MOJOK.COPendukung Prabowo dan Jokowi sembarangan menentukan nasib Habib Rizieq. Siapa tahu, Pak Habib sendiri sebetulnya nggak mau pulang ke Indonesia.

Dua teman yang habis berantem lalu mau langsung maaf-memaafkan itu jarang banget. Apalagi yang namanya rekonsiliasi. Ya intinya sih mirip, cuma istilahnya saja yang bikin berat betul untuk dibayangkan bisa terjadi. Kalau levelnya teman rebutan mangga buat dicolong sih maaf-maafan bisa cepet, nah kalau rebutan kursi? Kursi presiden.

Proses rekonsiliasi antara Jokowi dengan Prabowo ini ribet betul. Apalagi ketika anak-anak buah mereka udah ikut nimbrung urun pendapat. Saya rasa antara Prabowo dan Jokowi sendiri tidak pernah ada so called dendam. Keduanya bukan anak smp mutungan karena kalah main judi tamplekan stiker logo klub balbalan. Jadi suram ketika pembisik dan pendukung malah lebih berisi ketimbang Prabowo dan Jokowi.

Salah satunya ketika Dahnil Anzar Simanjuntak, yang kok ya kebetulan menjabat sebagai Jubir Pemenangan Prabowo-Sandi mengajukan sebuah “pandangan” yang sangat visioner, mengejutkan, sekaligus merepotkan. Dahnil minta Habib Rizieq dipulangin jika mau rekonsiliasi. Nah, kan. Yang iseng memang bukan aktor utama dari gegeran Pilpres kemarin.

“Ini pandangan pribadi saya, bila narasi rekonsiliasi politik mau digunakan, agaknya yang paling tepat beri kesempatan kepada Habib Rizieq kembali ke Indonesia,” begitu twit Dahnil.

Tiada disangka, syarat tersebut ternyata kok ya diakui oleh Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani. Dirinya menyebut bahwa kepulangan Habib Rizieq memang merupakan syarat rekonsolisiasi dari kubu Prabowo kepada Jokowi.

Yang awalnya kayak syarat iseng malah dianggap serius. Kayak orang-orang lagi ngumpul terus tiba-tiba ada yang ngomong, “Sewu-sewu dadi banyu.” Seruan bercanda yang direspons secara masif oleh anak nongkrong pengkolan secara antusias.

Ini para pendukung Prabowo dan Jokowi memang egois. Keduanya nggak pernah ngajak diskusi Habib Rizieq, eehh sok-sokan memutuskan masa depan Pak Habib. Kurang ajar betul, siapa tahu, Pak Habib Rizieq sendiri sebenarnya nggak mau pulang, apalagi diseret-seret ke panggung politik. Dasar kalian egois, nggak mau memahami isi hati Pak Habib.

Baca juga:  Ganjar Tidak Menang Telak di Pilkada Jateng, Gerindra Optimis Prabowo Presiden Tahun Depan

Nah, Pak Habib Rizieq, saya berdiri di pihak Bapak. Saya maklum kok kalau Pak Habib nggak mau pulang tapi sungkan untuk bilang. Buat Kampret dan Cebong, saya kasih 5 alasan mengapa Pak Habib memang nggak usah pulang sekalian.

1. Pak Habib Rizieq nggak mau merepotkan banyak orang.

Saya yakin kebijaksanaan Pak Habib Rizieq itu sundul langit. Kalau dirinya malah jadi penghambat rekonsiliasi, menghambat perdamaian, saya yakin di dalam hatinya bergejolak. Sebagai orang beriman, merepotkan orang lain memang bikin gundah hati, nggak baik.

Namun, sebagai orang Jawa–meski Pak Habib Rizieq lahir di Jakarta–pasti ada rasa sungkan yang sangat besar. Sungkan melerai anak-anak berisik pendukung copras-capres yang hobinya adu retorika itu. Oleh karena itu, saya wakilkan saja. Karena nggak mau merepotkan banyak orang dan supaya rekonsiliasi cepat terjadi, Pak Habib nggak mau pulang. Titik.

