Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Jakarta Tidak Toleran? Jangan Khawatir, Ada Perajut Tenun Kebangsaan: Anies Baswedan

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
11 Desember 2018
A A
Anies Baswedan Jakarta Tidak Toleran MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Di tangan Anies Baswedan, Sang Perajut Tenun Kebangsaan, Jakarta pasti naik peringkat, dari tiga terbawa kota tidak toleran, masuk ke papan atas.

Beberapa hari yang lalu, Setara Institute merilis daftar Indeks Kota Toleran (IKT). Dari hasil survei didapat 10 kota di Indonesia yang dinilai paling toleran. Hasil tersebut didapat Setera Institute berdasarkan riset di 94 kota di Indonesia. Tujuan mereka merilis daftar IKT adalah untuk mempromosikan kota-kota yang dinilai mampu membangun toleransi.

Empat kriteria yang harus dimiliki oleh sebuah kota supaya bisa dinilai toleran, antara lain:

Pertama, pemerintah kota punya regulasi yang kondusif bagi praktik dan promosi toleransi. Kedua, pernyataan dan tindakan aparatur pemerintah kota tersebut kondusif. Ketiga, tingkat peristiwa dan pelanggaran kebebasan keberagaman rendah atau tidak ada sama sekali. Keempat, upaya dalam tata kelola keberagaman identitas keagamaan warganya dapat dinilai baik.

Berdasarkan hasil riset Setara Institute di 94 kota, didapat 10 kota yang layak dianggap paling toleran, yaitu Singkawang, Salatiga, Pematang Siantar, Manado, Ambon, Bekasi, Kupang, Tomohon, Binjai, dan Surabaya. Kota disebut pertama adalah yang paling toleran, dan seterusnya.

Nah, selain merilis daftar 10 kota paling toleran, Setara Institute juga merilis daftar 10 kota paling tidak toleran. Mereka adalah: Sabang, Medan, Makassar, Bogor, Depok, Padang, Cilegon, Jakarta, Banda Aceh, dan Tanjung Balai. Kota disebut paling akhir adalah yang paling tidak toleran, alias menempati posisi ke-94.

Dan, di sinilah perdebatan muncul. Menempati posisi ke-94, ada Tanjung Balai. Artinya, nomor 93 ditempati Banda Aceh, dan Jakarta duduk nyaman di peringkat ke-93. Sebagai ibu kota, masuknya Jakarta sebagai kota yang tidak toleran melahirkan banyak perdebatan. Ada yang maklum, ada yang sangsi. Biasa lah ya.

Tjahjo Kumolo, Menteri Dalam Negeri, mengaku sedih setelah membaca hasil riset Setara Institute yang menyatakan Jakarta ada di peringkat 92 dari 94 kota.

“Jakarta itu kan kota majemuk. Seluruh warga punya hak untuk tinggal dan datang di Jakarta. Jangan karena beda pendapat dan gubernur jadi seperti ini. Bayangkan tetangga bisa enggak kompak. Kan sedih sekali. Marilah kita dewasa, jangan pendekatan memecah belah,” ujar Tjahjo menyuarakan kesedihannya.

Mengapa Jakarta duduk di posisi ketiga terbawah? Bisa degradasi nih, kalau pakai bahasa sepak bola.

Halili Hasan, Direktur Setara Institute mengungkapkan bahwa pelanggaran kekerasan antarumat beragama ditemukan cukup tinggi di ibu kota dari November 2017 hingga Oktober 2018. Halili menambahkan bahwa, ruang masyarakat toleran untuk menyampaikan aspirasi pun sangat terbatas.

“Yang sering terjadi di Jakarta adalah ekspresi kelompok intoleran yang merepresentasikan gagasan mayoritarianisme, tetapi tidak dibarengi ketersediaan ruang untuk minoritas,” ungkap Halili kepada Tirto.

Menurut pengamatan Setara Institute, intoleransi di ibu kota tidak terlepas dari Pilkada 2017. Tingkat intoleransi meningkat sejak 2016 hingga 2017 karena permainan politik identitas yang saat ini tidak bisa diredam oleh gubernur.

“Persekusi oleh kelompok pembela Habib Rizieq misalnya, apakah ada pernyataan keras dari gubernur? Kan tidak pernah. Ujaran kebencian di masjid, apakah ada statement tegas dari seorang pemimpin tertinggi di Jakarta?” Kata Halili.

Iklan

Tingkat intoleran di Jakarta dan Indonesia sendiri memang meningkat pascagerakan 212 pada tahun 2016. Hal ini diungkapkan oleh Burhanuddin Muhtadi, peneliti Indikator Politik Indonesia. Sesuai survei yang dilakukan oleh Burhan lima bulan sebelum gerakan 212 tahun 2016, rata-rata tingkat intoleran mencapai 13,7 persen. Dua tahun kemudian, pada 2018, meningkat menjadi 31 persen.

