan Candi Prambanan sebagai Bukti Historis Hubungan Nusantara-India

8 Juli 2026
Polyworking (mencari pekerjaan tambahan atau sampingan) jadi pilihan rasional in this economy karena satu pemasukan gaji tak beri rasa aman MOJOK.CO

Polyworking: Pekerja Kurangi Waktu Luang demi Pekerjaan Tambahan dan Pesan untuk Lulusan Baru jika Sumber Gaji Tak Cukup 1

8 Juli 2026
Lulus dari Universitas Mataram lanjut ke University of Queensland Australia. MOJOK.CO

Kisah Awardee LPDP yang Tak Ingkar Janji: Dulu Hanya Bocah Penggembala Kuda, Kini Jadi Asisten Gubernur NTB

6 Juli 2026
Setiabudi Jakarta Selatan, Work Life Balance.MOJOK.CO

Kawasan Setiabudi Strategis buat Ngekos, tapi Menyimpan Masalah yang Menyiksa Perantau Gen Z Jakarta

7 Juli 2026
Rekonstruksi kasus penganiayaan pelajar berujung meninggal di Jalan Yos Sudarso, Gondokusuman, Kota Jogja (depan SMA 3 Yogyakarta) MOJOK.CO

Gambaran Jelas Penganiayaan Pelajar di depan SMA 3 Yogyakarta dalam 21 Adegan Rekonstruksi

9 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.