2. Siapa bilang zona nyaman itu jelek?

Kalian para pendukung Prabowo dan Jokowi tahu nggak sih soal zona nyaman? Fourtwnty bilang:

Pagi ke pagi ku terjebak di dalam ambisi
Seperti orang-orang berdasi yang gila materi
Rasa bosan membukakan jalan mencari peran
Keluarlah dari zona nyaman

Halah, Mbel. Nyuruh-nyuruh orang keluar dari zona nyaman. Gimana kalau anak Indie itu yang keluar dari zona nyaman buat contoh. Dari musisi jadi peternak undur-undur, misalnya. Mau nggak?

Orang kalau sudah betah itu ya jangan diganggu. Apalagi Pak Habib Rizieq sudah berada di tanah leluhurnya. Mungkin, selama ini, beliau sudah merasakan zona nyaman yang damai dan bikin tenteram hati karena dekat dengan leluhur. Kalian ini nggak peka betul. Dasar cowok.

3. Habib Rizieq sedang bersabar.

Saya memandang Pak Habib Rizieq ini adalah orang yang sabar. Visioner. Ia begitu lama tinggal di Arab Saudi pasti ada alasannya. Dan itu bukan soal copras-capres. Saya yakin beliau sedang menunggu momen bukaan CPNS cabang Arab Saudi posisi atase kedutaan Indonesia untuk Arab Saudi.

Atase itu ahli dalam bidang tertentu yang diperbantukan di sebuah kedutaan untuk mewakili sebuah negara dalam mengurus sesuatu. Mengamati masalah langsung dari sumbernya. Ini istilahnya “membaca buku babon” atau membaca dari sumber paling utama.

Baca juga:  TGB Akhirnya Mundur dari Partai Demokrat, Jalan Menuju Cawapres Semakin Terbuka

Masalah apa yang sedang dipelajari Pak Habib Rizieq secara mendalam? Sudah pasti soal umrah dan haji. Lima tahun lagi, bisa jadi terbit sebuah tesis brilian dari Pak Habib yang mengupas soal umrah dan haji.

4. Indonesia itu nggak ramah sama ulama.

Indonesia itu nggak ramah sama ulama. Sudah betul Pak Habib Rizieq nggak usah pulang. Suram, Pak, di sini. Baru ceramah saja didatangi banyak orang. Dimarah-marahin. Ulama-ulama cemerlang seperti Felix Siauw dan Rahmat Baequni, misalnya. Mereka malah dibully sama banyak orang. Mereka kasihan betul, padahal kan cuma berbagi ilmu yang begitu dalam dan menyentuh hati itu.

Yang parah itu Tengku Zulkarnain yang aktif berdakwah di Twitter, Pak Habib. Kasihan saya lihatnya, dituduh sebar kabar kebohongan, padahal salahnya cuma sedikit. Cuma enggak benar aja cuitannya.

Pak Habib, Indonesia itu juga semakin sempit cara pandangnya, beda dengan Arab. Ya Allah, Pak Habib, di beberapa daerah, anak-anak nggak boleh main PUGB, padahal di Arab malah ada kompetisinya. Betul-betul, sudah pas kalau Pak Habib Rizieq menetap di Arab yang bisa memadukan semangat agama dengan modernitas dunia. Subhanallah, jadi pingin ke sana.

5. Peluang bisnis lebih bagus di Arab.

Pak Habib Rizieq, sudah, lebih baik nggak usah pulang. Bisnis di Arab Saudi itu juga menjanjikan, kok. Misalnya, usaha susu unta. Jangan salah, susu unta ini diklaim lebih baik ketimbang susu sapi atau kambing.

Ada sekitar tujuh kelebihan susu unta, yaitu untuk pengobatan diabetes, meningkatkan kekebalan tubuh, membantu proses pertumbuhan, merangsang sirkulasi darah, berguna untuk pengobatan autisme, membantu mengurangi risiko alergi, dan baik untuk jantung. Wah, jika bisa diproses secara benar, Pak Habib bisa ekspor susu unta ke penjuru dunia.

Kalau udah sukses bisnis susu unta, Pak Habib Rizieq bisa geser ke bisnis kurma. Komplet: peternak, petani, dan ulama. Dah, nggak usah pulang, Pak Habib.



Tirto.ID
Loading...

No more articles