MOJOK.COOmongan Pak Jokowi, Pak Luhut Binsar Panjaitan, dan Pak Yasonna Laoly di tengah pandemi corona ini dianggap aneh, padahal tujuannya luar biasa baik. Kita saja yang kurang ilmu untuk memahami keanehan mereka.

Seperti yang sering saya tuliskan, para pemimpin bangsa itu adalah orang-orang linuwih, sakti. Mereka punya kemampuan weruh sak durunge winarah, kemampuan mengetahui sesuatu sebelum terjadi.

Sudah lama kita kehilangan sosok Ki Amien Rais yang mendadak silent setelah gelaran Pilpres 2019. Dan akhirnya, baru-baru ini, Ki Amien Rais muncul lagi dengan istilah “tantara Allah” untuk menyebut virus corona. Saya terpukau. Saya dibuatnya terpesona oleh junjungan saya ini. I Love Ki Amien Rais. Sering-sering, Ki, bikin pernyataan. Kami rindu.

Apa? istilah “tentara Allah” untuk corona kamu anggap aneh? Huh, kamu aja yang nggak tau apa-apa soal Ki Amien Rais. Beliau ini punya ilmu kanuragan tinggi. Ingat tidak, di Pilpres 2019 kemarin, Ki Amien Rais bisa mengintip ke laporan-laporan yang dibuat para malaikat untuk diserahkan kepada Gusti Allah? Ini bukan keanehan, Bung dan Nona.

Memang, tidak sembarang orang yang bisa memahami keanehan para pemimpin bangsa. Harus puasa mutih 100 hari dan diakhiri mandi besar dengan air 7 sumber. Kalau bisa melewati ujian ini, baru kalian bisa memahami keanehan-keanehan yang dibuat oleh pemimpin bangsa, yaitu Pak Jokowi, Yasonna Laoly, dan Pak Luhut Binsar Panjaitan.

Keanehan seperti apa, sih? Kira-kira maknanya apa?

Beberapa hari yang lalu, Pak Jokowi bilang kalau kekuatan virus corona ini dipengaruhi oleh cuaca. “Covid-19 ini kalau kita lihat dengan musim yang ada sekarang, cuaca juga sangat memengaruhi perkembangan Covid-19 ini,” kata Pak Jokowi, dikutip oleh CNBC.

Pernyataan itu didukung oleh Pak Luhut Binsar Panjaitan. “Indonesia sebenarnya diuntungkan, April mulai masuk kemudian humidity yang tinggi membuat Covid-19 relatif lebih lemah dibanding tempat lain,” kata Pak Luhut. Luar biasa, bukan. Selain menjadi Presiden, kedua orang ini juga ahli sains. Kita harus bangga.

Baca juga:  Jokowi Tetaplah Alumni 212, Disadari atau Tidak, Diakui atau Tidak

Konon, April ini, Indonesia akan masuk musim kemarau. Lantas, apakah virus corona akan mati di humidity tinggi atau di suhu panas?

Herawati Sudoyo, Wakil Kepala Bidang Penelitian Fundamental Lembaga Biologi Molekular Eijkman mengatakan belum ada penelitian soal suhu udara dapat membunuh virus corona. “Sampai sekarang belum ada penelitian mengenai peran dari suhu terhadap mati atau hidupnya virus corona,” kata Herawati. Lho, dari mana Pak Jokowi dan Pak Luhut tau kalau corona lemah di suhu panas?

Ini dia. Ini yang namanya weruh sak durunge winarah. Namanya juga orang sakti, punya mata dan telinga di mana-mana. Jadi, memasuki musim mudik, pemerintah, kan, nggak melarang. Cuma MUI aja yang gercep dengan bikin fatwa haram. Tapi, sejauh ini, bukankah yang diharamkan itu yang malah sering dilakukan? Hehehe….

Ingat ya, mudik itu boleh. Yang nggak boleh itu pulang kampung. Ini pun cuma disarankan. Nah, karena diizinkan, maka mudik akan terjadi menjelang lebaran nanti. Dengan begitu, banyak orang tertular corona. Pada akhirnya: mati!

Dengan begitu, kepadatan penduduk bisa dikurangi. Belanja negara untuk rakyat berkurang. Kalau rakyat berkurang mungkin Pemerintah baru berani bikin kebijakan karantina wilayah, alih-alih darurat sipil. Sebuah pemikiran yang keren sekali.

Nah, bagaimana dengan Pak Yasonna Laoly, salah satu menteri terbaiknya Pak Jokowi? Belum lama ini, Pak Yasonna Laoly pengin koruptor dibebaskan demi mencegah penularan corona di dalam penjara. Yang akan diberi “kelonggaran” adalah napi koruptor di atas usia 60 tahun.

Wah, sebuah kabar baik untuk idola kita semua, Duta Tiang Listrik Indonesia, Setya Novanto. Kabar baik pula buat Pak Surya Dharma yang korupsi dana haji. Pak Yasonna Laoly memang baik hati. Selalu memikirkan kesehatan orang lain, temannya.

Baca juga:  Sejarah Kata Jancuk: Muncul Gara-Gara Tank Belanda atau Romusha?

Saya bayangkan nanti setelah bebas, Pak Setya Novanto dan Pak Surya Dharma akan pulang ke rumah masing-masing. Disambut isak tangis bahagia oleh keluarga. Berpelukan. Tos-tosan. Salam-salaman. Cipika-cipiki sambil mengucap syukur dan terima kasih untuk Pak Yasonna Laoly.

Bukankah ini kebijakan yang baik? Kamu nggak suka ya lihat orang lain bahagia. Itu artinya kamu nggak tau kalau virus corona semakin berbahaya untuk lansia. Mereka di atas usia 60 tahun itu lebih rentan ketimbang napi-napi yang masih muda, bugar, dan mungkin namanya Doni Kepruk yang dipenjara karena malakin ibu-ibu pengajian.

Jadi, apa yang terjadi ketika napi berusia 60 tahun ke atas kena corona? Mati.

Bukankah ini cara mengatasi masalah padatnya penjara Indonesia yang belum bisa diatasi Pak Jokowi? Bahkan sekaligus mewujudkan mimpi banyak orang untuk melihat koruptor dihukum mati.

Sebuah kebijakan yang baik dari menterinya Pak Jokowi, bukan? Mari kita doakan terjadi.

BACA JUGA Surat untuk Opung Luhut Binsar Panjaitan yang Pengin Punya Senjata Nuklir atau tulisan-tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.