• 101
    Shares

MOJOK.COAtas imajinasinya yang out of the box, Amien Rais perlu dipertimbangkan Joko Anwar untuk menjadi penulis film horor, thriller, dan action.

Tahun 2017 yang lalu, film Pengabdi Setan garapan sutradara Joko Anwar menjadi film paling laris. Tercatat, pada tahun 2017 yang lalu saja, film bergenre horor ini sudah menembus 4 juta penonton atau lebih tepatnya 4.100.468. film ini merupakan remake dari judul yang sama, Pengabdi Setan yang tayang pada 1980.

Jika Pengabdi Setan versi 2017 distrudarai dan ditulis oleh Joko Anwar, skenario Pengabdi Setan 1980 ditulis oleh Subagio S dan distrudarai Sisworo Gautama Putra. Film horor garapan Joko Anwar pada tahun 2017 itu adalah satu dari sedikit film horor dengan kualitas yang layak diadu. Baik dari sisi penyampaian cerita, sinematografi, hingga penulisan naskah yang rapi.

Nah, masalahnya, rajin membuat film berkualitas dalam waktu yang singkat bukan pekerjaan mudah. Menjaga kualitas di film-film selanjutnya jelas lebih sulit ketimbang ketika membuat film “pelopor”. Hal ini ditekankan oleh Ernest Prakasa tempo hari yang mengatakan bahwa menjaga kualitas film sangat penting.

Jangan mentang-mentang punya duit lalu rajin membuat film setiap bulan, tetapi kualitasnya menyedihkan. Jika film digarap dengan serius, penonton akan datang dengan sendirinya. Oleh sebab itu, masa depan perfilman Indonesia akan selalu cerah.

Nah, saat ini, film bergenre cinta dan keluarga masih mendominasi di Indonesia. Satu dekade yang lalu, fulm horor sempat menjadi primadona. Menghiasi layar-layar bioskop di penjuru Indonesia. Sayangnya, kualitas yang tidak dijaga membuat film horor bukan soal soal setan, tetapi konten cabul yang justru diperbanyak.

Jengah, bosan, penonton mulai meninggalkan layar film Indonesia. Terlebih ketika itu, kualitas film superhero dari Hollywood mulai menanjak. Supaya genre film horor tidak lagi tenggelam dan kehilangan penonton, menjaga kualitas sejak penulisan naskah urgen dilakukan. Untuk ini, dari Joko Anwar hingga Mo Brothers, perlu mempertimbangkan satu nama ini.

Satu nama dari dunia politik dengan imajinasi sekelas Jeffrey Reddick yang menulis naskah Final Destination (2000) atau Patrick Melton dan Marcus Dunstan yang menggarap empat seri film Saw. Satu nama ini juga berada dalam satu level dengan Kouji Suzuki, penulis novel Ring yang diadaptasi menjadi film dengan judul yang sama dan menjadikan tokoh Sadako sebagai legenda.

Baca juga:  Gara-Gara Amien Rais, 3 Lagu Ini Tidak Cocok Dinyanyikan Aktivis ’98

Satu nama yang saya maksud adalah Amien Rais, Ketua Dewan Kehormatan PAN. Buah pikiran Amien Rais, atas imajinasinya yang mendekati film-film horor atau thriller, layak dipertimbangkan Joko Anwar untuk menulis film horor garapannya selanjutnya. Apa alasan Amien Rais cocok menjadi penulis film bergenre horor atau thriller?

Tentu saja dari imajinasi-imajinasi yang out of the box, mendobrak pakem yang ada. Sungguh epic jadinya ketika buah imajinasi diangkat ke layar lebar. Mungkin bisa menyaingi kesuksesan film G30S/PKI.

Imajinasi Amien Rais yang pertama adalah ketika dirinya bernazar bakal jalan kaki dari Yogyakarta menuju Jakarta apabila Jokowi menang di Pilpres 2014. Amien Rais, yang sudah tidak bisa dikatakan muda, berjalan ratusan kilometer untuk memenuhi nazarnya. Ehh, beliau sudah memenuhi nazarnya, kan?