Melihat data dan fakta tersebut, apakah warga DKI Jakarta, baik asli maupun KW perlu khawatir? Jawabannya: sans, tidak perlu khawatir. No worries, lur. Mengapa? Karena DKI Jakarta sekarang sudah dipimpin oleh Anies Baswedan, Sang Perajut Tenun Kebangsaan. Gubernur santun, Gubernur kite semua.

Sebagai pencetus istilah “Tenun Kebangsaan”, tentu tidak mungkin Anies Baswedan intoleran. Seorang pencetus gerakan yang sungguh indah dan jernih tidak mungkin mengizinkan persekusi terhadap warga minoritas. Anies Baswedan tidak mungkin membiarkan hate speech berkembang di masjid-masjid dan tempat ibadah lainnya.

Menurut Anies Baswedan, para pendiri bangsa ini sudah merajut tenun kebangsaan dengan keberagaman. Oleh sebab itu, tugas masyarakat Indonesia sekarang adalah merawat tenun kebangsaan tersebut. Ikhtiar itu berupa mempersatukan kebhinekaan.

Tahun 2017 yang lalu, Anies Baswedan bilang bahwa, “Republik ini tidak dirancang untuk melindungi minoritas. Tidak juga untuk melindungi mayoritas. Republik ini dirancang untuk melindungi setiap warga negara, melindungi setiap anak bangsa.”

Bagi Anies Baswedan, tenun kebangsaan dirajut dari sebuah kebhinekaan suku, adat, agama keyakinan, bahasa, serta geografis. Beliau tidak ingin tenun itu koyak karena beragamnya pemikiran. Setiap orang berhak memiliki pikiran yang berbeda dan negara tidak bisa mengatur ranah pemikiran setiap warganya.

Sungguh luar biasa pemikiran Anies Baswedan. Kita semua juga tahu bahwa beliau adalah orang yang konsisten dan pasti menjaga tenun kebangsaan di Jakarta selama menjabat sebagai gubernur. Kita tidak perlu khawatir. Dalam waktu sekejap, dengan iman dan ketakwaan yang penuh, Jakarta pasti bisa merangkak naik di daftar yang disusun oleh Setara Institute.

Kalau pakai bahasa sepak bola, Jakarta bakal merangsek ke zona Liga Champions. Atau bahkan menjadi juara seperti Persija Jakarta tempo hari.

Oleh sebab itu, Anies Baswedan pastinya juga bakal mewujudkan saran dari Andreas Harsono, peneliti Human Right Watch. Bagi Andreas, saat ini, yang perlu dibahas bukan cuma soal menurunnya tingkat toleransi di Jakarta, melainkan menemukan solusi karena belum ada upaya memulihkan secara serius.

Bagi Andreas, yang perlu dimiliki Anies Baswedan adalah keberanian moral, yaitu meminta maaf kepada Ahok. “Dengan meminta maaf kepada Ahok maupun orang-orang yang mendukung Ahok dan mengatakan bahwa itu (kampanye Pilkada 2017) sesuatu yang salah. Kalau dia berani melakukannya saya kira itu langkah yang besar sekali untuk memulihkan toleransi di Jakarta.”

Bagi Sang Perajut Tenun Kebangsaan, saran Andreas Harsono ini sangat mudah dilakukan. Januari 2019 nanti, Ahok bebas dari penjara jika mendapat remisi Natal 2018. Saat itu, saya yakin Anies Baswedan akan menjemput Ahok sendirian. Saya membayangkan keduanya akan berpelukan, cipika cipiki, lalu ngopi bersama.

Jangan-jangan, tidak ada kejelasan perihal siapa Cawagub Jakarta adalah karena Anies menunggu Ahok bebas. Ahh, betapa indahnya jika hal itu terjadi. Maka, no worries Jakarta, kalian sudah punya sosok Anies Baswedan. Intoleransi pasti dilibas!

Terakhir diperbarui pada 11 Desember 2018 oleh

Tags: ahokAnies Baswedanjakarta
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

mudik gratis Lebaran dari Pertamina. MOJOK.CO
Sehari-hari

Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya

19 Maret 2026
Gaji Cuma 8 Juta di Jakarta Jaminan Derita, Tetap Miskin dan Stres MOJOK.CO
Cuan

Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin

19 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO
Urban

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)
Pojokan

Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

16 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pendidikan karakter Sunan Ampel di Pesantren Ampeldenta Surabaya melalui halal food dan halal living MOJOK.CO

Rasa Sanga (6): Melalui Halal Food dan Halal Living, Sunan Ampel Membentuk Karakter Generasi Islam Berkualitas

13 Maret 2026
Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan Mojok.co

Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan

15 Maret 2026
Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Lebaran, mudik, s2.MOJOK.CO

Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah

13 Maret 2026
Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
Gen Z dapat THR saat Lebaran

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.