Kamu bisa membayangkan, saat beliau berjalan kaki dari Jogja menuju Jakarta dengan dada terbusung, ketika sampai di Jalan Karanggetas, Kota Cirebon, Amien Rais tiba-tiba waspada. Jalan Karanggetas di Cirebon punya mitos berbahaya, terutama bagi pejabat-pejabat yang angkuh.

Konon, pemimpin atau pejabat yang angkuh melintas di jalan tersebut jabatannya akan runtuh. Bahkan, kesaktian yang dimiliki sang pejabat akan lenyap. Latar tempatnya adalah

Jalan Karanggetas di malam hari. Menjelang tengah malam, jalanan itu terasa lengang. Amien Rais dibuatnya waspada. Perubahan hawa dari dingin ke panas terjadi sangat cepat, padahal saat itu sedang musim hujan. Tiba-tiba, dari arah samping, muncul jejadian, penunggu Karanggetas hendak melucuti kesaktian Amien Rais.

Namun, berkat keluhuran jiwanya, Amien Rais bisa bertahan dari serangan-serangan ghoib. Setelah beliau mampu melewati Jalan Karanggetas, mitos yang melegenda itupun luruh. Luar biasa!

Imajinasi kedua yang bisa dijadikan film thriller adalah ketika beliau berkata bahwa tentara Cina sudah siap menduduki Indonesia. “Sebetulnya negeri tirai bambu sedang melaksanakan politik mengembangkan program hidup karena sudah pengap, maka dia melirik negara yang kira-kira bisa diduduki,” ungkap Mbah Amien seperti dikutip oleh merdeka.com.

Tak lupa, beliau memberi contoh. Beliau mengaku pernah dibisiki oleh salah satu petinggi TNI supaya aksi bela Islam tidak terpancing provokasi karena di sini sudah ada tentara Cina yang siap-siaga.

Baca juga:  Amien Rais: Tidak Ada Lagi Cebong dan Kampret, Adanya Tinggal Cebong Bersayap

“Kalau sampai merusak toko dan lain-lain yang amankan bukan TNI, tapi tentara Cina, yang ada di Indonesia dan ada puluhan ribu pucuk senjata di kota kota besar. Ini bukan hoaks ini bisa dikutip. Jadi saya kalau ngomong ada dasarnya bukan genderuwo, bukan sontoloyo, mari kita tabok, enggak ada,” ujar Amien Rais.

Pembaca, ingat! “Ini bukan hoaks ini bisa dikutip.” Ini kalimat dari beliau sendiri.

“Jadi ini bukan hoaks kita dikatakan bahwa Cina membuat negara yang dilewati ini supaya masuk ke perangkap Cina, akhirnya didikte diminta pelabuhannya kemana mana bahkan Pakistan sekarang komando ekonominya dipegang Beijing,” lanjut Mbah Amien.

Bagaimana, mas Joko Anwar, ini info dari A1, info valid yang meluncur langsung dari mulut Dewan Kehormatan PAN. Masak kamu nggak percaya sama ketua kehormatan. Jangan kurang ajar!

Ini kalau dibuat film thriller atau action, pasti bisa menembus layar Hollywood. Bisa menempatkan Indowood satu level dengan Bollywood. Bisa kamu bayangkan adegan-adegan heroik di jalan-jalan Jakarta. Seruan jihad membahana dari Sabang sampai Merauke.

Semua golongan dan agama bersatu untuk menjaga kemerdekaan Indonesia. Amien Rais sebagai pemersatu. Luar biasa, bukan, narasinya. Siapa tahu, tahun 2024, Mbah Amien bisa maju di Pilpres 2024 berpasangan dengan Ferdinand Hutahaean, si pengamat stuntman.

Semoga berkat tulisan ini hati Joko Anwar terketuk untuk menggandeng Amien Rais sebagai penulis naskah. Ini berkahnya besar, lho. Ganjarannya surga. Kan kita perlu menghormati orang tua. Maaf, sekadar mengingatkan.

  • 101
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles